
Kemarahan yang membuat Zayn tak ingin lagi mengurung waktu. Pria itu kini sudah berada di bandara untuk pulang. Lelah di tubuhnya tak ia rasakan sama sekali. Rindu yang begitu besar untuk Calvina terpaksa ia tahan dahulu. Tak ada yang lebih penting dari pada keselamatan sang istri. Sebagai suami yang begitu kecewa pada dirinya sendiri tentu membuat Zayn semakin meluap amarahnya. Istrinya hampir di lecehkan oleh mertuanya sendiri.
"Kalian akan tahu akibatnya. Aku telah salah menolongmu, Rista. Andai aku tahu seperti ini balasan kalian, aku akan membiarkanmu mati saat itu." umpat Zayn.
Tanpa ia ketahui jika semua keluarga di rumah sakit tampak mencemaskan kepergian Zayn. Ponselnya bahkan tak menandakan jika pria itu berniat memberi kabar pada Calvina. Dering di saku pria itu terus saja di abaikan oleh Zayn sampai akhirnya ia menonaktifkan ponsel miliknya.
"Bu, bagaimana ini? Zayn bisa bertindak bodoh nantinya." tutur Calvina cemas.
Zayn adalah suami yang sangat jarang untuk marah. Namun, jika itu menyangkut Calvina bisa saja pria itu kehilangan akal melampiaskan semuanya. Gauri meminta sang anak untuk tenang. Ia akan memberi kabar pada sang besan di Indonesia.
Singkat cerita, setibanya di Indonesia. Irene menunggu sang anak bersama suaminya di rumah. Mereka bahkan mengerahkan semua anak buah untuk menunggu Zayn di bandara. Namun, entah bagaimana cara pria itu justru semua anak buah yang menghadangnya jadi ikut oleh perintahnya.
"Sekarang kita ke kantor polisi. Dan kalian segera ambil uang satu koper." perintah Zayn begitu sigapnya. Tak ada yang membantah dan bergegas dengan tugas mereka masing-masing.
"Buka pintunya!" Zayn berteriak dan saat itu juga pintu sel terbuka.
Empat orang pria di dalam di keluarkan dengan cepat. Tersisa satu pria tua. Pria yang menjadi tujuan Zayn pulang kembali ke Indonesia menahan rindunya dari sang istri.
Masuk, Zayn sama sekali tak berkata apa pun. Hanya kaki dan tangan yang bergerak begitu cepat menyerang tubuh pria tua tak berdaya itu. Candra benar-benar bukanlah lawan untuk Zayn yang masih perkasa. Namun, kesalahan membuatnya harus bisa menghadapi serangan Zayn mampu tidak mampu.
Ruangan yang tidak begitu besar kini terlihat beberapa cipratan darah menempel di dindingnya. Suara erangan kesakitan dan meminta ampun beberapa kali terdengar. Tangis darah keluar dari kedua mata pria tua yang memancing amarah Zayn. Tak hanya kesakitan yang terdengar. Gemerutuk tulang seperti patah terdengar saat tangan Zayn memutar kepalanya. Wajah yang tak berbentuk sama sekali tak membuat Zayn iba.
"Tolong! Hentikan! Aku mohon hentikan!" rintih pria itu.
__ADS_1
"Argh!" Lagi-lagi Candra memekik sakit. Pandangannya kini memudar seiring mata yang tak bisa terbuka lagi. Tetesan darah mengalir di wajahnya.
Melihat yang ia serang tak bergerak sama sekali, Zayn melempar tubuh itu ke lantai. Candra pingsan membuat Zayn meninggalkan ruangan itu. Satu koper uang yang ia perintahkan sudah di berikan pada anak buahnya pada pihak kepolisian. Sebagai tanda untuk sering-sering memberi hukuman pada pria tua itu. Nyatanya semua yang ia lakukan hari ini bukanlah akhir dari hidup Candra.
"Tidak semudah itu kau lepas dariku. Kau sudah berani menatap istriku saja itu sudah kesalahan terbesar." ujar Zayn.
Di sini, Prayan menghubungi orang kepercayaannya untuk menanyakan Zayn. Sebab seharusnya penerbangan Zayn sudah sejak beberapa jam lalu tiba di Indonesia.
"Dimana, Zayn? Mengapa kalian belum memberi kabar?" tanyanya tak sabar.
"Kami baru dari kantor polisi, Tuan. Ini dalam perjalanan untuk pergi makan. Tuan Zayn ingin makan dulu baru pulang." Prayan dan Irene sama-sama tercengang mendengar ucapan sang anak buah.
"Saya memerintahkan kalian untuk membawa anak saya pulang. Bukan menemani perjalanannya." sahut Irene yang sudah mengambil alih ponsel sang suami.
"Maafkan kami, Nyonya." Segera panggilan pun terputus. Irene menghela napas kasar. Meski tak tahu apa yang terjadi, mendengar jika mereka dari kantor polisi sudah jelas jika Zayn telah memberi pelajaran pada Candra.
"Mau bagaimana lagi, Bu? Sudah terlanjur kok. Biar saja lah lagi pula Candra memang harus mendapat pelajaran kan?" tutur Prayan pasrah.
Mereka hanya tinggal menunggu keterangan Zayn setelah tiba di rumah. Irene berniat ingin pergi ke rumah sang menantu. Namun, Prayan menahannya. Zayn dan Rista harus menyelesaikan masalah mereka berdua. Toh perpisahan keduanya juga memang harus terjadi. Bagaimana pun Rista tidak pantas untuk Zayn.
"Ini salahku, Ayah. Seharusnya Zayn tidak menikah dengan wanita itu. Seandainya waktu bisa di putar, tidak apa jika anak kita bersedih terus. Toh Calvina akan datang di waktu berikutnya. Bukan justru seperti ini. Mereka malah jahat pada menantu kita." Irene begitu menyesal. Di awal pernikahan Zayn dan Rista, dialah penyebab ini semua terjadi.
Andai sedikit saja lebih sabar mungkin tak akan ada masalah pada pernikahan Zayn dan Calvina.
__ADS_1
Usai makan mengisi tenaganya, Zayn langsung berdiri meninggalkan semua anak buahnya.
"Kalian pulanglah kembali. Aku harus menemui istriku di rumahnya." Tak ada yang berani menolak perintah Zayn. Mereka hanya bisa diam dan menunduk patuh.
Zayn tidak mau tahu bagaimana urusan mereka pada kedua orangtuanya. Pria tampan itu melajukan mobil bersama satu orang supir. Rumah Candra yang kini menjadi tempat tinggal Rista yang Zayn tuju. Sekali pun ia marah pada sang istri, sang anak buah selalu memantau semua pergerakan wanita itu selama mereka masih suami istri.
"Mas Zayn..." tegur Rista kaget saat ia baru saja hendak keluar menjemput sang anak sekolah. Zayn datang tanpa suara. Matanya menatap dalam pada wanita yang masih sah menjadi istrinya itu.
Pakaian berantakan namun terkesan menambah aura tampan pria beristri dua itu. Zayn memang benar-benar tampan bagaimana pun keadaannya. Dan itu membuat Rista tanpa sadar meneguk kasar salivahnya.
"Dia suamiku. Aku tidak ingin berpisah dengan Zayn." gumam Rista.
"Restu sudah di jemput oleh anak buahku ke rumah Ibu." sahut Zayn memberi tahu. Ia akan meminta waktu bersama Rista untuk membicarakan masalah mereka. Bagaimana pun juga hari ini mereka harus bisa berpisah dan surat perceraian harus segera ada. Zayn tak mau lagi mengulur waktu.
Ia melangkah masuk ke rumah yang tidak begitu rapi. Rista masih mencicil membersihkan rumah itu. Zayn duduk di sofa masih dengan perasaan yang berusaha tenang.
"Apa sejahat itu kalian pada Calvina?" tanya Zayn sontak membuat Rista tercengang kaget.
"Mengapa?" tanya Zayn kembali.
Kedua mata mereka saling bertukar pandang. Bukan pandangan hangat. Namun, pandangan yang sangat menyedihkan. Rista sangat sedih ketika akhirnya Zayn tahu semuanya. Dan Zayn sangat kecewa pada wanita yang sudah berusaha ia tolong dari awal pertemuannya.
"Maafkan aku, Mas. Itu semua terjadi di luar kendaliku..." Rista menunduk meneteskan air mata.
__ADS_1
Benar, wanita itu tidak berbohong. Semua yang terjadi memanglah di luar kendalinya. Ia hanya meminta sang ayah untuk menahan Calvina. Setidaknya sampai ia dan Zayn saling mencintai begitu dalam. Mungkin dengan begitu pernikahannya dengan Zayn akan tetap aman. Dan untuk sang ayah, Rista tak pernah menyangka jika pada akhirnya pria tua itu berniat melecehkan Calvina.
Kepalan tangan Rista lihat di kedua tangan sang suami. Zayn tengah menahan amarahnya. Andai ia tak mengingat jika Rista adalah wanita, mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan pada Candra. Dan di tangan itu Rista melihat jejak darah. Wajahnya seketika ketakutan. Ia takut melihat tangan Zayn yang sudah seperti habis memukul seseorang.