Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Insiden Di Pemakaman


__ADS_3

Kegelisahan dalam pernikahan Zayn dan Rista kini sudah berjalan hingga tiga hari lamanya. Keduanya saling diam dan menjaga jarak semenjak momen adu mulut keduanya terjadi. Zayn akui dirinya salah, begitu pun Rista yang sadar akan kelalaiannya menjadi seorang ibu. Restu yang menjadi korban hingga jatuh sakit melihat kehidupannya yang terasa berubah.


Rintih hujan sejak subuh kini sudah mulai berhenti. Suasana yang terasa dingin terpaksa Rista harus bangun dari tempat tidurnya. Wanita itu bergegas bangkit dari pembaringan ketika mendengar keluhan sang anak.


"Ibu...dingin. Dingin." ucap Restu terdengar bergetar. Dengan cepat Rista duduk dan memeriksa tubuh sang anak. Matanya melebar.


"Restu! Sayang, kamu demam, Nak? Ya Tuhan ada apa ini?" Frustasi wanita satu anak itu sampai mengusap wajahnya kasar. Belum usai satu masalah kini satu masalah lagi datang padanya.


Tubuh Restu terus bergetar dan itu membuat Rista semakin panik. "Kamu bertahan yah? Ibu akan segera kembali. Ibu akan panggil Ayah dulu." ujar Rista berlari keluar kamar sang anak. Yah, sejak ia dan Zayn tak bertegur sapa, Rista memilih tidur di kamar sang anak. Baginya Restu adalah sumber kekuatannya saat ini. Di kala semua orang yang ia sayangi menghilang begitu saja.


"Mas! Mas Zayn!" teriak Rista beberapa kali memanggil nama sang suami. Ketika tangannya berhasil membuka daun pintu, kamar tampak sunyi. Seprai di atas kasur pun rapi tak tersentuh. Entah kemana pria itu. Kamar mandi ia periksa juga tak ada orang.


Beberapa sudut ruangan Rista periksa hingga ia yakin jika sang suami benar-benar sudah tidak di rumah.


"Maaf, Nyonya. Tuan sudah pergi sejak tadi masih hujan-hujan." Salah satu pelayan datang menghampiri Rista.


Tak punya waktu banyak wanita itu bergegas membawa sang anak ke rumah sakit bersama pelayan. Di sepanjang jalan hatinya semakin sakit melihat keadaan Restu saat ini yang sakit tanpa kehadiran Zayn di sisi mereka.


"Apa wanita itu benar-benar sudah kembali? Mengapa Mas Zayn berubah sekali?" gumam Rista dalam hatinya.


Tanpa ia ketahui jika di sini tepatnya di pemakaman kedua anak Zayn dan Calvina, dua sosok yang tak pernah saling bertemu akhirnya berada di satu tempat yang sama.


"Zayn..." bibir ranum milik Calvina bergumam lirih kala melihat punggung seorang pria yang sedang jongkok di makam kedua anak mereka.

__ADS_1


Langkah cepat ingin Calvina lanjutkan tetapi ia sadar jika saat ini dirinya tak boleh ada di depan sang suami. Hanya berdiri mematung memperhatikan semua pergerakan sang suami dari jarak yang tidak begitu jauh.


"Tunjukkan dimana Mamah kalian pada Papah, Nak. Bantu Papah menemukan Mamah kalian. Apa kalian marah pada Papah? Sumpah demi apa pun Papah sangat mencintai Mamah kalian sampai detik ini pun." ujar Zayn sembari mengusap papan nama sang anak yang terukir indah di depannya.


Calvina meneteskan air mata mendengar ucapan sang suami. Melihat Zayn yang mengusap-usap kelopak bunga indah yang ia taburkan barusan, Calvina hampir lepas kendali mendekati sang suami. Hatinya terenyuh melihat sikap Zayn yang masih sama seperti dulu. Calvina ingin menangis di pelukan sang suami dan melampiaskan semua kesedihannya selama ini.


"Aku mencintaimu, Zayn. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa melupakanmu sampai kapan pun." gumam Calvina dalam hati. Matanya yang terus memperhatikan Zayn menangis di sana membuat Calvina terlonjak kaget saat tubuh tinggi tegap itu bergerak untuk berdiri.


Calvina melebarkan pupil matanya dan segera berlari walau pun tubuhnya hampir terjatuh karena terkejut.


"Aw..." pekiknya tertahan.


"Calvina!" Zayn menoleh saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu.


"Maafkan aku, Zayn." Di tengah air mata menetes, Calvina memungkam bibirnya agar tak bersuara apa pun lagi. Ia takut jika Zayn mengetahui dirinya dan semua akan kacau saat ini.


Tapi sayang, kepanikan Calvina justru meninggalkan satu jejak yang membuat Zayn semakin percaya jika ada Calvina di dekatnya.


"Bunga Lily dan mawar? Lily putih dan mawar kuning? Calvina...ini bunga kesukaannya dan Flora. Benar, ini benar bunga yang Calvina bawa untuk Flora." Zayn sibuk berbicara sendiri ketika mengambil buket bunga yang hampir ia lewati saat berjalan mencari sang istri.


Dan hal itu terlihat oleh Calvina yang memperhatikan di balik pohon. Wanita itu tak bisa melakukan apa pun selain menggelengkan kepala berharap semua tak terbongkar secepat ini.


"Calvina!" panggil Zayn berteriak. Pria itu tak perduli ketika semua mata memandang aneh ke arahnya. Di pemakaman pria itu terus berlari kesana kemari memanggil nama sang istri. Bagai air yang terbawa ombak kesana kemari, Zayn seperti kehilangan arah.

__ADS_1


"Calvina, aku mohon keluarlah! Aku tahu kau masih di sini." ujar Zayn berteriak lagi.


Sampai akhirnya ia di hampiri oleh seorang bocah kecil yang berlari ke arahnya.


"Paman, kemarikan bunga itu. Itu milikku." Zayn tertunduk melihat sosok kecil yang berani bicara padanya dan meminta bunga di tangannya.


"Bunga itu milikku. Kembalikan, Paman." Kembali bocah itu bersuara. Akhirnya Zayn pun menyerahkan bunga dengan wajah kecewa.


Jika anak ini mengakui bunga itu adalah miliknya, maka Calvina tidak ada di sini. Lemas tangan Zayn menyerahkan bunga dan memperhatikan kemana langkah bocah itu pergi. Tepat satu makam yang bertuliskan nama perempuan menjadi tujuan bocah itu.


"Apa aku terlalu berlebihan?" ujar Zayn melangkah lemas pergi meninggalkan makam.


Wajahnya penuh kekecewaan yang tak bisa lagi di artikan. Calvina bagai harapan palsu untuk bisa Zayn lihat saat ini. Semua perasaannya seakan mengatakan jika Calvina benar masih hidup. Tapi, semua perasaan itu terkalahkan oleh kebenaran yang ia temukan.


"Terimakasih yah, dek?" Calvina datang mendekati anak kecil yang mau membantunya barusan. Selembar uang ia berikan dan anak kecil itu sangat senang mendapatkannya.


"Terimakasih Kakak cantik." serunya bahagia. Calvina pun terkekeh di tengah kesedihannya saat ia di panggil kakak cantik.


Kemudian ia lanjut datang mengunjungi makam sang anak dengan bunga yang ia ambil kembali.


"Sayang, maaf yah bunganya agak rusak. Mamah teledor tadi. Kalian pasti senang kan Mamah dan Papah datang di waktu yang hampir bersamaan?" tutur Calvina.


"Mereka tentu tidak akan senang." Ucapan yang terdengar dari arah belakang sontak membuat Calvina melebarkan pupil mata terkejut. Setahunya Zayn sudah pulang dengan ia memastikannya sendiri. Bagaimana mungkin ada yang bersuara di belakangnya saat ini?

__ADS_1


__ADS_2