
"Hai, selamat pagi istriku..." Sapaan ceria di seberang telepon membuat Calvina hanya bisa tersenyum lebar.
Ia nampak malu ketika melihat di sana juga ada Restu yang menatapnya dengan wajah hangat. Bersyukur Restu bukanlah anak yang bisa menghalangi jalan hubungan mereka berdua. Justru Restu ikut senang.
"Zayn, kamu bukannya bersiap ke kantor malah menelponku." ujar Calvina.
"Aku akan ke kantor setelah memastikan Rista sudah dekat, Sayang. Lagi pula aku ingin menyapa wanitaku dan juga calon anakku." Memerah wajah Rista mendapat panggilan seperti itu dari sang suami. Bahkan Restu yang tak mengerti ikut tertawa geli mendengarnya.
Tak lama berlalu akhirnya pintu ruang rawat Restu di ketuk. Zayn tahu itu adalah anak buah yang memberi kabar jika Rista sudah akan tiba sebentar lagi. Bergegas pria itu pamit untuk pergi.
"Ayah kembali lagi bukan?" tanya Restu menatap dalam san ayah.
Zayn mengangguk. "Tentu Ayah Zayn akan kembali temani Restu, Sayang." Bukan Zayn yang menjawabnya. Melainkan Calvina di panggilan video itu. Restu sontak tersenyum padanya.
"Ayah kerja dulu yah? Kamu lekas sembuhnya." Restu senang mendapat perhatian dari Zayn.
__ADS_1
Singkat cerita pintu ruang rawat yang baru tertutup kini terbuka kembali. Menandakan ada orang yang hendak masuk. Restu tahu itu adalah sang ibu.
"Restu bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanyanya dengan perhatian.
Restu tersenyum. "Aku baik-baik saja, Bu. Sebentar lagi aku harus sembuh. Biar bisa cepat besar dan bisa gendong adek setelah dia lahir nanti." Tiba-tiba Rista terkejut mendengar ucapan sang anak.
Ia menggeleng tersenyum bingung. "Kamu bicara apa, Sayang? Ibu tidak hamil atau pun punya anak lagi. Adek siapa yang kamu maksud?" tanyanya dengan sabar.
Entah mengapa mendengar ucapan sang anak hati Rista mendadak perih. Tak tahu apa arti dari semua perasaan itu.
Berbeda dengan Rista yang sangat berubah. Wajah segar sehabis mandinya pagi ini mendadak mendung. Matanya seolah ingin menjatuhkan jutaan liter air mata.
Ia terduduk di sisi ranjang sang anak, Restu hanya diam memperhatikan sang ibu yang tak menunjukkan ekspresi sebahagia dirinya. Dalam hati Rista betanya-tanya tentang kebenaran ucapan sang anak. Rasanya sulit percaya apa yang ia dengar barusan.
"Ibu, apa aku boleh membersihkan gigi lalu sarapan?" tanyanya dengan wajah bingung. Rista sama sekali tak menghiraukan dirinya. Wanita itu diam menatap kosong ke depan.
__ADS_1
"Ibu," Kembali Restu memanggilnya.
"I-iya, Nak?" sahut Rista terkejut.
Air mata jatuh tiba-tiba tanpa bisa Rista tahan lagi. Ia meraih tubuh Restu yang duduk di sampingnya dan memeluknya erat. Tangis pun pecah di sana tanpa suara terdengar sama sekali. Restu terdiam merasa bingung apa kesalahan yang ia perbuat pada sang ibu.
"Bagaimana mungkin dia hamil? Zayn sudah benar-benar bukan milikku lagi. Aku harus bisa merelakannya. Aku harus bisa mengikhlaskannya, Tuhan." Sulit Rista menahan perasaan yang terlalu dalam.
Meski ia berulang kali mengatakan harus mengikhlaskan sang mantan suami, nyatanya perasaan yang terlanjur tumbuh tak mudah untuk di matikan. Menyadari Calvina hamil, tentu itu sangat menyakitkan.
Berbeda dengan Zayn yang di sini sama sekali tak tahu apa yang di rasakan sang mantan istrinya. Sampai mobil tiba di depan rumah kedua orangtunya, panggilan video masih saja berjalan.
"Pelan-pelan sayang. Lihat jalan di depan. Pastikan polisi tidur tidak menghalangi jalanmu. Sopia, lihat di jalan depan sana jangan sampai kaki Kakakmu tersandung." teriak Zayn pada sang adik ipar setelah berbicara pada istrinya.
"Siap komandan Kakak ipar!" seru Shopia sembari memberi hormat. Calvina terkekeh seraya menggelengkan kepala. Suami dan adiknya benar-benar paket komplit untuknya saat ini.
__ADS_1