
Calvina dan Zayn bersamaan menggelengkan kepala menolak perintah wanita tua itu. Semua terjadi di luar kesadaran Calvina. Awalnya ia berkeras untuk menjauh dari sang suam. Nyatanya rasa cinta pada Zayn begitu besar hingga ia tak bisa menahan diri.
"Nek, tolong aku sangat mencintai Zayn." ujar Calvina.
"Nek, kami saling mencintai. Aku mohon biarkan kami menyelesaikannya berdua dulu." Kini Zayn pun ikut bersuara.
Fara yang kesal mendengar penuturan Zayn dan Calvina tak bisa mengontrol emosinya. Tanganya yang bergetar begitu cepat menarik Calvina hingga menjauh dari Zayn. Sayangnya kejadian itu tak berlangsung lama ketika Fara merasakan tubuhnya tiba-tiba saja lemas dan jatuh ke lantai.
"Nenek!"
"Ibu!" Teriakan lantang terdengar hampir bersamaan. Semua orang terkejut mendapati Fara jatuh pingsan di tahan oleh Matthew.
Melihat sang nenek tak berdaya tentu saja membuat Calvina cemas sekali. Ia takut sampai terjadi sesuatu dengan Neneknya. Demi melindungi Calvina, Fara bahkan rela mati-matian menentang semua orang termasuk sang cucu. Baginya tidak ada jalan lain lagi untuk Zayn dan Calvina bersatu. Sebab Zayn sudah menikah dan hidup bahagia bersama Rista beberapa waktu belakangan ini.
"Ayo kita bawa ke rumah sakit sekarang." pintah Matthew dan semua menganggukkan kepalanya.
Zayn sigap membawa mobil menuju rumah sakit. Di belakang ada Calvina bersama Gauri yang memangku Fara. Satu mobil lagi dengan Matthew yang mengendarai bersama sang ayah mertua dan ibu dari Zayn.
__ADS_1
Di sini mereka di sibukkan dengan semua prahara rumah tangga Zayn dan Calvina. Berbeda dengan sosok Rista yang baru saja tiba di perkampungan dengan Restu yang sudah tidur di pangkuannya. Keduanya turun dari mobil. Suasana terlihat sunyi sekali hanya ada sawah di sekeliling rumah yang mereka tuju. Satu rumah sederhana di sinari lampu yang remang-remang.
"Ini benar alamatnya. Semoga aku bisa mendapatkan informasi di sini. Kasihan Restu pasti sangat kelelahan." gumam Rista menatap sang anak sebelum menggendongnya keluar dari mobil.
Tiba di depan pintu rumah kayu itu, Rista mengayunkan tangan untuk mengetuk pintu rumah asing.
"Permisi!" teriaknya. Masih hening kedua kalinya Rista ingin mengetuk pintu.
"Permi-" Ucapannya terpotong ketika daun pintu yang tidak begitu tinggi terbuka dan terlihatlah wajah pria muda yang bisa di tebak sangat santun.
Pertama kali pria itu menganggukkan kepala dan bertanya, "Saha nu di teang?" tanyanya yang artinya cari siapa.
"Hah?" lirih Rista bersuara. Hanya satu nama yang bisa ia suarakan tanpa bisa bertanya apa pun.
"Pak Danang. Pak Danang." Hanya nama itu yang bisa Rista utarakan. Kedatangannya ke desa ini memang untuk mencari Pak Danang agar mendapatkan informasi tentang sang ayah yang sudah menghilang.
"Asup." Lagi pria itu berkata dengan menggerakkan tangan seolah mempersilahkan Rista masuk ke dalam. Dengan tebakan Rista pun masuk meski ia masih menebak-nebak arti ucapan pemuda di depannya.
__ADS_1
Rista duduk di kursi rotan, namun pria itu lagi memanggilnya masuk lebih dalam. Langkah pelan Rista mengikutinya dan sampailah di ambang pintu yang memperlihatkan seorang pria tua dengan tubuh kurusnya terbaring tak berdaya. Terkejut Rista melihatnya. Di kamar itu ia berdua dengan Pak Danang yang tidak bisa bergerak sedikit pun.
Kepergian pemuda barusan keluar tak Rista hiraukan lagi. Ia duduk di samping ranjang Pak Danang dan menunduk. Air matanya jatuh sedih melihatnya. Orang yang sering menolongnya selama ini di belakang sang ayah kini sudah tak berdaya lagi.
"Pak, bagaimana bisa seperti ini? Apa yang terjadi? Dan di mana Ayah Rista, Pak Danang?" tanyanya sedih.
Pria tua yang mendengar pertanyaan Rista hanya bisa melihat tanpa menggerakkan matanya, ia menteskan air mata sedih. Saat seperti ini ia justru tak bisa berbicara apa pun. Seluruh tubuhnya mengalami kelumpuhan.
"Dimana Ayah saya, Pak Danang? Saya sudah mencarinya kesana kemari." ujar Rista.
Sampai akhirnya Rista menyadari ketika ia ingin menyalim tangan pria tua itu ternyata tak bisa bergerak sebagaimana mestinya. Sedih rasanya Rista semakin kehilangan arah mencari sang ayah. Satu-satunya harapan untuk mendapat informasi justru tak bisa memberikan seperti yang ia harapkan.
"Nyonya, hari sudah larut. Kata anaknya tadi, Pak Danang sudah harus istirahat agar tidak semakin drop. Sebaiknya kita ke tempat lain untuk istirahat. Beliau sudah menyediakan tempat untuk Nyonya." Sang supir mendatangi Rista setelah berbicara dengan Reza sebentar.
Tak bisa menolak sebab tubuh Rista pun terasa sangat lelah selama perjalanan hari ini. Ia patuh dan ikut dengan sang supir membawa Restu. Besok ia akan berbicara dengan Reza bagaimana pun caranya.
"Baiklah." jawab Rista. Tubuhnya melangkah lemas. Rasanya jalan yang ia tempuh seperti buntu saat ini.
__ADS_1
Kepergian mobil mewah itu dari rumah Pak Danang tak lepas dari pandang kedua bola mata pemuda yang bernama Reza.
"Jadi dia anak yang selalu Bapak ceritakan? Kasihan. Tapi gara-gara dia juga Bapak jadi kena akibatnya." ujar Reza.