
Cucuran keringat berjatuhan di kening wanita cantik yang kini tampak berlari tunggang langgang. Darah di siku tangannya tak ia perdulikan sama sekali. Air mata bahkan mengiringi langkah kaki yang gemetar ketakutan. Lelah jelas ia rasakan saat ini ketika kaki yang tak kuat melangkah terus ia paksa bergerak secepat mungkin. Besar harapan yang bergantung padanya saat ini.
"Aku harus bebas dari sini dan membawa pertolongan untuk Kakak dan Nenek. Aku harus kuat." gumam Shopia dalam hatinya. Wajahnya begitu merah menahan sakit entah di bagian mana saja.
Di tengah kegelapan subuh saat ini Shopia berlari menuju pemukiman yang paling dekat untuk ia jangkau.
"Tolong! Tolong!" teriaknya menggedor pintu. Cukup lama Shopia menggedor pintu sampai akhirnya orang pertama yang membuka pintu membuat Shopia bisa menghela napas lega.
Ia menceritakan tujuannya datang dan meminta pertolongan untuk meminjam ponsel. Semua berakhir dengan nomor polisi yang bisa ia minta pertolongan. Tak sia-sia kelelahan dan rasa sakit yang Shopia tahan sepanjang berlari ke tempat warga.
Singkat cerita semua sudah berhasil di amankan. Calvina meneteskan air mata haru ketika bisa melihat banyak orang datang membekuk penjahat yang menyiksa mereka sekian lama. Fara bahkan tak bisa lagi menahan diri dan seketika pingsan. Lelah selama ini ia berusaha kuat melawan sakit.
"Shopia." lirih Calvina tersenyum menatap sang adik. Ia memejamkan mata mengucap syukur hingga semua pihak kepolisian membantu mereka ke rumah sakit. Beberapa penjahat sudah berhasil di amankan.
"Kak, kita bebas. Kita berhasil bebas, Kak." Shopia menangis memeluk sang kakak.
Hari itu tepatnya setelah enam bulan hubungan Zayn dan Rista menghangat, Calvina pun berhasil bebas dari tawanan ayah mertua suaminya sendiri. Kabar mengejutkan pun terdengar di telinga wanita paruh baya yang belakangan ini merasa semakin gelisah.
"Dengan kediaman Tuan Matthew?" Kepala Gauri mengangguk lalu ia bersuara mengiyakan ucapan di telepon itu..
"Iya. Saya dengan istrinya." sahut Gauri.
__ADS_1
"Ibu," Suara itu terdengar di seberang telepon. Suara yang sangat ia rindukan dengan isak tangis yang Gauri dengar begitu jelas.
Tak percaya rasanya ada yang memanggil dirinya Ibu. Gauri menatap ponsel di telinganya kemudian kembali menempelkan benda pipih itu lagi. Seperti mimpi di pagi hari mendengar suara yang sudah beberapa tahun tidak ia dengar.
"Bu, segera kemari. Aku sangat merindukan Ibu. Pak Polisi tolong beritahu keberadaan kami pada Ibu saya." Bibir wanita paruh baya itu hanya terdiam tanpa kata. Kaku terasa sulit di gerakkan bibir yang mendadak pucat dan air mata yang tiba-tiba jatuh di pipinya.
Tak lama setelah itu, "Bu, ada apa? Siapa yang menelpon?" Matthew mendekat dengan tubuh yang baru selesai mandi. Pria itu mengambil alih ponsel ketika sang istri tak menjawab ucapannya.
"Tuan, saya dari kepolisian ingin memberitahu..." Singkat dan jelas polisi itu memberi tahu pada Matthew untuk segera datang ke tempat yang sudah ia sebutkan. Tak sama dengan reaksi sang istri, Matthew bergegas berganti pakaian dan mengusap punggung sang istri.
"Bersiaplah. Kita pergi sekarang. Anak kita menunggu kita, Sayang." Gauri tersenyum meneteskan air mata tak percaya.
"Apa yang harus kita katakan pada Calvina, Ayah?" tanya Gauri lirih.
Ketakutan akan keputusan di masa lalu membuatnya bingung. Bahagia tentu ia rasakan jika benar sang anak masih hidup. Rasa tak percaya ia singkirkan lebih dulu untuk saat ini. Banyak pertanyaan yang akan ia tanyakan pada sang anak bagaimana bisa hidup.
"Sudah Ibu tenang dulu. Semua bisa di bicarakan baik-baik. Yang utama kita bertemu dengan Calvina dulu." Anggukan kepala ia berikan pada sang suami.
Tak terasa waktu telah berjalan dengan cepat. Mobil yang mereka tumpangi pun telah tiba di tempat tujuan. Tanpa berbicara apa pun sepasang suami istri itu berjalan cepat memasuki rumah sakit sebab pihak kepolisian meminta mereka pada akhirnya untuk beralih ke rumah sakit.
"Pak, dimana anak saya? Apa benar anak saya yang menghubungi saya barusan?" Gauri tak lagi bisa menahan diri.
__ADS_1
Polisi tak menjawab. Melainkan ia mempersilahkan sepasang suami istri itu masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Di sana tiga orang sudah berbaring di brankar masing-masing dengan dokter yang menangani. Pupil mata kedua orang tua Calvina melebar syok melihat keluarga mereka mengalami hal yang tak mereka sangka.
"Calvina? Cal, ini Ibu. Shopia, ini Ibu datang sayang." Gauri mendekati keduanya bergantian dengan wajah sangat panik. Tak henti ia terus menangis. Matthew justru mendekati sang ibu mertua. Menggenggam tangannya dan mencium punggung tangan wanita tua itu.
Fara sudah tak bersuara apa pun. Matanya tertutup rapat. Matthew begitu menggelengkan kepala sedih melihat keadaan anak mau pun mertuanya. Merasa gagal menjadi kepala keluarga sebab tak bisa menjaga keluarganya.
"Segeralah sembuh, Bu. Ayah membutuhkan Ibu di rumah. Kasihan Ayah." tutur Matthew mengingat ayah mertua yang hanya duduk lemas tak berdaya di kamarnya sejak kepergian sang istri dengan insiden kecelakaan pesawat.
Sempat terpikirkan oleh Gauri ingin memberi kabar pada sang menantu. Ia meraih ponsel ingin menelpon Zayn yang sudah lama tak ia kunjungi. Begitu pun dengan Zayn yang sudah lama tak bertemu dengannya karena kesibukan di perusahaan.
"Bu, maaf tidak bisa pamit secara langsung. Aku dan Rista pamit ke dubai untuk kontrak kerja sama sekalian liburan membawa Restu. Ibu dan Ayah sehat-sehat yah? Sepulang dari sana kami akan datang berkunjung." Itulah pesan yang terlihat di layar ponsel Gauri saat ini. Niatnya menghubungi sang menantu urung ia lakukan.
Susah payah mereka menyatukan Zayn, dan kini tak mungkin Gauri menghancurkan pernikahan yang baru berjalan sebentar saja. Zayn berhak bahagia dengan pilihan yang mereka paksakan.
"Aku tidak mungkin memberi tahu Zayn. Tapi, Calvina..." Gauri sedih menatap sang anak yang kini juga tengah menatapnya. Tanpa Gauri tahu jika Calvina sebenarnya sudah tahu apa yang terjadi. Dan itu yang saat ini sedang Calvina tuntut dari sang ibu.
Tatapan mata sedih dan kecewa sedang Calvina tujukan pada kedua orangtuanya. Meski jauh di dalam hati ia paham apa penyebab ini semua. Dirinyalah satu-satunya penyebab kepergian Zayn dari hidupnya.
"Cal..."
"Apa itu tentang Zayn, Bu?" potong Calvina begitu cepat pada ucapan Gauri yang belum saja ia selesaikan.
__ADS_1