
Bagaimana pun permohonan Zayn, Fara masih berkeras untuk tidak melepaskan sang cucu. Ia tidak mau menyesal di akhir setelah melihat air mata Calvina kembali jatuh. Sudah cukup semua penderitaan ini untuk sang cucu.
"Aku akan pertaruhkan nyawaku demi cucuku. Calvina akan tetap di sini bersama kami. Dan kau sebaiknya pergilah kembali ke Indonesia. Satu pun kesempatan tidak pantas untuk kau dapatkan, Zayn. Aku akan memberikan yang tepat untuk Calvina dan anaknya kelak." Mendengar hal itu Zayn meradang. Namun, ia tak bisa melakukan apa pun.
Fara masih nenek mertua untuknya. Ia tidak akan mungkin tega marah pada wanita tua itu. Jelas ia tak terima jika suatu waktu istrinya bersama pria lain dan bahagia membesarkan anak mereka seperti yang ia mimpi saat di perjalanan.
"Nek," Calvina menatap sang nenek dengan mata sendu.
"Nenek tidak ingin kau menderita lagi, Calvina. Kau berhak bahagia dan bukan bersama dia." ujar Fara tegas. Ia melihat Calvina menggelengkan kepala pelan.
"Nenek, ikutlah tinggal bersama kami. Berikan Zayn kesempatan untuk itu. Dan aku juga sangat merindukan Flora. Di sini aku tidak bisa menjenguknya setiap waktu yang aku mau." Air mata bening jatuh di pipi putih mulus itu.
__ADS_1
Sebagai seorang Nenek yang sangat menyayangi cucunya, Fara tak punya kekuatan menolak permintaan sang cucu. Ia pun khawatir jika sampai terjadi sesuatu pada calon cicitnya akibat sang ibu selalu tertekan. Bibir tua keriput itu bergetar tak tahu harus berbicara apa lagi. Sampai akhirnya dengan kata pertama yang Calvina ucapkan, Fara sontak mengangguk lemah. Ia tak berdaya menolaknya.
Semua keluarga yang ada di ruangan itu menghela napas lega. Mereka tak menyangka Calvina pun luluh dan mau ikut kembali pulang. Gauri tersenyum bahagia.
"Saat ini pikirkan kebahagiaanmu, Calvina. Nenek tidak ingin terjadi apa pun dengan kehamilanmu itu. Biarkan dia melihat dunia dan tumbuh besar." tutur Fara lirih.
Meski hatinya kecewa melihat sikap Calvina yang tidak patuh, Fara tak lagi berkeras. Ia berdiri dari duduknya dan melangkah dengan lemas menuju kamar. Semua sedih menyaksikan wanita yang selalu bersikap keras kepala hari ini justru lemah. Ada kesedihan di mata Fara yang jelas terlihat.
"Besok kita akan kembali ke rumah. Nenek akan kita rawat dengan baik." ujar Zayn pada sang istri.
"Kakek ke kamar dulu." pamit Firdaus pada yang lain.
__ADS_1
Di ruangan tersisa Zayn, Calvina, Gauri, Matthew dan juga Shopia. Mereka berbicara tentang kehamilan Calvina yang masih sangat muda. Takut jika perjalanan jauh membuat kandungannya dalam bahaya. Zayn menimbang-nimbang niatnya untuk membawa kembali sang istri.
"Apa sebaiknya kita tunda dulu kepulanganmu? Kandungan ini masih terlalu muda, aku takut terjadi sesuatu." ujar Zayn pada sang istri.
"Aku pun berpikir seperti itu." sahut Calvina merasa bingung.
Di satu sisi ia tak sabar melihat makam kedua anaknya di Indonesia. Namun, di sisi lainnya lagi Calvina mencemaskan keadaan anak di dalam perutnya. Sebelumnya ia pun memiliki riwayat lemah kandungan.
Berjauhan dengan sang istri bukanlah pilihan yang tepat juga untuk Zayn. Takut jika Calvina benar-benar seperti di mimpinya. Ia tak mau jika hubungannya yang baru saja ingin ia bangun kembali justru berakhir hancur.
"Sebaiknya kalian beristirahat lagi. Cal, bawa Zayn istirahat. Dia tiba belum lama tubuhnya pasti sangat lelah saat ini." tutur Matthew.
__ADS_1
Shopia yang melirik sang kakak nampak tersenyum-senyum gemas. Kini ia senang akhirnya kakak dan kakak iparnya bisa bersama lagi meski belum sebaik dulu hubungannya.