Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kegelisahan


__ADS_3

Seharian ia mencari informasi kesana kemari, kini tepat pukul delapan malam Zayn pulang ke rumah dengan wajah lesunya. Sang anak yang ia tinggalkan bahkan terlelap di waktu yang tidak biasa. Restu tidur di bawa asuhan sang pelayan. Zayn menuju kamar tanpa perduli jika di kamar itu tak ada sang istri. Entah di mana Rista berada saat ini, ia tak bisa fokus memikirkan dua wanita dalam waktu sekali gus.


"Aku benar-benar lelah. Tapi bagaimana mungkin aku tenang di rumah ini sedangkan pikiranku terus berkata Calvina ada di luar sana?" gumam Zayn dalam hati.


Wanita yang ia cemaskan di sini tengah menangis memeluk tubuhnya sendiri. Calvina menangis entah sudah sejak kapan. Pertemuan dengan Restu di sekolah tadi membuatnya sangat emosional. Bocah yang tidak ada ikatan darah dengan sang suami justru bisa menggeser posisi kedua anaknya yang sudah tiada. Sebagai seorang Ibu, Calvina sangat sedih.


"Kak, malam ini kita bisa kok kesana. Aku akan antar Kakak ketemu sama Kak Zayn dan istrinya. Kakak punya hak atas Kak Zayn. Ibu dan Ayah sangat mendukung apa pun keputusan Kakak saat ini." Shopia yang merasa sedih melihat sang kakak memilih untuk mempertemukan keduanya.


Bagaimana baiknya Rista pada mereka selama ini tentu tak akan bisa menggantikan posisi Calvina sebagai Kakak kandungnya. Shopia begitu sayang dengan sang kakak.


Calvina hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sang adik. "Kakak tidak akan merusak kebahagiaan mereka, Shopia. Kakak sadar Zayn berhak bahagia. Apa jadinya Zayn jika tahu Kakak masih hidup? Bagaimana nasib pernikahan Zayn dengan istrinya jika Kakak muncul tiba-tiba di antara mereka?" Calvina berucap lirih. Air matanya hanya terus menetes tanpa henti.


Shopia yakin sekuat mungkin ia membujuk sang kakak, Calvina pasti akan terus berkeras dengan pendiriannya. Kini ia hanya bisa diam dan keluar dari kamar.

__ADS_1


"Non Shopia," seru Bibi terdengar dari arah dapur.


Shopia yang melihatnya sontak berhenti melangkah. Keningnya mengerut dalam melihat panggilan sang pelayan. "Ada apa, Bi?" tanyanya.


"Em tadi...tadi Tuan Zayn kesini lagi, Non. Sepertinya Tuan Zayn merasakan jika Non Calvina ada di sini. Bibi lihat Tuan Zayn seperti habis menangis." Shopia terdiam sejenak mendengar ucapan sang bibi.


"Yasudah, Non. Bibi ke dapur dulu lanjut masak." Shopia diam mengangguk.


Sekeliling ia melihat rumah tampak menyedihkan terasa begitu sunyi. Kepergian kedua orangtua bersama kakek dan nenek membuatnya bingung harus berbuat apa. Calvina dalam keadaan sedih, sedang ia sendiri belum berani mengambil langkah apa pun mengenai Zayn.


Berbeda halnya dengan keadaan Rista yang kebingungan. Ia menunggu hingga beberapa jam lamanya di depan rumah sang ayah. Namun, rumah tinggalnya yang sudah lama tidak ia kunjungi kini tampak begitu sepi dan tidak terawat. Sampai waktu beranjak malam bahkan Rista tak kunjung melihat kedatangan pria tua itu. Cemas tentu saja Rista begitu mencemaskan keberadaan Candra. Pria tua yang kejam dan satu-satunya orangtua Rista.


"Kemana Ayah? Mengapa sampai sekarang belum pulang juga? Dan...rumah ini kenapa seperti berantakan sekali? Apa yang terjadi sebenarnya? Kemana semua pelayan?" Rista bertanya-tanya tanpa menemukan jawaban.

__ADS_1


Dalam hatinya perasaan mulai tak nyaman. Rista gelisah membayangkan suatu hal terjadi pada sang ayah. Bahkan beberapa panggilannya akhir-akhir ini tak pernah bisa tersambung. Matanya berembun membayangkan satu kabar dari orang yang tidak ia kenal.


"Tidak. Orang itu pasti salah informasi. Atau dia hanya ingin membuatku takut. Ayah tidak mungkin benar-benar di penjara. Ayah pasti baik-baik saja." ucap Rista teringat dengan kabar panggilan yang tidak ia kenal. Bahkan nomor yang menghubunginya pun tidak bisa di lacak lagi.


Malam itu semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tak ada yang saling berbicara satu sama lain. Zayn yang gelisah memilih pergi ke rumah kedua orangtuanya. Di sana ia bercerita tentang satu kejanggalan yang terjadi hari ini. Irene mau pun Prayan sama-sama mengerutkan kening syok mendengar cerita sang anak.


"Calvina sangat mencintai kamu, Zayn. Sudah pasti dia akan kembali ke rumah menemui suaminya. Bukan menjauhi kamu seperti ini. Ibu rasa Restu hanya salah melihat saja." ujar Irene menenangkan sang anak.


Zayn menggeleng cepat. "Tidak, Bu. Aku sangat yakin Calvinalah yang Restu maksud. Calvina begitu memiliki hati yang baik. Itu sebabnya dia tidak ingin muncul di kehidupan aku dan Rista, Bu." sahut Zayn dengan tegas.


Di depannya kedua orang tua Zayn saling pandang. Mereka pun juga memiliki pemikiran yang sama dengan sang anak.


"Zayn, jangan berbicara penuh kesedihan seperti ini. Istrimu bukan hanya Calvina saat ini. Ada hati yang juga harus kau jaga. Rista sudah begitu mengabdikan dirinya sebagai istri selama ini. Apa itu masih belum bisa mengobati luka hatimu kehilangan Calvina?" Prayan yang berucap demikian justru mendapat tatapan dingin dari Zayn.

__ADS_1


"Ayah, bagaimana pun keadaanku saat ini. Calvina tetaplah istri yang utama untukku. Calvina satu-satunya wanita yang akan aku cintai dengan dalam. Aku tidak akan bisa mengantikan Calvina dengan siapa pun termasuk Rista sekali pun. Pernikahanku dengan Calvina berbeda dengan niat pernikahanku dengan Rista. Aku tahu aku salah besar dalam hal itu. Tapi, aku hanya manusia yang sewaktu-waktu bisa salah." Kini Zayn akui jika sampai detik ini pun hatinya masih belum bisa terhapuskan dengan bayangan sang istri. Setiap malam hatinya terus berperang di tengah ingin memulai dengan Rista dan ingin tetap menunggu Calvina kembali.


__ADS_2