Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Perubahan Yang Tanpa Sadar Terjadi


__ADS_3

Enam bulan adalah waktu yang tidak terasa berjalan dengan begitu baik. Dimana perjanjian antara Zayn dan Candra telah ia lupakan. Sosok bayi mungil yang hadir dalam keluarga yang rapuh rasanya menjadi kebahagiaan tersendiri di antara mereka. Bayi mungil yang begitu sangat tampan seolah mencuri semua perhatian keluarga Zayn mau pun Calvina.


Di sini, di rumah megah milik Zayn. Pria tampan itu tak lagi ingat jika dirinya sangat enggan pulang selama sang istri di rawat. Namun, entah sejak kapan ia mulai lupa akan hal itu. Zayn selalu menyempatkan diri ke rumah sang ibu demi melihat baby Restu.


"Restu, dimana dia? Apa masih tidur?" tanyanya ketika memasuki rumah hanya bertemu Rista yang sedang menyiapkan makan untuk di bawa Zayn ke rumah sakit.


"Di kamar sama Bibi. Baru habis mandi, Tuan." sahut Rista hormat.


Ia tersenyum melihat punggung Zayn yang melangkah menjauh dengan cepatnya. Wajah lelah sama sekali tak terlihat di wajahnya. Ia begitu merindukan bayi tampan yang saat ini pasti sudah wangi oleh perlengkapan bayi.


"Restu!" panggil Zayn lagi.


Wajahnya benar-benar berbinar melihat bayi mungil yang baru saja Bibi gendong untuk di bawa keluar. Segera pria itu mengambil alih tubuh Restu dan menciumi wajahnya. Rasa sayang yang tulus mengalir begitu saja di dalam diri Zayn. Tanpa ia tahu di sini Rista termenung melihat pergerakan Zayn di depan sana. Tepat di arah pintu kamar Restu.


"Keberadaan kami apa artinya, Tuan Zayn? Mengapa anda begitu sayang pada anakku? Tolong jangan seperti ini. Itu sangat menyakitkan bagiku. Aku tidak ingin menjadi wanita tidak tahu diri. Aku harus segera meninggalkan rumah ini dan keluarga ini. Sudah cukup yang mereka berikan semua selama enam bulan ini. Aku sudah begitu banyak memberikan beban pada mereka." gumam Rista sedih.


Pikirannya sangat tidak ingin pergi dari rumah dan kehidupan pria yang sudah membuatnya sangat nyaman. Rista tak sadar jika hatinya telah terjebak dengan semua kebaikan yang Zayn berikan.


"Rista, kamu kenapa? Kok melamun?" Irene yang baru keluar kamar mendorong kursi roda sang suami menegur wanita itu. Enam bulan memang waktu yang cukup singkat namun mampu merubah banyak hal. Termasuk pemulihan Prayan dari sakitnya.


Segera wanita itu tersentak kaget dan menoleh dengan wajah kikuk. Sedang Irene dan Prayan menatap ke arah yang Rista tatap sebelumnya. Zayn masih terlihat bermain dengan bayi wanita itu.

__ADS_1


"Dia sudah sangat merindukan waktu seperti itu, Rista. Wajar Zayn begitu bahagia. Empat tahun lalu dia merasakan sakitnya kehilangan anak dan bayi sekali gus. Mungkin ini jawaban dari apa yang kami doakan selama ini untuk membuat Zayn kembali semangat. Tetap bersama kami yah?" Rista tergugu tak bisa menjawab ucapan Irene.


Ingin menolak rasanya tak tega begitu besar Rista rasakan. Keluarga yang sudah sangat baik padanya bagaimana mungkin ia tega mengecewakan mereka. Tetapi, Rista sadar perasaannya mulai tidak sehat saat ini pada Zayn.


"Maafkan saya, Bu, Pak. Saya minta maaf jika saya harus mengatakan niat saya ini. Tapi, semua kebaikan kalian sudah cukup untuk saya. Saya tidak bisa jika harus berhutang budi pada kalian lebih banyak lagi. Saya dan Restu harus segera pergi dari sini. Kami akan hidup berdua tanpa bantuan kalian lagi. Saya sudah cukup lama merepotkan kalian. Lagi pula saya tidak mungkin tinggal di sini lebih lama lagi..." Rista tampak terdiam menggantung ucapannya yang tak sanggup ia teruskan.


"Kenapa? Apa yang membuat kamu tidak nyaman? Kamu merasa risih dengan apa? Tolong katakan, Rista. Kami sangat senang jika kamu tetap di sini mengikuti saran kami. Di luar sangat bahaya lagi pula ayah kamu masih memantau kamu sampai detik ini." Rista melebarkan pupil mata kaget mendengar ucapan Gauri.


Sudah enam bulan ia menetap di rumah megah keluarga Zayn. Bagaimana mungkin sang ayah masih juga mengawasinya.


"Iya. Ayah kamu masih mengincar kamu dan anak kamu." lanjut Gauri yang paham keterkejutan Rista.


Rasanya tak habis pikir seorang ayah bisa menyakiti anaknya sendiri seperti yang Candra lakukan. Namun, ini memanglah sebuah fakta yang harus mereka tahu.


"Pergi? Membawa Restu? Apa maksud kamu, Rista?" tanya Zayn dari arah belakang. Rista memutar tubuh dan melihat Zayn yang menatapnya dengan dalam.


"Maafkan saya, Tuan Zayn. Perjanjian kita sudah lama berakhir itu artinya saya harus segera keluar dari rumah ini dan hidup bersama anak saya. Bantuan anda sudah cukup banyak pada saya. Saya akan melindungi anak saya sebisa mungkin, Tuan." Zayn berdecih mendengarnya. Ucapan Rista baginya adalah hal yang tidak bisa di andalkan.


Zayn menolak dengan tegas permintaan Rista. "Restu tidak boleh pergi dari sini. Jangan sampai kau merasakan kehilangan anak yang menyakitkan sepertiku. Jika kau ingin pergi, silahkan pergi. Tapi, tidak membawa Restu." Bukan kepalang Rista kagetnya.


Zayn begitu mudah mengucapkan hal yang tidak mungkin Rista lakukan. Restu adalah anak kandungnya. Tidak mungkin Rista meninggalkan sang anak pada keluarga yang sama sekali tak ada sangkutan darah olehnya.

__ADS_1


Tanpa mendengar ucapan Rista lagi, Zayn menggendong Restu keluar dari rumah. Waktu sore yang sejuk untuk ia melepas lelah bersama bayi mungil itu. Meninggalkan Rista yang tercengang bingung mendengar ucapan Zayn. Sedang Irene kini hanya tersenyum melihat sikap sang anak.


Tak ada yang tahu jika di rumah sakit saat ini wanita tua yang tak lain adalah nenek Calvina sudah mengumpat kesal. Ia benar-benar marah melihat Zayn yang tak kunjung datang menggantikan dirinya.


"Kemana Zayn? Sudah satu jam dari kepulangannya tapi tidak juga sampai di sini. Keterlaluan kamu, Zayn. Kamu sudah mengacuhkan cucu saya. Calvina tidak pantas mendapat perlakuan seperti ini." ujar Fara kesal bukan main.


Semenjak ia melihat Rista di keluarga Zayn, pikirannya benar-benar kalut. Berharap Calvina bisa segera sadar dan mengambil kembali posisinya sebagai istri dan menantu.


Setengah jam kemudian tampaklah suara Zayn menyapa di ruang rawat Calvina.


"Nenek?" sahut Zayn.


Pertama kali ia masuk ke ruangan itu di sambut dengan tatapan sinis wanita tua. Fara tak pernah lagi memandang Zayn dengan kasih sayangnya. Ia tak suka setiap kali Zayn bersikap seolah tak perduli pada Calvina.


"Ini yang kamu lakukan pada cucuku, Zayn? Ini yang Calvina dapatkan dari suaminya? Suami macam apa kamu? Istrimu sedang berjuang dengan kematiannya untuk bertahan hidup, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu benar-benar suami yang tidak pantas untuk Calvina. Kamu bukan suami yang baik. Kamu sudah menyia-nyiakan cucuku, Zayn. Pergi kamu dari sini! Pergi kamu! Aku tidak akan membiarkan kamu menyentuh cucuku lagi." Kemarahan Fara begitu berapi-api setelah melihat Zayn yang menenteng rantang di tangannya.


Pertanda jika pria itu baru saja pulang dari rumah orangtuanya dan membawa makan malam. Hal ini baru pertama kali Fara lihat. Zayn pun lupa jika ia akan bertemu nenek mertua saat ini.


"Nenek, tolong dengarkan aku..."


Tubuh bidang Zayn di dorong kuat oleh wanita tua itu keluar dari ruangan. "Keluar kamu! Kamu sudah menyakiti cucuku, Zayn. Kamu benar-benar tega dengan Calvina. Keluar kamu, Zayn." Fara bahkan sampai meneteskan air matanya mengatakan hal itu pada Zayn.

__ADS_1


Tak pernah ia berteriak kasar pada Zayn. Sebab jika boleh jujur ia pun sudah menganggap Zayn seperti cucunya sendiri. Ketakutan akan kehilangan Zayn pun membuat Fara tak lagi bisa mengontrol emosinya.


Zayn pasrah saat tubuhnya di dorong keluar. Matanya pun menjatuhkan air mata. Zayn baru sadar dirinya sudah berubah selama ini pada Calvina. Zayn melangkah mundur tak berdaya. Ia tak mampu melawan Nenek yang memang benar telah melindungi sang istri.


__ADS_2