
Calvina menjauh dari Shopia karena merasa salah tingkah di goda sang adik. Tidak tahu saja jika semua pergerakan Calvina setelah itu menjadi pusat perhatian Shopia. Beberapa orang suruhan Shopia melaporkan jika ada orang lain yang mengikuti terus menerus pergerakan Zayn beberapa hari terakhir ini. Dan berita itu pun Shopia sampaikan pada kedua orangtuanya. Bukan berita buruk. Mereka semua tentu senang melihat Calvina yang kembali memperhatikan Zayn meski dari jarak jauh.
Perubahan yang terjadi pada Zayn membuat Calvina semakin tergila-gila. Seperti yang Shopia laporkan padanya di pesan. Foto Zayn yang sering menghabiskan waktu beribadah dann mengunjungi panti asuhan. Pria tampan itu hanya sibuk menghabiskan waktu di kantor dan tempat-tempat ia berbagi.
"Apa yang terjadi pada Zayn? Kenapa berubahnya drastis sekali sih?" gumam Calvina menerka-nerka.
Di kedua bola matanya terpantul wajah tampan Zayn memakai kupiah di samping mobil yang terparkir. Pria itu tampak selesai beribadah. Hingga aktifitas Calvina mencuri perhatian dari wanita tua yang terbaring lemah saat ini.
"Cal..." panggil Fara lirih.
"Hah? Iya Nek? Ada apa? Nenek ingin sesuatu?" tanya Calvina begitu sigap berdiri. Ia mendekati ranjang sang nenek memegang tangan keriput itu.
Beruntung rasanya Fara di akhir-akhir usianya ia begitu di kelilingi orang-orang yang begitu sayang padanya. Tentu semua itu terjadi karena kasih sayang yang ia berikan selama ini pada orang sekeliling juga kian besar.
__ADS_1
"Kamu sedang apa? Apa ada yang mengganggumu? Biar Nenek yang selesaikan." ujar Fara begitu cemas.
Ia takut jika sang cucu menghadapi masalah sendiri. Lantas Calvina menggeleng tersenyum.
"Tidak ada yang menggangguku, Nek. Lagi pula aku sudah besar. Aku bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Nenek hanya boleh istirahat yang banyak saja biar cepat pulih lagi." tutur Calvina. Ia berusaha menyelipkan ponsel miliknya di saku dan memijat tangan wanita tua itu.
Takut-takut jika Fara berbuat nekat dan mengambil ponsel miliknya. Calvina tak ingin melakukan kesalahan. Kini ia sadar jika dirinya telah melanggar perintah sang nenek secara diam-diam.
"Maafkan aku, Nek." gumam Calvina dalam hatinya merasa bersalah dan takut.
Kabar jatuh sakitnya Fara membuat keluarga di Indonesia kembali cemas. Gauri yang semula sibuk memikirkan cara mempertemukan sang anak dan menantunya kini nampak mendapatkan jalan.
"Tuhan, apakah aku harus sedih atau harus berterimakasih dengan kabar ini? Ibu jatuh sakit, tapi dengan begini aku bisa mendapatkan jalan mempertemukan mereka di sana." tuturnya mengusap dada.
__ADS_1
Gauri segera menghubungi Zayn. Ia menyampaikan kabar itu dan Zayn tentu begitu bersyukur. Bisa di bilang mereka bahagia berjamaah di atas penderitaan Fara yang terbaring di rumah sakit.
"Bu, ini benarkah? Bukan candaan? Aku bisa bertemu istriku lagi?" tanya Zayn antusias.
Gauri tahu kerinduan Zayn pada Calvina begitu besar. Tentu sebagai seorang ibu ia tak tega melihat keduanya hidup saling menyiksa diri.
"Semoga jalan untuk kalian segera di mudahkan, Zayn. Ibu akan terus mendoakan kebaikan kalian berdua dan juga kebahagiaan untuk kalian ke depannya." Zayn meneteskan air mata.
Semua ucapan Gauri adalah doa Zayn selama ini. Pria tampan itu mengangguk sampai akhirnya panggilan pun benar-benar berakhir. Zayn penuh semangat menata barang untuk persiapan berangkat ke Jerman. Ia akan berangkat bersama keluarga sang istri.
Tepat pukul sepuluh malam ketika semua penghuni di negara Indonesia hendak beristirahat dari lelahnya aktifitas hari ini, tiba-tiba ponsel Zayn berdering kembali. Segera ia mengangkat yang ternyata itu adalah panggilan dari sang ibu mertua.
"Zayn, Calvina...Calvina, Zayn." tangis Gauri terdengar di seberang telepon.
__ADS_1
"Bu, ada apa dengan Calvina? Istriku baik-baik saja kan, Bu?" tanya Zayn balik.
Matanya membulat sempurna kala mendengar jawaban dari sang ibu mertua. Gauri yang menangis membuat ucapannya terdengar tidak begitu baik. Namun, Zayn masih bisa mendengar beberapa kata dari wanita yang menangis itu.