Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Mendadak Menjadi Maling


__ADS_3

Melihat pukulan bertubi-tubi yang suami lakukan, Calvina tidak tahan lagi. Wanita itu menangis hsisteris dan sangat marah. Ia mendorong dada bidang Zayn mengacuhkan sang suami dan memilih menarik tubuh sang pria. Susah payah Calvina memapah tubuh pria itu. Meski berat ia tak perduli.


"Calvina, jangan pergi. Mau kemana, Sayang? Ayo pulang denganku. Biarkan dia mati." teriak Zayn kala melihat sang istri melangkah ingin membawa pergi prianya.


Ucapan Zayn sama sekali tak ia gubris. Baginya Zayn sudah sangat keterlaluan kali ini. Semakin menjauh Calvina, Zayn semakin tak terima. Hatinya seperti di cabik-cabik melihat sang istri justru memilih pria lain.


"Calvina!" teriak Zayn begitu lantangnya.


"Tuan, anda sedang bermimpi." Tiba-tiba mata Zayn terbuka lebar. Terkejut melihat keadaannya saat ini yang terlentang di kursi pesawat. Di sampingnya ada anak buah yang mengingatkan dirinya.


"Ah baiklah." ujar Zayn kikuk.

__ADS_1


Ternyata semua hanya mimpi yang di sebabkan rasa ketakutan yang begitu besar. Zayn mengusap kasar wajahnya. Ia menghela napas berkali-kali sampai akhirnya tak lama kemudian pesawat pun tiba di bandara. Pria tampan itu dengan bersemangat melangkah meninggalkan bandara dengan mobil yang sudah siap menjemputnya.


"Cal, aku datang Sayang." tuturnya dalam hati.


Kediaman milik Fara tampak berdiri kokoh di depannya saat ini. Rumah yang mungkin sulit untuk Zayn jangkau jika wanita itu masih berjaga di rumahnya. Menunggu kabar dari ibu mertua, Zayn memilih duduk di mobil. Janjian dengan Gauri sudah seperti maling baginya.


Tak habis pikir Zayn membaca pesan sang mertua. "Mobilnya arahkan ke taman belakang yah. Ibu tunggu di pintu belakang. Jangan lupa bawa tali buat turun besok pagi. Kamu harus lewat jendela, Zayn. Nenek sudah tidur, Calvina juga sudah tidur." Zayn tercengang membaca pesan sang mertua.


"Ini benar aku seperti maling? Ah ya sudahlah demi istri dan anakku apa pun akan ku lakukan." gumam Zayn menepis rasa bingungnya.


"Sudah jangan cium-cium tangan segala. Sana cepat masuk. Itu jendelanya. Kamu naik dari tangga itu dan manjat di tiang yang itu yah? Ibu sudah buka jendelanya sejak tadi." Bibir Zayn semakin melebar terbuka.

__ADS_1


Malam ini ia akan menjelma jadi seekor tupai. Mau tak mau Zayn lakukan. Ia memanjat tiang pendek yang terhubung pada jendela kamar sang istri. Ini semua Gauri lakukan demi tak terlihat cctv keesokan harinya.


Benar saja, jendela ia tarik pelan dan langsung terbuka. Wajah Zayn berbinar bukan kepalang kala melihat lekuk tubuh putih mulus berbalut piyama tipis yang Calvina kenakan. Tanpa sengaja di detik itu juga Zayn terkejut melihat miliknya berdiri tegang. Salivah pun ia teguk begitu kasar. Tepat ketika tubuhnya berada di dekat sang istri, Zayn tak lagi sabar untuk menunda waktu. Segera ia memeluk tubuh Calvina dari arah belakang.


"Huh kalau begin apa bisa jadi kembar yah?" gumam Gauri yang menggelengkan kepala menatap jendela kamar sang anak yang sudah tertutup bahkan lampu tidur di kamar itu pun sudah padam. Zayn benar-benar seperti maling yang menghilangkan semua jejaknya.


"Apa tidak takut jika Ibu sampai tahu? Ini semua kita bisa bicarakan baik-baik kan, Buu?" sahut Matthew melihat sang istri berbaring di sampingnya memejamkan mata.


Ia tak setuju dengan jalan yang Gauri berikan pada Zayn. "Ayah, Ibu itu sulit di ajak bicara. Memangnya kapan sih Ibu bisa mendengarkan suara kita? Dengan begini Zayn juga tidak terlalu tersiksa. Kasihan dia. Toh Calvina juga pasti membutuhkan sentuhan suaminya di saat hamil seperti ini."


"Memangnya Ibu tidak butuh sentuhan Ayah?" Matthew justru menggoda sang istri dengan gerakan alis menukik. Wajahnya tersenyum penuh godaan. Gauri hanya tersenyum malu mendengar ucapan suaminya. Lampu kamar mereka pun ikut padam di saat itu juga.

__ADS_1


"Eummmm..." erangan kecil terdengar di kamar milik sepasang suami istri yang lama tidak bersama.


Di gelapnya kamar kala itu, Calvina menikmati sentuhan Zayn yang terasa seperti dalam mimpi namun nyata. Ia tak menampik jika sentuhan itu benar-benar nikmat sekali. Tubuhnya menggeliat kesana kemari seolah mengikuti respon tubuhnya saat ini.


__ADS_2