Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kebohongan Calvina


__ADS_3

Setelah merasa senang mendengar ucapan sang suami yang akan segera berangkat ke Jerman kembali, di sini Calvina tampak menundukkan wajah. Mendengar sang Ibu yang memberikan nasihat padanya dengan kata-kata yang lembut.


"Tidak baik berbohong pada suami dalam hal apa pun. Cal. Itu sama sekali tidak di benarkan dalam pernikahan. Kamu rindu dengan Zayn, yah katakan saja. Saat ini suamimu di sana pasti sedang sibuk mencari semua makanan yang kamu sebutkan. Kasihan dia..." tutur Gauri mengusap kepala putrinya.


Sejak ia bangun pagi tadi perasaannya terus mendorong untuk bertemu Zayn. Namun, rasa gengsi sebab berpisah terlalu lama membuatnya enggan untuk mengakui pada sang suami. Calvina lebih memilih untuk meminta suaminya datang membawakan semua makanan yang ingin ia makan.


"Tapi harga diri perempuan itu harus di junjung tinggi kata Ibu? Saat ini aku sedang melakukannya. Kalau Zayn tahu aku yang mau bertemu dengannya pasti kepalanya bisa-bisa terbang kesenangan.


Mendengar ucapan sang anak, wanita paruh baya itu hanya bisa menghela napas kasar. Anaknya benar-benar memusingkan saat ini. Dulu Calvina tidak seperti ini. Benarkah ia berubah karena waktu yang memisahkan mereka terlalu lama, atau karena memang pengaruh keadaannya sedang hamil? Entahlah Gauri pun tidak tahu pasti.

__ADS_1


"Zayn harus fokus dengan kerjaannya setelah beberapa tahun dia mengabaikan tanggung jawabnya. Sebagai istri dan calon ibu, Ibu harap kamu bisa lebih mempertimbangkan semuanya yah? Kalau pun memang sangat ingin bersama, katakan dengan jujur. Mungkin dengan begitu Zayn juga bisa mencari jalannya." Calvina tak bisa berkata apa-apa lagi. Ucapn Ibunya memang benar.


Sayang, pecakapan keduanya justru terdengar oleh wanita tua yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Kalau memang Calvina berharga untuk pria itu. Dia pasti akan melakukan apa pun, Gauri. Dulu bahkan dia bisa fokus mengurus perempuan lain. Kenapa kamu bilang mengacuhkan tanggung jawabnya pada perusahaan? Kalau dia benar-benar sedih saat Calvina koma, saat ini tidak mungkin dia memiliki mantan istri." Telak. Ucapan wanita tua itu memang sangat sulit di bantah. Selain benar, Gauri mengakui ketajaman setiap kata yang keluar dari mulut sang ibu.


Sementara mereka tidak tahu jika di ruangan rawat ini tampak seseorang yang gelisah.


Kepulangan Reza sudah sejak sore tadi. Dan kini di luar ia yakin langit sudah gelap. Sementara Restu baru saja tertidur usai makan malam dan meminum obat dari dokter.

__ADS_1


Bukan tak ingin menjaga sang anak di rumah sakit. Namun, keberadaan Zayn yang tak pernah ia tahu membuat Rista sedikit gelisah. Mungkin masih butuh beberapa waktu untuk ia benar-benar melupakan sang mantan suami.


"Ah sebaiknya aku tanyakan saja pada anak buahnya." ujarnya berbicara sendiri. Segera setelah itu Rista pun berjalan keluar. Di depan ada dua pria yang berjaga. Rista bertanya padanya.


"Apa Zayn belum datang juga?" tanyanya dengan sedikit ragu. Takut jika ucapannya tidak akan di jawab oleh pria itu.


"Tuan tidak datang malam ini ke rumah sakit." Hanya kata itu yang Rista dengar. Kemana pria itu dan apa yang ia lakukan sama sekali Rista tak mendapatkan kabarnya.


Dalam rasa penasaran Rista ingin bertanya lagi tentang Zayn, namun melihat pandangan tak suka pria di depannya tentu ia sadar diri. Segera Rista masuk kembali ke dalam dan ikut tidur dengan sang anak.

__ADS_1


"Cuman satu malam yang kau lakukan, Zayn. Apa tidak bisa Restu mendapatkan kebahagiaan itu darimu sedikit pun?" gumamnya dalam diam. Meski mata sudah ia tutup rapat, nyatanya hati dan pikiran masih saja bergelut dengan kegelisahan.


__ADS_2