Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kepergian Calvina


__ADS_3

Kelopak mata yang tertutup rapat akibat kantuk yang luar biasa, mau tak mau harus terbuka kala mendengar suara dan gerakan di tubuhnya.


"Sayang, ayo bangunlah. Segera bersihkan tubuhmu." Kata yang Calvina dengar begitu jelasnya.


Kening wanita itu mengerut dalam. Sampai detik berikutnya kedua mata indah miliknya membulat lebar. Bibir mungilnya pun terbuka begitu besar.


"Zayn, apa ini?" teriaknya panik. Tubuh yang masih terbaring sempurna kini sudah berdiri di atas kasur.


Panik tentu saja. Calvina tak sadar apa yang sudah mereka lewatkan dalam waktu beberapa jam saja.


"Maafkan aku, Cal." Hanya kata itu yang sanggup Zayn utarakan.


Melihat jam sudah sangat siang, Calvina pun bergegas memebereskan tubuhnya dan berpakaian. Hanya mencuci wajah dan buru-buru keluar. Bukan tak lagi mencintai sang suami. Melihat wajah sedih Zayn semakin membuat Calvina sulit untuk pergi nantinya.


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit bayangan tentang sentuhan yang terasa seperti mimpi masih terngiang di kepala wanita itu. Sentuhan Zayn yang begitu sangat ia rindukan. Kecupan di bibir tanpa sadar membuat Calvina memegang bibirnya dan tersenyum. Satu persatu bagian tubuhnya terus di jamah sang suami dan Calvina sangat suka itu semua.


"Mungkin ini perpisahan termanis kita, Zayn. Maafkan aku." gumam Calvina ketika ia sudah tiba di depan ruang rawat sang nenek.


Pintu yang terbuka memperlihatkan semua mata memandang ke arah Calvina dengan serentak. Calvina terdiam beberapa saat mendapati tatapan aneh seperti itu. Ia bahkan tak memikirkan lagi bagaimana Zayn yang masih duduk di bibir ranjang hotel itu.


"Aku berharap kita akan tetap bersama, Cal. Aku berharap Tuhan masih mengijinkan kita bersama. Jika memang takdir masih bersama kita, aku yakin akan ada hal baik dari kejadian subuh tadi." Doa Zayn yang terlihat pasrah.


Jujur ia sangat takut jika sampai Zayn di ceraikan oleh Calvina atas dasar permintaan sang nenek. Lambat laun Calvina pasti akan luluh dengan perintah wanita tua itu selama mereka tinggal bersama.


Bahkan Matthew yang ingin menentang aturan wanita tua itu harus terhenti karena permohonan sang istri. Gauri hanya takut terjadi sesuatu dengan ibunya.


"Dimana sarapannya? Dan bajumu juga masih yang semalam, Calvina." Pertanyaan Fara sontak membuat Calvina bingung harus menjawab apa.

__ADS_1


Ia tidak tahu apa yang sudah di ucapkan oleh orangtuanya pada sang nenek.


"Cal, syukurlah kamu sudah kembali. Dokter mengatakan Nenek sudah bisa pulang hari ini." Gauri menyela untuk memberi kode sang anak.


"Oh iya, Bu. Itu sebabnya aku tidak jadi pulang ke rumah. Di depan aku berbicara dengan dokter dan karena itu aku langsung kembali ke sini." Ia berbohong. Calvina sangat takut ketahuan ketika ia terus di tatap tajam oleh sang nenek.


"Aku ingin pulang sekarang. Matthew, urus semuanya. Dan hari ini juga kita akan ke Jerma, Calvina." Ruangan terasa hening usai Fara mengutarakan niatnya.


Tak ada satu pun yang berani menentang. "Kasihan Kak Calvina dan Kak Zayn," gumam Shopia sedih melihat kedua kakaknya yang masih saling cinta harus berakhir terpisah jauh.


"I-iya, Nek." jawab Calvina mengangguk.


Hari terberat akhirnya terjadi. Semua keluarga berkumpul di bandara untuk menyaksikan kepergian Calvina, Fara, dan sang suami. Beberapa kali Gauri mau pun Irene menangis memeluk tubuh Calvina. Shopia pun demikian. Hanya satu orang yang tak bisa melampiaskan kesedihannya saat ini, yaitu Zayn. Memeluk sang istri pun ia tak bisa ketika Fara menegaskan untuk tidak mendekati cucunya lagi.


Hanya bisa saling pandang dengan kabut kesedihan itulah yang di lakukan keduanya.


Calvina memutar tubuhnya untuk melangkah bersama kakek dan neneknya. Semua yang di tinggal terisak. Satu pun tidak ada yang rela dengan kepergian Calvina. Namun, apa boleh buat. Keputusan Fara tak bisa di ganggu gugat.


"Calvina, kamu tertekan bersama Nenek?" tanya Fara ketika di dalam pesawat. Tentu saja seharusnya ia bisa tahu hal itu tanpa perlu bertanya. Namun, Calvina hanya bisa menjawab dengan tersenyum dan menggelengkan kepala.


"Aku senang bisa bersama Nenek." jawabnya penuh kebohongan.


Seperginya mereka, di sini keluarga hanya bisa memberi semangat pada Zayn. Tak ada yang tega melihat bagaimana Zayn sakitnya berkali-kali ketika harus kembali kehilangan sang istri.


"Maafkan Ibu, Zayn. Maafkan Ibu." ujar Gauri pada sang menantu.


Zayn yang berdiri mematung hanya terus memandang lurus dimana sang istri tadi melangkah menjauh darinya. Tak ada kata yang Zayn ucapkan saat ini. Waktu yang mempertemukan ia dan Calvina terlalu sangat singkat.

__ADS_1


"Ayah yakin kalian akan bersama, Zayn." Matthew bersama Prayan menepuk pundak pria tampan itu.


Mereka semua akhirnya pulang dengan semangat yang tidak ada lagi. Zayn bahkan langsung menuju kamar ketika kedua orangtuanya mengantarnya pulang ke rumah. Suasana sepi di rumah tak membuat Zayn tertarik untuk mencari tahu dimana sang istri kedua dan anak tirinya itu.


Bagaimana keadaan mereka tak lagi Zayn perdulikan. Hatinya terlalu sakit atas kepergian Calvina.


"Nyonya, kebetulan kata anaknya Pak Danang hari ini istrinya kembali ke desa ini. Apa Nyonya ingin bertemu dengan istrinya agar bisa mendapatkan informasi?" tanya pak supir pada Rista yang dari tadi diam saja.


"Saya masih bingung, Pak." jawab Rista.


Ingin berbicara dengan Reza, anak Pak Danang. Namun, melihat tatapan pemuda itu begitu tajam padanya tentu membuat Rista takut. Ia sadar jika semua yang terjadi pada Pak Danang mungkin ada sangkut pautnya dengan sang ayah. Itulah sebab Reza tak suka dengan kedatangannya. Meski di awal pertemuan, pemuda itu sangat ramah dan sopan.


"Saya mau jenguk Pak Danang dulu, Pak. Siapa tahu keadaannya sudah jauh lebih baik hari ini." Kekeuh Rista ingin mendengar langsung dari pria tua itu.


Kegelisahan semakin wanita itu rasakan ketika membayangkan terjadi hal yang lebih buruk pada sang ayah dari pada Pak Danang.


"Kaluar!"


"Astaga!" pekik Rista begitu kaget.


Tubuhnya bahkan sampai terjingkat ketika mendengar teriakan menggema itu. Belum saja ia sampai di kamar Pak Danang, tiba-tiba ia di suruh keluar dengan suara yang begitu kasar.


Beruntung kata-kata itu masih mendekati bahasa Indonesia dimana Rista mengerti arti teriakannya.


"Maaf. Maafkan saya jika saya lancang. Saya hanya ingin melihat keadaan Pak Danang saja. Saya berharap keadaannya semakin membaik." jawab Rista ketakutan.


Sudah lama ia tak mendapat kekerasan dari orang. Zayn yang tidak mencintainya saja tidak pernah berlaku seperti itu. Salah satu alasan bagi Rista tetap mempertahankan suaminya meski ia tahu Zayn tidak mencintainya sama sekali.

__ADS_1


"Ibu...takut." rengek Restu yang bersembunyi di balik kedua kaki sang ibu. Tangan bocah itu sudah bergetar memegang ujung baju Rista.


__ADS_2