
"Apa yang harus ku lakukan, Ya Tuhan?" gumam Zayn menengadah menatap frustasi pada langit-langit rumah sakit.
Di tengah dinginnya malam Zayn seorang diri memikirkan apa yang harus ia lakukan malam ini. Sebagai mantan seorang ayah ia tentu begitu sangat mengerti bagaimana takutnya Restu saat ini. Hatinya sedih mendengar telepon dari sang ibu yang mengatakan jika Restu terus menangis sehabis kejadian menakutkan tadi.
Tanpa pikir panjang, pria tampan itu memilih menghubungi Shopia sang adik ipar. Ia meminta pertolongan untuk menggantikannya malam ini menjaga Calvina. Shopia tentu menyanggupi. Ia tahu bagaimana sedihnya menjadi Rista meski saat ini dirinya adalah adik dari Calvina.
"Kak Zayn jangan sedih. Kakakku orang yang baik. Dia akan mengerti posisi Kak Zayn saat ini. Pergilah, Kak." ujar Shopia setelah tiba di rumah sakit.
Zayn pun hanya mengangguk dan berjalan cepat keluar meninggalkan sang istri. Matanya menatap dalam wajah cantik Calvina. Pria itu meminta ijin pada sang istri untuk pergi meninggalkannya malam ini.
Tak di sangka sosok bayi yang baru saja menangis histeris kini tenang tersedu-sedu dalam gendongan Zayn. Ia memejamkan mata saat Zayn mendaratkan tangannya di kening mengusap berulang kali. Ketakutan yang bayi itu rasakan seolah sirna saat ini ketika ia mendapatkan pelukan perlindungan dari pria yang bukan ayahnya.
"Astaga, apa dia menunggu Zayn sejak tadi?" ucap Gauri geleng kepala. Tangannya mengusap punggung Rista yang masih syok.
Zayn tersenyum melihat ketenangan yang Restu dapatkan darinya. Hatinya semakin menghangat melihat bayi tampan di dalam gendongannya saat ini.
"Apa kejadian ini masih belum cukup untuk menjadi pelajaran kamu, Rista? Pilihannya hanya dua. Tetap tinggal di rumah ini atau memenjarakan ayahmu?" ketus Zayn berucap pada Rista.
Sebelumnya ia sudah memperingatkan wanita itu tetap berada dalam pengawasan keluarganya. Rista tentu sadar ia telah salah mengambil keputusan. Kini wanita itu hanya bisa menunduk sedih atas perbuatannya yang sudah membuat sedih dan ketakutan sang anak. Bahkan malam ini semua keluarga Zayn pun turut di buat panik.
"Maafkan saya, Tuan Zayn. Tapi, beliau satu-satunya ayah saya. Saya tidak ingin melihat Ayah saya menderita. Hanya dia yang saya punya, Tuan. Saya yakin suatu saat nanti akan berubah." tutur Rista meneteskan air mata kekecewaan.
Zayn hanya memejamkan mata kesal mendengar ucapan Rista yang sama sekali tidak memuaskan. Ia ingin sekali memberi pelajaran pada pria tua itu. Namun, Rista selalu memohon untuk membiarkan sang ayah.
__ADS_1
"Saya baru melihat seorang ibu yang merelakan air mata anaknya demi seorang ayah tidak berguna seperti itu." ucap Zayn memilih melangkah menuju kamar Restu. Ia memilih meletakkan bayi yang terlelap itu di ranjangnya.
Selang beberapa saat berikutnya, kini Zayn kembali lagi dengan wajah dingin. Ia merasa tak tahu harus mengambil jalan seperti apa lagi sebab semuanya ada di tangan Rista.
"Zayn, semuanya akan aman jika kamu menikah dengan Rista." Tiba-tiba kata-kata itu terlontar begitu saja.
Rista menatap Zayn melihat bagaimana respon pria itu. Zayn terkekeh kecil menggelengkan kepala mendengar ucapan sang ibu. Sebuah lelucon yang tidak masuk akal baginya.
"Ibu jangan bercanda. Itu hal yang tidak mungkin. Calvina satu-satunya istri untukku, Bu. Dan semua yang terjadi pada Rista bukan sesuatu yang tidak bisa di cegah. Ini hanya kebaikannya yang terlalu berlebihan." Dengan perasaan kesal Zayn memilih pergi dari rumah.
Keadaan Rista sama sekali tak ia perdulikan. Zayn memilih menghabiskan waktunya menjaga sang istri. Setidaknya Restu sudah nampak baik-baik saja. Sayang, belum sempat Zayn menjangkau pintu utama, suara pelayan sudah terdengar menghentikan langkah kakinya.
"Maaf Tuan, Restu sudah nangis lagi. Saya gendong tidak mau diam juga." Zayn menghela napas. Pria itu memilih kembali ke kamar dengan menatap Rista.
Di luar Rista hanya menurut ketika Gauri membawanya ke dalam kamar untuk istirahat.
"Kamu istirahat dan tenangkan pikiran kamu. Kita ini sudah seperti keluarga. Kamu banyak membantu kami, Rista. Jangan sungkan meminta saran dari kami untuk menghadapi ayah kamu. Sekarang yang harus kita pikirkan adalah Restu. Dia sangat bahaya jika berada di luar rumah." Nasihat Gauri hanya Rista tanggapi dengan anggukan kepala saja.
Shopia begitu cemas menunggu kabar dari Zayn malam ini.
"Kakak beruntung memiliki suami yang sebaik Kak Zayn. Apa pun keputusan Kak Zayn kedepannya aku mendukungnya, Kak. Dia laki-laki yang baik dan pantas bahagia. Kakak pasti akan paham maksudku bukan?" tutur Shopia mengusap punggung tangan sang kakak.
Meski kecil harapannya untuk sang kakak kembali sembuh. Namun, Shopia terus berharap waktu bahagia itu akan tiba. Hingga waktu pagi pun kembali menyapa. Seperti biasa Rista tetap bangun subuh untuk menyiapkan makanan keluarga Yonathan mau pun Zayn.
__ADS_1
Wanita yang memiliki mata sembab itu tampak cekatan menata makan di rantang yang akan Zayn bawa ke rumah sakit. Setelah semua selesai ia berdiri mematung di depan kamar Restu. Gugup jika harus bertemu Zayn di kamar anaknya.
"Masuk saja, Ris. Zayn pasti sudah bangun." ujar Gauri melihat Rista diam mematung.
Ia tahu Rista takut jika mendapat ucapan bernada ketus dari sang anak. Zayn bukan pria yang mudah melupakan masalah yang terjadi.
"Nanti saja, Bu. Saya mau mandi saja dulu." ujar Rista memilih menghindar.
Zayn begitu sangat lelap tidur. Hal ini terjadi bukan sekali dua kali. Ia sudah sering kali terlelap tanpa ingat waktu ketika pagi harus pergi bekerja. Tubuh yang lelah memang tak bisa di bohongi. Di sini Gauri menatap sang anak dengan tatapan sendu.
Sebagai seorang ibu ia pun ingin hidup anaknya bahagia. Tetapi, mengingat siapa menantu kesayangannya tentu membuat Gauri merasa tak rela jika sosok Calvina pun harus tergantikan.
"Kasihan kamu, Zayn. Seharusnya di usia yang seperti ini kamu akan hidup bahagia bersama anak dan istrimu. Bukan hidup tanpa arah seperti ini, Nak. Bagaimana Ibu harus bersikap? Calvina belum sadar sampai saat ini." Pelan usapan tangan itu terasa mengganggu tidur lelap Zayn.
"Bu?" sahut Zayn kaget.
Matanya menangkap air mata yang tertahan di kedua mata wanita paruh baya yang telah melahirkan dirinya.
"Katakan jika kamu kelelahan, Zayn. Ibu siap mendengarkan keluhanmu." tutur Gauri. Sementara Zayn justru terkejut ketika matanya tak sengaja melihat jam di dinding. Pertanda waktunya sudah sangat kesiangan.
"Bu, aku harus ke kantor ada meeting pagi ini. Aku akan siap-siap dulu." Ia berlari ke kamar miliknya dan bersiap. Gauri yang hendak berbicara pun tak mendapatkan kesempatan.
Lain halnya dengan keadaan di rumah sakit. Sosok wanita cantik yang berjaga semalam hanya bisa menunduk mendengar amarah sang nenek.
__ADS_1
"Benar-benar keterlaluan, Zayn. Dia sudah meninggalkan Calvina demi wanita asing itu. Lihat saja, Nenek tidak akan memberinya ampun, Shopia." Dada Fara nampak naik turun melihat ruangan yang tidak menampakkan wajah Zayn sama sekali.