
Di kediaman sederhana milik Rista nampak beberapa orang pria menerobos masuk. Wajah yang tak asing bagi wanita beranak satu itu. Kebingungan yang melanda pikirannya kini terjawab sudah. Zayn tak membalas pesan dan mengangkat telepon darinya. Tetapi mantan suaminya itu justru mengutus orang untuk membantunya di sini
"Tolong hentikan! Biarkan aku yang mengurus anakku. Kalian tolong pergi. Katakan padanya kami tidak butuh bantuannya lagi." Mendadak dada Rista terasa panas dan sesak sekali. Hatinya sakit melihat kenyataan bahkan Zayn tak mau turun tangan langsung untuk melihat keadaan anaknya.
Meski bibir berkata ingin lepas, namun hati yang paling dalam Rista tak bisa berbohong. Rasa yang sudah tumbuh terlalu besar di hatinya pada sang mantan suami kini membuatnya semakin sedih. Ini bukan perkara jarak mereka, melainkan ada Restu yang membuatnya sangat sedih melihat nasib sang anak benar-benar di acuhkan oleh Zayn.
Ia merentangkan kedua tangan pada tiga orang pria yang berdiri tegak di depannya. Air matanya jelas terlihat menetes di kedua pipi. Tatapannya penuh kebencian saat ini.
"Jangan menghalangi kami. Tuan memberi perintah untuk segera kami laksanakan. Jangan sampai keegoisan anda membuat Tuan kecil semakin parah. Tuan akan bertemu dengannya di rumah sakit nanti. Dan anda akan kami beri kabar jika sudah boleh datang." Bukannya senang mendengar ucapan anak buah dari Zayn. RIsta justru tertawa remeh.
"Aku adalah ibunya. Atas dasar apa dia melarangku untuk mengatur kapan aku bisa datang? Aku akan tetap bersama anakku." ujar Rista lagi.
Rasa sakit hati begitu sulit membuat pikiran wanita beranak satu itu menjadi waras seperti janjinya pada diri sendiri. Ini tentu bukan perkara Zayn dan Restu yang paling utama. Namun, perkara hati jelas terlihat ada kecemburuan atas kekuasaan Zayn memerintah sang anak buah. Ada harapan yang ia ingin dapatkan saat ini di lubuk hati yang terdalam. Rista menginginkan bertemu Zayn meski hanya menatapnya saja.
__ADS_1
"Ayah..." gumaman kecil itu membuyarkan fokus Rista dan ketiga pria di depannya.
Mereka semua bergerak mendekati ruangan tempat Restu berada. Jelas wajah bocah kecil itu menggigil dan semakin pucat. Tanpa mereka perduli lagi dengan Rista, segera Restu di gendong dan di bawa keluar.
"Hei apa yang kalian lakukan? Kembalikan anakku!" pekik Rista panik. Tubuhnya yang ingin berlari mengejar sang anak di tahan oleh satu orang pria.
"Tetaplah di sini." pintahnya menahan pundak Rista dan menatapnya dengan dalam.
Segera Rista menepis tangan anak buah mantan suaminya. Ia percaya Zayn tak akan melakukan niat buruk pada anaknya. Namun, ia hanya tak ingin saat ini jika sampai Restu jauh lebih membutuhkan Zayn dari pada dirinya.
Sampai pada tempat yang di tuju, akhirnya di ruangan ini dua orang pria berbeda usia bertemu juga. Restu yang membuka matanya samar melihat kehadiran Ayah tirinya. Bibir pucatnya tersenyum dengan mata yang berair akibat suhu badannya sangat panas.
Lemas Restu rasakan di seluruh tubuhnya, namun ia memaksa untuk tetap memeluk tubuh kekar sang ayah. Zayn pun demikian membalas pelukannya. Dari arah lain layar ponsel pun menunjukkan seorang wanita yang tersenyum menyaksikan pemandangan haru itu. Atas dukungan dan ide dari sang istri, Zayn mengambil jalan ini. Bertemu dengan Restu tidak serta merta harus bertemu dengan Rista juga.
__ADS_1
"Ayah, Restu rindu sekali. Ayah kenapa lama sekali datangnya?" tanya bocah kecil itu.
Zayn yang mengusap lembut kepala bocah itu nampak tersenyum. Sedang Calvina kini menghilangkan senyum di wajahnya. Rasa bersalah membuatnya kembali sedih. Kasihan akan perasaan si bocah di depan sana sebab membuat mereka berpisah dari sang suami.
"Ayah sedang banyak sekali pekerjaan. Itu sebabnya Ayah tak bisa kembali. Tapi, sekarang Ayah tidak sibuk lagi. Kita akan bisa bertemu kapan pun Restu mau." ujar Zayn dengan senang hati.
Pikiran pria itu sudah mantap ingin menjelaskan secara perlahan akan hubungannya dengan Rista yang sudah berpisah. Ia tak ingin terjebak oleh alasan yang mereka buat pada Restu hingga berakhir menyiksa batin si anak.
"Wah benarkah?" Antusias Restu mendengarnya.
"Oh iya...Ayah ingin mengenalkan Restu dengan seseorang." Zayn pun melangkah menjauh dari ranjang rawat Restu dan mengambil ponselnya.
Di sana ada wajah cantik sang istri yang sudah tak tersenyum seperti tadi. Calvina nampak membulatkan mata terkejut saat sang suami justru membawanya mendekat pada Restu.
__ADS_1
Bibir mungil calon ibu itu tampak terkatup rapat tak berani bersuara. Namun, bukannya Zayn menyembunyikan panggilan video mereka, justru kini wajah tampak Zayn sudah berganti menjadi wajah Restu.
"Ayo Restu sapa dong Tante cantik ini." ajar Zayn pada sang anak.