
Air mata kesedihan jatuh pada saat Rista melihat sosok pria yang ia cari selama ini kini berdiri di hadapannya. Kedua tangan di borgol di depan dengan pandangan menunduk. Tak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Rista hanya bisa menggelengkan kepala.
"Untuk apa kau kesini?" Pertanyaan itu muncul setelah pria di depannya duduk.
"Kakek!" seru Restu memeluk kaki pria tua itu.
Rista semakin sedih melihat anaknya yang memanggil kakek. Keduanya duduk tanpa Candra terlihat menghiraukan sang cucu. Rista mengusap air mata ia tak ingin membuang waktu bersama sang ayah.
"Apa yang terjadi, Ayah? Mengapa Ayah tidak memberiku kabar?" tanya Rista.
Susah payah bertemu ingin rasanya Rista memeluk ayahnya. Namun, keadaan selama ini membuatnya tak bisa dekat sebab merasa ada jarak yang menghalangi kedekatan mereka.
"Jangan tanyakan apa yang tidak perlu kau tanyakan, Rista. Tanyakan bagaimana kau saat ini? Apa sudah kau dapatkan apa yang aku perjuangkan?" Tatapan mata Candra terlihat sangat tajam.
Seolah kejahatannya sama sekali tak berkurang selama ini. Semua siksaan yang ia dapatkan tak merubah sikapnya. Rista pun terkejut, ia pikir sang ayah akan down dan menangis di depannya. Semua ternyata berbanding terbalik. Dan pria itu masih kokoh seperti batu.
Perlahan Rista menggelengkan kepala. Ia belum mendapatkan satu pun dari rencananya bersama sang ayah. Anak atau pun harta tak ada yang wanita itu dapatkan. Melihat gelengan kepala Rista tentu Candra sangatlah geram. Sampai tak bisa menahan diri tangannya terangkat ingin memukul wajah sang anak. Sayang, pergerakannya terbatas akibat borgol dan meja yang menjadi pembatas di antara mereka.
"Ayah, tolong berhentilah." Rista menangis saat Candra di tahan oleh dua petugas.
__ADS_1
Restu yang melihat amarah sang kakek berlari memeluk sang ibu. Ia ketakutan mendengar Candra marah dan teriak-teriak.
"Dasar anak tidak bisa di andalkan! Apa saja yang bisa kau lakukan? Aku sudah mengatur semuanya dengan baik. Tapi kau malah merusak semuanya." Candra memaki Rista yang hanya bisa menangis.
Dalam tangis yang tak bersuara, Rista merutuki dirinya. Merutuki takdir yang berjalan dalam hidupnya begitu kejam. Hanya bisa memaki dalam hati. Bibir pun ia bungkam dalam tangis. Rasanya semakin sesak kala merasakan tangan mungil mengusap pipi basah wanita itu.
"Ibu jangan menangis lagi." ujar Restu yang hanya di angguki Rista.
"Kita pulang yah, Sayang?" Pada akhirnya Rista menyerah.
Ia menggandeng tangan sang anak untuk keluar dari sana. Melihat sang ayah tak bisa melihatnya sebagai anak, akhirnya Rista memilih pergi. Baginya Restu tak pantas melihat apa yang ia lihat sejak dulu. Sudah cukup dirinya saja yang menderita. Jangan lagi sang anak.
Tanpa ia tahu ada sepasang mata yang mengirim kabar kedatangan Rista pada Calvina.
"Orangtua benar-benar tidak punya hati. Kenapa dia begitu tega dengan anaknya. Kasihan Rista. Tapi, mereka sudah keterlaluan padaku." Calvina tetaplah wanita yang berhati lembut. Selamanya ia tak bisa kasar pada siapa pun yang membencinya.
Bagaimana sika Candra padanya selama masa penyekapan, nyatanya tak membuat Calvina hilang belas kasih pada Rista.
"Dengan bersama Zayn, aku harap dia mendapatkan obat dari sakitnya. Aku yakin Zayn adalah pria yang tepat untuk Rista." gumamnya sembari menatap ke arah jendela kamar.
__ADS_1
Tiba-tiba saja suara seseorang muncul dari pintu kamarnya. Rista terkejut ketika mendengar suara itu.
"Zayn adalah pria yang tepat untukmu, Cal. Bukan untuk orang lain. Takdir tidak akan pernah salah. Bagaimana mungkin seseorang bisa merubah takdir itu sekali pun itu kamu." Rista sontak memutar tubuhnya menatap pria yang mendekat padanya.
"Kakek," sapanya kaget.
Jika mungkin Fara yang mendengar tentu wanita itu akan mendukung ucapan Calvina. Namun, kini sang kakek yang mendengarnya.Tindakan Calvina saat ini sudah salah besar. Dirinya yang jauh lebih berhak untuk bersama dengan Zayn. Bahkan tanpa adanya anak sekali pun. Semua orang tentu juga akan merasa bahagia jika keduanya bersama kembali.
"Kasihan dia, Kek. Dia lebih butuh Zayn dari pada aku. Aku yakin semua bisa aku lewati, Kek." Calvina bahkan di saat hatinya begitu sakit berbicara, ia masih bisa tersenyum pada pria tua di depannya.
Hanya usapan kepala yang pria tua itu berikan di kepala sang cucu. "Pakailah hatimu dalam bertindak. Hati tidak akan pernah berbohong, Cucuku. Kau wanita baik yang pantas di samping Zayn. Pria yang Kakek percaya akan menjagaku segenap jiwanya."
"Terimakasih, Kakek." Hanya kata itu yang bisa Calvina utarakan.
Dalam hati terdalamnya ia begitu merindukan sang suami. Merindukan waktu berdua bahagia dan saling memeluk. Saat ini hidup mereka benar-benar hancur hanya karena insiden kecelakaan di masa kehamilan yang tak pernah Calvina duga akan merubah semua hidupnya.
Air mata wanita itu jatuh setelah kepergian sang kakek. Calvina sadar ia tak akan mudah melupakan Zayn yang sampai detik ini pun masih utuh namanya di hatinya.
"Aku merindukanmu, Zayn. Aku sangat merindukanmu." Kata yang tak pernah ia suarakan kini akhirnya tercetus juga dari bibir wanita itu. Tangannya bergerak mengusap air matanya sendiri.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, nama yang baru saja Calvina sebut bergerak menatap ponsel yang menunjukkan foto sang istri tercinta. Duduk menunggu kepulangan Rista di rumah membuat Zayn bosan. Menatap dalam wajah cantik yang tersenyum di dalam foto itu. Sampai akhirnya ia mendengar suara yang memanggilnya.
"Ayah!"