
Gauri berhambur memeluk sang anak ketika melihat air mata Calvina jatuh di pipinya. Hal yang paling menyakitkan ini tak pernah Gauri tahu jika akan terjadi. Tak ingin menjadi seorang ibu yang egois mementingkan kebahagiaan sang anak sampai rela membuat sang menantu menderita selamanya. Justru kini ia harus mempertanggung jawabkan keputusan yang tidak pernah terpikirkan jika akan menjadi salah di waktu berikutnya.
"Maafkan Ibu, Cal. Ibu harus mengatakan ini semuanya padamu. Zayn..."
"Jangan katakan apa pun, Bu. Aku mengetahui semuanya tentang Zayn dan wanita itu. Aku menyaksikan pernikahan mereka saat itu dari tempat aku di sekap." Gauri menggeleng tak menyangka betapa sakitnya sang anak melihat pernikahan yang tidak pernah ia ijinkan.
Hanya bisa meneteskan air mata, luka yang begitu sakit di dadanya seolah telah tertutup saat ini. Calvina tahu bagaimana pun ia menangis saat ini tak ada yang bisa kembali lagi. Dengan pernikahan Zayn dan Rista yang sudah berjalan beberapa waktu tentu ia paham semua telah terlambat. Zayn sudaha bahagia dengan wanita lain.
"Ibu bersalah, Calvina. Ibu bersalah. Maafkan Ibu, Nak. Kali ini Ibu akan menurut apa yang kamu minta asal kalian tetap bersama Ibu dan Ayah. Tolong jangan tinggalkan kami lagi, Nak." Gauri menangis terisak mengatakan permohonannya.
Betapa takut bayangan kembali sang anak pergi menyisahkan kesunyian. Calvina terisak dalam diamnya. Bibir gemetar miliknya terus berusaha ia bungkam agar tidak bersuara. Sesak sekali membayangkan betapa ia bahagia dahulu bersama sang suami dan anak. Semua kebahagiaan yang Tuhan titipkan mendadak lenyap berganti dengan mimpi buruk yang tak bisa ia hilangkan.
"Ayah juga bersalah, Calvina. Tolong maafkan Ayah dan Ibu. Kami tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba. Meski besar harapan kami kamu dan adikmu kembali. Ayah benar-benar tidak tega melihat Zayn yang terus terpuruk. Jika ada yang kamu salahkan, maka kamilah yang bersalah, Nak." Matthew beralih memeluk Calvina.
Tangis kesedihan terus terdengar di ruangan itu. Shopia bahkan ikut menangis melihat betapa sakitnya sang kakak dengan kejadian ini. Seharusnya kedatangan mereka di sambut dengan tangis bahagia. Tetapi tidak untuk saat ini.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengganggu mereka, Bu. Zayn sudah cukup menungguku selama ini. Aku akan rela jika suamiku sudah bahagia dengan wanita itu. Aku tahu ini semua sudah garis yang harus aku terima. Aku akan belajar menerima semuanya." tutur Calvina lirih.
Berbagi suami membuatnya tak rela. Jika harus merusak rumah tangga sang suami dengan sang madu, rasanya Calvina begitu jahat. Mendengar bagaimana Shopia menceritakan tentang Rista yang begitu tulus merawatnya.
Gauri menggeleng menangis tanpa henti mendengar kelapangan hati sang anak. Tak kuasa ia menahan rasa bersalah yang kian menggunung, segera wanita paruh baya itu mencium punggung tangan sang anak. Meminta maaf sebesar-besarnya sebab telah ikut campur dalam permasalahan hidup Zayn dan sang anak.
"Tidak, Bu. Ibu sudah tepat. Tidak ada yang perlu di maafkan. Aku sudah bersyukur bisa tetap hidup. Meski kedua anakku tidak bisa ku lihat lagi saat ini. Aku merindukan mereka, Bu. Boleh aku mengunjungi mereka saat ini?" tanya Calvina menjatuhkan kembali air mata.
Kesadarannya dari koma begitu banyak mendapat kejutan pahit. Kehilangan suami, anak dan calon anaknya. Matthew yang paham sakitnya sang anak tak lagi sanggup menahan diri Calvina selain mengangguk menuruti permintaannya.
Sakit kala pertemuan dengan keluarga yang keduanya pikir telah tiada membuat Gauri dan Matthew sampai bingung harus mengekspresikan diri seperti apa. Banyak kejadian yang masih mereka bingungkan. Bahkan untuk memeluk penuh kerinduan pada Calvina dan Shopia mau pun Fara tak bisa mereka uraikan saat ini.
Di sinilah dua tanah yang menggunung dengan hiasan rumput jepang hijau segar terlihat Calvina menurunkan seluruh tubuhnya ambruk dari atas kursi roda memeluk tanah yang sudah rapi. Tangisan pilu penuh rasa bersalah yang selama di sekap ia tahan akhirnya tumpah begitu saja. Calvina sadar semua terjadi karena kecerobohannya.
Gauri dalam pelukan sang suami ikut menangis melihat betapa rapuhnya Calvina saat ini.
__ADS_1
"Tidak!!!!" teriaknya menggema di pemakaman .
"Anakku, Tuhan! Anakku! Kembalikan anakku! Aku mohon padaMu. Aku mohon kembalikan kedua anakku!" Jeritan kuat terdengar bersamaan Calvina menelungkupi makam yang bergandengan itu.
Tubuh yang baru saja sadar tak ia perdulikan bagaimana lemahnya saat ini. Sakit yang bertubi-tubi ia rasakan. Hantaman kecelakaan hingga berbaring di rumah sakit bertahun-tahun lamanya, dan harus kehilangan suami bersamaan ia kehilangan anak. Calvina tak tahu lagi harus berbuat apa. Ingin rasanya bersyukur sadar dari koma, namun melihat semua yang ia miliki di ambil membuatnya ingin kembali ke masa koma dan pergi meninggalkan dunia.
"Apa salahku? Apa salahku padamu, Tuhan? Semua milikku Engkau ambil. Aku mohon bangunkan aku dari mimpi burukku ini." Kembali Calvina memeluk makam di bawahnya.
Gauri dan Matthew kompak meraih pundak sang anak. Bertiga mereka berpelukan saling menguatkan. Anak yang begitu mereka sayangi kini tengah kehilangan arah.
"Sayang, ada Ibu dan Ayah. Sadarlah, Nak. Apa yang kamu inginkan saat ini? Kataka." tutur Gauri.
"Katakan, Cal. Ayah akan mengabulkan apa pun yang kamu inginkan." ujar pria paruh baya itu.
Hatinya tak kuasa melihat bagaimana hancurnya sang anak. Sebagai seorang ayah ia akan melakukan apa pun kali ini demi menebus kesalahannya. Sayang, Calvina hanya menggeleng lemah. Ia sendiri tak tahu apa lagi yang ia inginkan saat ini selain mendapatkan kembali kehidupannya di masa lalu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kembali ke masa lalu, Bu, Ayah. Aku ingin anak-anakku, aku ingin suamiku. Aku ingin statusku yang dulu. Aku ingin pernikahanku yang dulu." ujar Calvina lirih namun sukses membungkam bibir kedua orangtuanya.