Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kedatangan Nenek dan Kakek


__ADS_3

Gauri terkejut dan menoleh. Matanya melihat sosok wanita tua yang nampak berjalan mendekatinya. Wajah tua yang selalu lembut kini berubah begitu kejamnya. Entah amarah apa yang membuatnya berubah seperti ini.


"Bu?" Gauri berdiri. Namun, kehadirannya seperti angin lewat di mata wanita tua itu. Ia tak menghiraukan Gauri dan justru mendekati wanita cantik yang saat ini terbaring di ranjang rumah sakit.


Tangan keriput yang gemetar menyentuh lembut kening Calvina, air matanya bahkan jatuh tak tertahan lagi. Ia datang bersama seorang pria tua yang tak lain adalah sang suami.


"Kamu keterlaluan, Gauri. Apa maksud kamu menyembunyikan semua ini dari Ayah dan Ibu? Hah!" sentak Firdaus.


Gauri yang masih tak menyadari kenyataan jika kedua orangtuanya datang tampak diam memikirkan apa yang terjadi saat ini dan berikutnya. Sebab selama empat tahun belakangan ini kedua orangtua itu tak di beri tahu kabar kecelakaan yang menimpa Calvina dan juga cicitnya.


"Ayah, Ibu, ini semua demi kesehatan kalian. Kami takut membuat kalian jatuh sakit." sahut Gauri jujur adanya.


Sayang keduanya tak lagi menghiraukan jawaban Gauri. Mereka memeluk Calvina dan menangis di sana. Syok tentunya melihat keadaan cucu kesayangan mereka sudah koma seperti ini.


"Kamu kenapa bisa seperti ini, Cal? Nenek sudah sangat ingin marah padamu karena kalian tidak memberi kabar apa pun pada kami. Mengapa jadinya seperti ini? Nenek benar-benar tidak menyangka ini semua, Calvina." tangis Fara dengan suara seraknya.


Tubuh yang sudah tidak lagi muda membuatnya mudah lelah. Gauri berusaha mendekat dan meminta kedua orangtuanya untuk duduk lebih dulu. Namun, Fara menepis kasar tangan sang anak.


"Kamu benar-benar keterlaluan, Gauri. Ibu tidak menyangka kamu setega ini. Calvina sedang berjuang hidup dan mati, tapi kalian justru menyembunyikan ini semua. Bagaimana bisa kamu berbohong pada Ibu dan Ayah tentang kecelakaan itu? Kamu tidak tahu bagaimana kami menahan rindu selama ini pada Calvina? Bahkan untuk melihat cicit Ibu yang terakhir kalinya tidak bisa Ibu lakukan. Ini semua gara-gara kamu!" Begitu marahnya Fara pada sang anak.

__ADS_1


Tanpa mereka perduli jika yang di khawatirkan Gauri adalah kesehatan mereka berdua. Mendapat makian dari kedua orangtua, Gauri hanya bisa menunduk menangis. Ia tak tahu harus berbuat apa meski keadaan kembali di ulang ke empat tahun lalu. Hanya kata maaf yang bisa ia berikan saat ini.


"Selama empat tahun Calvina berjuang, dan apa katamu tadi? Akan menggantikan Calvina dengan wanita lain? Wanita yang menumpang di rumah orangtua Zayn kan? Kamu jangan macam-macam, Gauri. Ibu tidak setuju. Bagaimana pun Zayn harus tetap menunggu Calvina sadar dan hidup bersama. Ibu tidak akan biarkan itu terjadi. Zayn adalah milik cucuku!"


Gauri hanya diam. Baginya berdebat dengan sang Ibu tidaklah berguna. Sudah pasti ia akan kalah.


"Bu, duduklah dulu dan minum. Kalian pasti lelah perjalanan jauh bukan?" sahut Gauri masih lembut.


Ia tahu sang ibu masih belum cukup memarahi dirinya. Sampai terlihat Fara menghela napas kasar.


"Ibu benar-benar tidak menyangka ini semua terjadi. Ibu datang ke Indonesia ingin memarahi Zayn dan Calvina karena tidak pernah memberi kabar. Tetapi justru kedatangan Ibu membuat Ibu sangat syok. Kalian empat tahun begitu pintar menyembunyikan ini semua." sahut Fara kembali. Di sampingnya Firdaus tampak mengusap lembut pundak sang istri yang naik darah.


"Ayah, Ibu." sahut Matthew saat baru saja membuka pintu ruangan rawat sang anak.


Kedatangannya di sambut tatapan marah kedua orang tua itu. Matthew sadar jika mereka melakukan kesalahan. Segera ia berlutut di depan kedua mertuanya.


"Maafkan kami, Ayah, Ibu. Kami hanya tidak ingin kalian kenapa-napa. Sudah cukup kami kehilangan cucu dan calon cucu kami. Bahkan sampai saat ini Calvina pun masih tidak sadar. Kami sangat takut kalian jatuh sakit juga." Air mata pria itu akhirnya jatuh setelah sekian lama ia tahan.


Sebagai seorang Ayah tentu hatinya pun rapuh melihat anak wanitanya yang menderita di atas ranjang rumah sakit. Selama empat tahun berusaha kuat demi sang istri tercinta. Dan kini Matthew hilang kendali. Ia melampiaskan tangisnya dan Fara pun memeluk sang menantu.

__ADS_1


"Sudah. Sudahlah. Jangan menangis lagi. Ibu tahu kekhawatiranmu, Matthew. Ibu sangat tahu itu. Ayolah jangan menangis lagi. Ibu hanya kecewa pada kalian karena merahasiakan ini semua. Ibu benar-benar sedih melihat keadaan kalian semua di sini. Itu sebabnya sepajang hari Ibu tidak bisa tenang di sana. Ibu memikirkan keadaan kalian." Fara pun menangis lagi.


Suasana di ruangan itu sangat pilu. Keluarga yang tengah rapuh menghadapi cobaan berat. Matthew sengaja tak memberi kabar pada keluarga menantu. Sebab mereka pun tengah menghadapi hal berat juga.


"Apa orangtua Zayn kesini juga?" tanya Fara.


"Mereka juga tengah mendapat musibah, Bu. Ayahnya Zayn juga tengah di rawat di rumah sakit ini. Akibat tekena stroke." jawab Gauri membuat Fara dan suami tercengang kaget.


"Stroke?" Gauri mengangguk.


Sampai wanita tua itu mengusap dadanya yang terasa berdenyut tidak karuan. Hari itu mereka memutuskan mengunjungi keluarga Zayn di ruangan lainnya. Hingga sore tak terasa tiba menyapa. Zayn yang baru pulang dari kantor langsung menunju rumah sakit.


"Tuan Zayn?" sapaan terdengar dari lorong rumah sakit. Pria itu berhenti dan tahu siapa yang memanggilnya.


"Rista, kamu kesini?" Rista hanya mengangguk dan memperlihatkan makanan serta tas yang berisi pakaian dan keperluan Zayn.


Mereka berjalan beriringan ke ruangan rawat Calvina. Hal yang membuat Zayn sangat syok kala melihat sepasang suami istri tua tengah menatapnya penuh tanya bergantian dengan menatap Rista di sampingnya.


"Kamu tidak sedih, Zayn?" Pertanyaan pertama yang Fara layangkan pada cucu menantunya. Dan tatapan tak suka ia tujukan pada Rista yang kini menunduk.

__ADS_1


"Nenek, apa maksud Nenek?" tanya Zayn balik.


__ADS_2