
Wajah sendu penuh keputusasaan tampak menyunggingkan senyum miris. Seolah menertawakan nasib yang menghampiri dirinya saat ini. Sebuah ponsel menjadi titik fokusnya saat ini. Pesan singkat membuat Rista tak bergerak sama sekali.
“Dimana kalian? Rista, pulanglah kasihan Restu. Aku menunggu kalian.” Itulah pesan yang Rista baca dari sang suami.
Zayn nampak meminta mereka pulang. Sangat sadar jika kepulangan yang di minta Zayn bukanlah untuk dirinya. Semata-mata pria itu hanya mencemaskan sang anak. Bahkan sudah beberapa hari kepergian mereka, Zayn baru ingat untuk meminta mereka pulang. Tak ada telepon hanya pesan singkat tanpa paksaan.
Mungkin Rista adalah orang yang paling bahagia jika saja sang suami memintanya pulang karena rasa cinta pada anak dan istrinya. Sayang, itu semua hal yang tidak mungkin. Dan Rista tahu Zayn tidak akan bisa memberikan perasaan itu padanya. Entah sampai kapan.
“Miris yah hidup kita, Nak. Bahkan ayah kamu saja tidak berniat mencari kita. Apa setidak penting itu pernikahan yang berjalan selama ini?” ujar Rista sembari mengusap kepala sang anak.
Di kamar ia menidurkan Restu yang sangat lelap. Tangannya mengusap pelan kepala sang anak.
“Rista yah?” Tiba-tiba suara itu datang menyapa.
Rista mengangkat wajah menatap wanita yang berjalan masuk ke dalam kamarnya. Wanita paruh baya yang jelas Rista lihat baru datang bersama Reza.
“Iya, Bu.” jawab Rista pelan.
Takut jika wanita di depannya juga akan marah ketika tahu niat kedatangan Rista ke desa ini.
__ADS_1
“Duduk, Bu. Maaf saya tidak menyambut kedatangan Ibu tadi.” Wanita paruh baya itu hanya tersenyum dan menggeleng.
Matanya beralih menatap bocah yang mendengkur halus.
“Cucunya Pak Candra tampan sekali, bagaimana bisa beliau tega tidak mengakuinya.” tuturnya terdengar pelan sembari menghela napas kasar.
Rista masih saja diam mendengar. Ia tak tahu harus berkata apa saat ini. Jujur ingin tahu semua informasi secepat mungkin. Sayang, ia tahu wanita di depannya ingin berbicara lebih banyak sebagai basa basi.
“Sudah lama kalian datang. Maaf yah jika Reza menyambut kalian dengan buruk. Dia hanya tidak bisa menerima keadaan saja.” tambah wanita paruh baya itu.
Rista masih diam menunggu kelanjutan sampai akhirnya ia melihat dua bola mata wanita itu berkaca-kaca.
“Ayahmu benar-benar orang yang tidak pernah saya tahu akan setega ini pada bapaknya Reza, Ris. Beliau memaksa semua orang-orangnya untuk tetap mengikuti perintahnya meski mereka semua menolak. Andai waktu itu Reza datang tidak tepat waktunya, pasti suami saya tidak akan selamat.” Kini wanita itu meneteskan air mata menundukkan kepalanya.
“Apa yang Ayah saya lakukan pada Pak Danang, Bu? Bukankah Ayah saya selalu mendengar nasihat Pak Danang selama mengurus pekerjaan ini? Beliau tangan kanan Ayah yang sangat baik bahkan pada saya, Bu.” ujar Rista lagi,
Bu Ida menggeleng. Bibirnya bergetar menahan sedih. Takut sampai saat ini terus menghantuinya kala mengingat suaminya hampir berakhir tragis.
“Kasihan wanita itu, Rista. Dia mendapatkan perlakuan sangat buruk oleh ayahmu. Bahkan dirinya hampir di lecehkan saat itu. Suami saya bahkan yang selama ini begitu setia dengan ayahmu sampai nekat melawannya. Kalau tidak, maka ayahmu akan merusak diri wanita dari suamimu.” Rista membelalakkan matanya lebar.
__ADS_1
Terkejut mendengar apa yang terjadi pada sang ayah mau pun pada Calvina. Rista menggeleng dengan mulutnya yang tercengang.
“Ayahmu ingin merusak hidup wanita itu. Entah karena napsu atau karena ingin menyatukan kamu dan suami dari wanita itu. Kasihan dia, Rista. Dia sudah cukup menderita. Sudah sepantasnya wanita itu bahagia dengan hidupnya dan miliknya yang sebenarnya.” Rista terdiam.
Tahu jika yang di maksud Bu Ida milik Calvina tentu adalah Zayn. Pria yang sedang ia pertahankan saat ini.
“Kasihan Calvina.” gumam Rista lirih.
Ingat jika perjanjian dengan sang ayah waktu itu hanya untuk mengamankan Calvina dari jangkauan Zayn, bukan untuk melecehkannya. Bahkan saat ini tanpa ia tahu jika Calvina pun sudah pergi meninggalkan Zayn demi dirinya.
“Lalu…dimana Ayah saya, Bu? Saya sudah mencari kemana-mana tapi tidak bisa menemukannya.” Bu Ida menghela napas saat mendengar pertanyaan Rista.
“Keluarga istri pertama suamimu sudah memberikan hukuman pada Pak Candra. Beliau di penjara, Rista.” Kembali Rista di buat sangat syok. Tangannya dua-dua bersamaan membungkam bibir mungilnya.
“A-apa? Di penjara? Bagaimana bisa, Bu?” tanya Rista gelagapan, air matanya tak bisa lagi ia tahan saat ini. Ketakutan membayangkan sang ayah mendapat perlakuan buruk di dalam sama. Hal yang paling ia takutkan selama ini tak di sangka terjadi dari orang lain.
Rista bahkan rela melakukan semua hal demi sang ayah tetap terlindungi. Kekerasan yang Candra lakukan pun tidak pernah ia laporkan. Bagaimana pun tubuh pria itu sudah tua renta tak akan mampu menahan siksaan dari orang lain.
“Ada keluarga wanita itu sudah berhasil kabur. Dan mereka melaporkan ke polisi.” Rista terdiam lemas.
__ADS_1
Jika keluarga sang suami tahu semua ini sudah pasti dirinya tak akan mendapat ampunan. Rista sangat tahu bagaimana murkanya Zayn padanya jika keluarga Calvina buka mulut.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang? Zayn belum tahu semuanya. Bagaimana jika semua sudah terbongkar?” Ketakutan menguasai dirinya.