Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Pengakuan Restu


__ADS_3

Waktu yang berlalu dengan penuh rasa sakit sampai detik ini pun belum juga sembuh. Sakit yang justru tersa semakin dalam ketika Calvina berusaha mengalah namun hati berkata lain. Matanya kembali menjatuhkan kristal bening kala melihat sepasang suami istri tengah tersenyum bahagia mengantar anaknya pergi ke sekeolah. Sosok Restu yang baru memulai masuk sekolah anak-anak tempat bermain dan bersosialisasi sukses meremukkan hati Calvina. Wajah bahagia Zayn kala itu tak bisa Calvina artikan lain selain bahagia hidup bersama keluarga barunya.


"Mengapa sejak tadi aku merasa mobilku ada yang mengikuti?" gumam Zayn dalam hati saat tiba di kantor.


Tubuhnya berhenti melangkah menatap sekeliling namun tak ada apa pun di sana. Zayn kembali melangkah masuk ke kantor. Bahkan sudah berapa lama ia tak bertemu sang mertua yang selalu tak ada di rumah ketika ia datang. Zayn merasa sedikit kehilangan mertua yang selama ini sudah seperti orang tua baginya.


Jika di kantor pria tampan itu sedang sibuk kerja, berbeda dengan Rista yang bingung ketika sang ayah tak kunjung bisa ia hubungi selama ini. Entah dimana keberadaan pria jahat yang terus mengancamnya selama ini. Meski mendapat perlakuan tak enak tetap saja rasanya Rista merindukan sosok ayah yang sejak kecil ia jadikan keluarga satu-satunya.


Tanpa ia sadari jika pria jahat yang telah merenggut kebahagiaan keluarga orang lain telah mendekam di penjara tanpa pemberitaan. Calvina dan keluarga tak ingin berita lama itu menjadi bahan pembicaraan dan sampai pada telinga Zayn. Satu keluarga sukses membungkam pihak kepolisian.


Beberapa bulan Calvina lalui kehidupan yang terasa gelap tanpa cahaya. Bukan kuat, dirinya justru masih saja terjerat dalam kisah kelam bersama sang suami yang kini hidup tenang bersama sang istri kedua.


"Cal, mau kemana setiap pagi kamu selalu pergi?" tanya Gauri pada anaknya.


Calvina tak menjawab, ia hanya terdiam mematung tak tahu harus mengatakan apa. Tanpa menjawab sang ibu tentu paham kemana Calvina setiap pagi, siang, sore, dan malam mengendarai mobil. Tentu untuk memastikan sang suami tetap baik-baik saja, Calvina tak bisa berjauhan lama. Kerinduan setiap waktu terus saja membuatnya ingin melihat wajah tampan itu.


"Ibu harus berangkat membawa Nenek keluar negeri. Kamu harus ikut, Calvina. Jika di sini Ibu sangat khawatir terjadi sesuatu denganmu lagi." tutur Gauri.

__ADS_1


Calvina jelas menolaknya. "Tidak, Bu. Aku tinggal saja bersama Shopia. Semoga Nenek segera pulih dan Kakek akan senang juga. Aku janji tidak akan membebani Ibu atau mengkhawatirkan Ibu." Jika sudah berkata begitu, Gauri tak bisa lagi bersuara selain menganggukkan kepalanya mengerti


Pagi bergerak bertukar dengan siang, tak terasa lamanya Calvina berdiam diri di dalam mobil tanpa rasa lelah sedikit pun. Hari ini berbeda. Ia memilih menunggu Zayn datang menjemput Restu di sekolah.


"Apa aku keluar saja yah? Perutku sangat lapar." ujarnya mengusap perut yang terasa perih.


Di pinggir jalan itu Calvina melihat ada penjual yang melintas. Setidaknya ia bisa mengganjal perutnya di dalam mobil tanpa takut ketahuan oleh sang suami.


"Oke, terimakasih." sahut Calvina usai membayar.


Di detik berikutnya tak di duga jika tubuhnya yang fokus melihat ke arah mobil tiba-tiba saja tertabrak oleh sosok kecil yang berlari.


"Aduh, Kakak? Eh Tante?" bocah polos yang terkejut ketika mengusap tangannya dan menatap wajah di depannya. Pupil mata kecil itu melebar ketika melihat wajah yang tidak asing.


"Restu!" Seruan dari arah lain sontak membuat Calvina buyar dari lamunannya. Wanita itu sadar akan suara yang baru saja ia dengar. Tak ingin ketahuan, ia memilih berlari langsung menuju mobil. Bahkan tubuh Restu yang terjatuh pun tidak ia bantu berdiri.


Terdengar suara Zayn yang panik melihat anaknya jatuh. Suaranya yang bertanya beberapa hal tentang tubuh Restu terasa sakit ketika Calvina mendengarnya. Ia hanya bisa terus melangkah dan menutup pintu mobilnya dengan derai air mata.

__ADS_1


Di sinilah ia kembali menatap wajah yang begitu terasa ia rindukan. Sosok pria yang dulu sangat mencintainya. Calvina meletakkan makanan di samping tanpa berniat menyentuhnya. Rasa lapar yang tadi ia rasakan mendadak hilang saat ini. Tangannya hanya bergerak mengusap kaca jendela mobil di mana wajah sang suami terlihat di sana.


"Zayn, aku di sini. Aku sangat merindukan mu, Zayn. Aku sangat merindukan mu." ucap Calvina dalam hatinya.


Di luar sana Zayn menggendong sang anak masuk ke mobil tanpa adanya Rista yang ikut bersamanya. Mobil melaju ke arah pulang tidak dengan Calvina yang hanya diam menangis memegang dadanya. Sesakit ini berusaha mengikhlaskan hal yang belum bisa ia ikhlaskan.


"Hey anak Ayah kenapa melamun sih? Apa yang sakit, Restu?" tanya Zayn lembut mengusap pipi kecil Restu.


Restu masih memilih bungkam dan menggelengkan kepala. Ia tak ingin berkata lebih dulu sebelum memastikan dugaannya tadi benar. Sampai ketika mobil Zayn tiba di rumah barulah anak kecil itu berlari tanpa menyapa sang Ibu di depan pintu.


"Loh, Restu! seru Rista yang di lewati sang anak.


"Sejak tadi dia diam saja." lapor Zayn pada sang istri yang menatapnya dengan tatapan menuntut jawaban. Apa yang terjadi pada Restu tak seperti biasanya.


Keduanya pun masuk menyusul dimana sang anak berada. Tepat di depan foto besar yang mana Zayn masih meletakkan fotonya bersama Calvina di rumah itu. Rumah kenangan yang mereka tinggali dulu bersama sang anak, Flora.


"Kakak ni tadi ada. Dia tablak Estu." celoteh bocah itu menunjuk foto dimana Calvina tersenyum lebar begitu cantik.

__ADS_1


Zayn mendekati dengan wajah bingun. Sedangkan Rista terbuka lebar mulutnya mendengar ucapan sang ana.


__ADS_2