Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Nilai Minus


__ADS_3

"Jika anda tidak bisa memberi waktu istirahat untuk Bapak saya, silahkan anda pergi!" Gertakan yang terdengar lantang sontak membuat Rista menunduk takut.


Ia baru tahu jika pemuda di depannya bisa berucap kasar dan bahasa Indonesia juga. Reza benar-benar marah melihat Rista yang tidak bisa sabar menunggu waktu yang ia berikan.


"Maafkan saya. Maafkan saya. Saya salah telah lancang. Tapi, itu semua karena saya cemas pada ayah saya yang menghilang." Reza yang mendengar ucapan Rista mencebikkan bibirnya.


Wanita manis di depannya ternyata memiliki sifat yang begitu egois. Bahkan ia hanya memikirkan ayahnya sendiri tanpa memikirkan keadaan ayahnya Reza yang kondisinya sangat memperihatinkan.


"Anda memang sama saja dengan pria itu. Tidak heran jika anda menjadi orang yang sangat egois. Ayah anda pun demikian." cibir Reza meremehkan Rista.


"Semalam Ayah saya kambuh lagi. Jadi hari ini dan besok ia harus istirahat total. Jangan berani masuk menemuinya tanpa izin saya. Jika anda masih lancang maka saya sendiri yang akan mengusir kalian dari sini." Setelah berkata demikian Reza bergegas pergi keluar dari rumah itu.


Rista meneguk kasar salivahnya mendengar ucapan Reza. Matanya hanya terus menatap ke arah pintu kamar yang bertutupkan gorden tanpa penutup pintu. Ingin rasanya semua segera selesai. Tinggal di tempat asing dan bersama orang asing membuat Rista merasa was-was. Sikap Reza sangat sulit di tebak. Terkadang pria itu sangat santun. Terkadang ia bersikap dingin tanpa mau banyak bicara. Tapi, kali ini pria itu terlihat begitu arogan dan menakutkan.


"Hari ini sampai besok...itu artinya aku belum bisa meninggalkan desa ini hari ini juga?" gumam Rista.


Pikirannya mulai takut jika sampai Zayn menyadari kepergiannya yang menuju desa ini.

__ADS_1


"Ibu, Kakek Estu mana?" tanya bocah tampan itu.


Rista menunduk menatap wajah sang anak yang nampak antusias. "Sayang, kita belum bisa bertemu Kakek. Tapi, ingat. Restu jangan bicara dulu sama ayah Zayn nanti yah? Biar Ibu yang bicara." Patuh bocah kecil itu hanya mengangguk.


Jika Zayn tahu kepergian Rista untuk mencari sang ayah, tentu pria itu akan sangat marah. Semua yang terjadi saat ini karena Candra. Beruntung ketika ia pergi bersama sang anak, Zayn tengah patah hati. Sepanjang hari ia hanya melamun memikirkan sang istri yang sedang dalam perjalanan. Kabar pun tak bisa ia dapatkan.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu di luar kamar membuat Zayn menoleh namun kembali melamun. Ia hanya melihat sekilas wajah wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu mertua dan ayah mertuanya.


Di luar mentari mulai tampak meredup kala jam di dinding sudah menunjuk pukul lima. Sore sudah kembali datang menyapa. Tak terasa satu hari Zayn habiskan dengan hanya memikirkan sang istri.


Rasa bersalah akibat ibunya memisahkan sang anak dan menantu kini membuat Gauri terus di rundung penyesalan. Tak bisa melakukan apa pun lagi pula keputusan di buat oleh Calvina sendiri.


"Kapan aku boleh mengunjungi Calvina, Bu?" tanya Zayn lemas.


Gauri menatap sang suami dengan wajah sedih. Mereka pun tak berani memberikan janji sebab ini baru hari pertama mereka berpisah.

__ADS_1


"Kita butuh waktu, Zayn. Ibu dan Ayah janji akan membantumu bertemu dengannya suatu saat. Tapi, saat ini kau fokuslah pada keluargamu. Itu yang Calvina inginkan, Zayn. Kamu harus tetap bertanggung jawab dengan keluargamu yang saat ini." Zayn menggeleng lemah.


"Maafkan aku, Bu. Jika sampai saat ini aku belum bisa membuat mereka ada di dalam hatiku. Kasih sayangku pada mereka hanya sebatas rasa kemanusiaan. Mungkin dengan Restu rasa itu jauh lebih besar dari pada Rista. Tapi, Calvin tetaplah orang yang utama untukku."


Sejak hari itu akhirnya Zayn menguatkan diri untuk tetap bekerja. Ia akan menanti waktu yang di janjikan oleh sang ibu mertua. Bertemu dengan Calvina adalah keinginan terbesar dalam hidupnya saat ini.


Senyum setiap hari menghiasi wajah tampan Zayn kala ingatannya berputar pada momen terakhir ia dan sang istri di hotel. Ada gejolak yang kembali ingin ia lepaskan bersama Calvina. Bersama Rista selama ini tak bisa ia rasakan.


"Aku menunggu waktu itu lagi, Cal. Jika memang kamu tidak mau bertemu denganku, maka aku yang akan memaksamu bertemu denganku." ujar Zayn menunjukkan senyum liciknya.


Tak lama setelahnya ia mendapat kabar tentang keberadaan istri keduanya dan anak tirinya.


"Apa yang Rista lakukan di situ?" tanya Zayn.


"Yang saya tahu itu adalah rumah orang yang menjadi tangan kanan Tuan Candra, Tuan Zayn." laporan sang anak buah sontak membuat kening Zayn mengerut dalam.


Kecemasannya pada Restu membuat pria itu memilih untuk mencari keberadaan sang istri yang pergi entah kemana. Bahkan sampai saat ini pun Rista tak ada memberinya kabar.

__ADS_1


Satu lagi yang Zayn bayangkan perbandingan Rista dan Calvina.


"Ini yang membuat aku semakin yakin, Cal. Aku tidak salah mempertahankan kamu, istriku. Sedikit pun kamu tidak pernah mengabaikan aku sekali pun aku berbuat salah. Kamu tidak pernah pergi. Tapi, kenapa kamu pergi saat ini dariku?"


__ADS_2