Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Pengakuan Calvina


__ADS_3

Terkejut tentu saja tak bisa Calvina tutupi lagi. Wajahnya pucat saat melihat orang yang sangat ia kenali kini berdiri di depannya. Bukan hanya satu orang saja, melainkan dua orang. Tak bisa lari dan bersembunyi lagi, ia hanya diam mematung.


"Calvina, apa yang kamu lakukan?" Pertanyaan yang di lontarkan pria itu membuat Calvina menggeleng bingung harus menjawab apa.


"Sayang, kamu masih hidup, Nak? Ibu bukan mimpi kan?" Irene yang sangat syok tak bisa lagi menahan diri untuk tidak mendekati Calvina dan memeluknya.


Sebagai ibu mertua yang sudah menganggap Calvina seperti anak sendiri, rasa rindu tentu begitu besar ia rasakan saat ini. Calvina terpejam merasakan tubuhnya di peluk begitu erat. Usapan demi usapan terus Irene berikan di tubuh sang menantu. Tanpa kuat lagi ia menahan tetesan air mata bahagia. Sementara Prayan yang sudah sehat saat ini hanya diam memperhatikan interaksi dua wanita di depannya. Ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada sang menantu. Bahkan pikirannya teringat tentang pengaduan Zayn beberapa hari lalu dan semua hal yang terjadi dalam rumah tangga mereka.


"Bagaimana bisa kamu tidak datang pada kami, Cal? Kamu masih ingat kami kan? Kami mertua kamu, Nak." tambah Irene lagi. Kini pelukan sudah ia lepaskan berganti dengan menggenggam erat kedua lengan sang menantu.


Beberapa saat terdiam akhirnya Calvina bersuara. "Tolong jangan katakan apa pun pada Zayn, Bu. Aku mohon." ujarnya lirih.


Irene menangis memandang sang menantu sembari menggelengkan kepala. Tentu saja ia tidak setuju dengan apa yang Calvina minta.


"Apa tujuan kamu, Cal? Zayn sangat tersiksa dengan kehilangan kamu. Mau berapa lama lagi kamu menyiksanya? Ayo sayang, kembali lah." ajak Irene namun Calvina menolak dengan gelengan kepala.


"Aku belum siap, Bu." jawabnya.


Prayan yang ingin bebicara banyak hal pada Calvina mengajaknya untuk pergi dari makam setelah menemani mereka mengunjungi makam sang cucu.

__ADS_1


"Beruntung kami berjanjian dengan Zayn ke makam hari ini. Biar tidak bertemu dengannya yang terpenting kami bisa bertemu denganmu, Calvina. Bagaimana pun kamu bersembunyi, masih ada Tuhan yang maha mengendalikan semua di bumi ini." ujar pria paruh baya itu ketika mereka dalam perjalanan.


Niatnya Prayan dan Irene bertemu dengan Zayn di makam Flora dan sang adik. Namun, keadaan Zayn yang mencemaskan Calvina membuatnya lupa jika ia harus menunggu kedua orangtuanya. Zayn pergi dan membuat Calvina keluar dari tempat persembunyian. Nyatanya justru ia harus bertemu dengan kedua mertuanya.


Sepanjang perjalanan Calvina hanya diam ketika tangannya terus di genggam erat oleh Irene. Rasanya bagi Irene, Calvina bukan lagi seperti menantu. Ia begitu menyayangi Calvina seperti anak kandungnya.


Mobil yang berjalan beberapa menit lalu dari pemakaman kini berhenti pada sebuah restaurant dimana mereka akan berbicara banyak hal. Mulanya Prayan ingin membawa Calvina ke rumah mereka, namun wanita itu menolak. Ia tak ingin bertemu dengan Zayn saat ini. Dan keduanya mau tak mau menyetujui permintaan Calvina. Dan di sinilah mereka berada.


"Calvina, ceritakan pada Ibu. Bagaimana bisa semua seperti ini? Dimana kamu selama ini? Dan mengapa kamu menjauhi kami? Zayn sudah hampir gila selama ini dan maafkan Ibu yang harus memaksanya menikah dengan wanita lain. Ibu tidak tega Zayn terus sedih, Cal. Ibu takut terjadi sesuatu dengannya ketika Ibu dan Ayah pergi untuk selamanya." sesal Irene mengakui kesalahannya.


Mendengar itu Calvina hanya menarik paksa bibirnya agar tersenyum meski itu sangat sulit. Lagi-lagi hatinya nyeri ketika mendengar sang suami sudah memiliki istri.


Tentu satu-satunya alasan adalah karena Calvina telah kehilangan sang suami. Rasa cinta Zayn yang masih tetap ada untuknya nyatanya tak membuat Calvina bahagia.


"Cal, maukah ikut kami pulang? Kita bisa bicarakan semuanya dan mencari solusi bersama-sama. Zayn sangat membutuhkan kehadiran kamu." Calvina kembali menggeleng. Pendiriannya begitu kokoh.


Sedang di sini, orang yang tengah mereka bicarakan nampak duduk merenung. Zayn hanya melamun di ruang kerjanya. Sudah tak bisa lagi fokus dalam bekerja. Bahkan sang istri yang berada di rumah sakit merawat sang anak pun tidak ia ketahui kabarnya.


"Zayn tidak bisa seperti ini. Aku tidak melakukan kesalahan. Ini semua kemauan mereka bukan mauku. Lalu, sekarang mereka mencampakkan aku begitu saja. Tidak. Aku adalah istri Zayn." gumam Rista.

__ADS_1


Tatapan sendu yang biasa ia perlihatkan kini berubah menjadi tatapan penuh ambisi. Semua pengorbanannya selama ini seakan tak rela jika di hancurkan begitu saja oleh Calvina yang kembali datang.


"Ibu..." lirih suara Restu memanggil Rista.


Secepat mungkin Rista mendekati Restu dan mengusap kepalanya. "Iya, Sayang. Ada apa? Ibu di sini." jawabnya.


"Ayah. Restu mau Ayah. Ayah dimana?" tanya bocah itu menatap sekeliling ruangan. Matanya mencari sosok pria yang begitu ia rindukan kasih sayangnya beberapa hari terakhir ini.


Mendengar keluhan anaknya, Rista sangat sedih. Ia sangat sadar siapa Restu dan dari mana asalnya.


"Gara-gara dia kamu jadi berubah, Mas Zayn. Bahkan Restu yang sangat kamu sayangi kini kamu acuhkan begitu saja. Kamu benar-benar keterlaluan, Mas." batin Rista bergumam.


***


"Aku di sekap oleh Ayah dari wanita itu, Bu." Pada akhirnya Calvina pun mengakui keadaannya selama ini pada sang ibu mertua setelah terus menerus Irene mendesaknya.


Irene mau pun Prayan tak bisa berkata apa pun. Bibirnya bergetar kaku mendengar ucapan Calvina.


"Ma-maksud kamu ayah dari Rista? Istri kedua Zayn, Cal?" tanya Irene ingin memastikan lagi. Dan Calvina pun mengangguk pelan.

__ADS_1


__ADS_2