
Tak tahu apa sebabnya sebelah tangan milik Shopia di tarik begitu cepat oleh Calvina keluar dari kamar. Kedua wanita itu kini menjauhi sang nenek demi berbicara hal penting.
"Ada apa sih, Kak? Perasaan aku nggak ada ngomong soal masker-masker rambut yang Kakak sebut tadi." ujar Shopia nampak bingung. Calvina mengintip ke arah kamar sang nenek yang sudah tertutup rapat pintunya.
Wajahnya begitu cemas dan takut jika sampai sang ibu mertua tiba di rumah mereka saat ini. "Ibu Irene mau ke rumah ini. Bagaimana kita mencegahnya? Kakak mengirim pesan sejak tadi belum di jawab juga. Nenek bisa marah besar, Shopia. Kakak nggak mau Nenek sampai kambuh lagi sakitnya." Shopia yang mendengar ucapan sang kakak sontak membuka lebar mulutnya.
Keduanya sama-sama bingung. Merasa tak mendapat solusi dari sang adik, Calvina langsung menghubungi lagi sang mertua. Sayang, panggilannya tak kunjung di jawab juga.
"Mungkin memang ini jalan Kakak sudah. Toh Nenek tidak mungkin marah besar Kak kalau cuman Ibunya Kak Zayn yang datang. Yang penting kan bukan Kak Zaynnya yang kesini." sahut Shopia.
Wajah panik Calvina semakin menjadi kala ia mengingat siapa yang akan datang dan yang sangat ia takutkan. Yaitu Zayn.
"Shopia, ini juga Zayn yang datang. Mereka berdua pasti akan bertemu di sini dan semuanya akan terbongkar, Shopia. Kakak harus bagaimana?" Kepanikan Calvina semakin menjadi.
Belum saja semua bisa di atur dengan baik, mereka harus menghadapi semuanya tanpa persiapan. Dan percakapan keduanya akhirnya terhenti kala mendengar suara di luar sana.
__ADS_1
"Ibu untuk apa kemari?" Pertanyaan yang terdengar begitu jelas dan sangat familiar suaranya.
Serentak Calvina dan Shopia menoleh ke arah luar. Suara yang belum nampak orangnya.
"Zayn?" Itu suara Irene yang juga sangat terkejut mendapati sang anak berada di belakangnya.
Tatapan mata Zayn begitu jelas ketika beralih pada rantang yang di pegang sang ibu. Secepat mungkin Irene menyembunyikan rantang di belakang tubuhnya. Kecurigaan tiba-tiba saja merasuk di dalam pikiran pria tampan itu.
"Aku yang akan menemukan mereka sendiri." ujar Zayn melangkah melewati sang ibu. Tanpa bertanya lagi, Zayn secepat mungkin menelusuri rumah itu.
Kali ini pikirannya benar-benar yakin jika Calvina pasti ada di rumah itu. Tak perduli bagaimana Irene berteriak memanggilnya.
Suara riuh di dalam rumah miliknya membuat Matthew dan Gauri keluar dari kamarnya. Mereka sangat penasaran.
"Loh Zayn, Irene." sapanya sedikit kaget.
__ADS_1
Irene menghentikan langkah dan teriakannya. Sedangkan Zayn tampak terus memeriksa setiap sudut rumah itu. Sebagai Ibu tentu saja Irene merasa tak enak hati.
"Maaf." Hanya kata itu yang bisa ia utarakan pada besannya.
"Ayah, Ibu, tolong katakan dimana istriku? Dimana Calvin? Kalian menyembunyikan Calvina dariku kan? Tolong katakan padaku." tutur Zayn terlihat sangat rapuh.
Keringat yang keluar di tubuhnya tak ia hiraukan. Bahkan napas yang tersengal-sengal terus ia abaikan demi menemukan sang istri. Melihat Gauri yang hanya diam membuat Zayn tak putus asa.
"Kalian benar-benar tega padaku. Bagaimana bisa kalian menyembunyikan istriku sendiri? Aku masih suaminya Calvina. Aku tahu dia ada di sini." Satu ruangan lagi Zayn masuki namun tetap hasilnya nihil.
Irene sangat sedih melihat sang anak. Andai ia bisa membuka rahasia itu mungkin tidak akan semenyedihkan ini.
"Zayn, apa yang kau cari? Calvina sudah tidak ada. Apa kau masih belum percaya itu? Ingat Zayn, kau punya istri dan anak saat ini." Kini Matthew yang bersuara.
"Tidak. Aku yakin Calvina ada bersama kalian. Istriku masih hidup. Istriku ada di sini-"
__ADS_1
"Istrimu sudah mati, Zayn! Calvina bukan lagi istrimu. Kau sudah menikah dengan wanita lain. Cucuku bukan istrimu lagi. Pergilah!" Tiba-tiba teriakan itu terdengar dari arah pintu kamar lain. Pintu yang kini menjadi pusat perhatian semua orang. Pintu yang terbuka lebar dan memperlihatkan sosok wanita tua berdiri dengan tubuh kurusnya.
Zayn menoleh ketika ucapannya di potong oleh wanita tua itu.