Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kelemahan Zayn


__ADS_3

Duduk merenung dalam sunyinya malam dan dinginnya angin yang lewat di lorong tunggu rumah sakit itu. Zayn menatap kosong ke depannya. Bayangan selama beberapa waktu belakangan dirinya memang hampir merubah banyak kebiasaan pada sang istri. Dan Zayn tahu hal ini semenjak Rista melahirkan anak yang berasal dari pria asing juga.


Kepalanya menoleh menatap pintu yang tertutup rapat, bahkan Zayn mendengar jelas saat sang nenek mengunci pintu ruangan itu. Kemarahan Fara malam ini tidak ada yang tahu. Hanya Gauri yang merasa cemas sebab sang supir menghubungi jika sang ibu belum juga keluar dari rumah sakit.


"Maafkan aku, Cal. Maafkan aku yang larut dalam kerinduan anak-anak kita. Aku salah selama ini membayangkan Restu adalah anak kita. Maafkan aku, Sayang." gumam Zayn dalam hatinya.


Penyesalan tak merubah apa pun saat ini. Zayn sudah tak bisa lagi masuk sebelum Fara membukakan pintu untuknya. Kini Zayn berpikir untuk menyetujui ucapan Rista untuk keluar dari rumahnya. Bagaimana pun beratnya Zayn melepas Restu, tetapi ia harus terima kenyataan jika bayi itu tak sepantasnya hidup dalam kasih sayangnya yang bukan siapa-siapa.


Sampai akhirnya bunyi ponsel pun terdengar ketika Zayn asik dalam lamunan. Ia melihat jika yang menelpon adalah ibu mertuanya. Gauri yang panik menunggu kepulangan sang ibu segera bertanya pada Zayn.


"Zayn, kenapa Nenek belum juga pulang?" tanyanya tanpa memberi waktu Zayn berucap.


"Nenek marah, Bu. Sekarang Nenek yang menjaga Calvina di dalam dan mengunci pintunya." lapor Zayn membuat Gauri terkejut.


"Marah? Sama kamu?" Zayn pun menceritakan hal yang sebenarnya lantas ia pun mengakui semua kesalahannya. Mendengar sang menantu menjelaskan dengan berani, Gauri hanya bisa menggelengkan kepala paham.


Ia tahu bagaimana kerasnya sang ibu yang sudah tua itu. Sedangkan Gauri pun tidak ingin Zayn terjebak dalam kehidupan yang penuh ketidak pastian. Ia sangat paham bagaimana Zayn mencintai Calvina anaknya saat ini.


"Zayn, Ibu paham posisi kamu. Tapi, kalau Ibu boleh saran sebaiknya kamu tidak mendengarkan amarah Nenek. Dia begitu sayang sama Calvina sampai membuatnya tutup mata dengan segala hal tentang kamu. Kamu patut melanjutkan hidup kamu, Zayn. Sudah sepantasnya kamu hidup bahagia bersama-" Belum sempat Gauri melanjutkan ucapannya, Zayn sudah lebih dulu menyela.

__ADS_1


"Jika Nenek saja bisa sebesar itu kasih sayangnya pada Calvina, seharusnya saya pun demikian, Nek. Saya adalah suaminya. Saya seharusnya berada di sisi Calvina saat ia berjuang hidup seperti ini. Tidak seharusnya saya justru sibuk dengan anak orang lain yang saya tidak tahu asal usulnya." ucap Zayn tegas.


Gauri yang cemas akan sang ibu memilih menghentikan perdebatan dan menuju rumah sakit. Fara sudah tak lagi kuat seperti dulu. Tidak baik jika wanita tua itu berlama-lama di rumah sakit apalagi malam sudah semakin larut. Gauri pun tak tega jika Zayn harus berada di luar ruangan menahan dingin.


Singkat waktu berlalu, kini susah payah Gauri membujuk sang ibu akhirnya ia berhasil membawa pulang wanita tua itu. Jelas terlihat bagaimana Fara menatap Zayn dengan tajam. Ia benar-benar tak rela jika sang cucu di jaga oleh pria yang tidak tegas seperti Zayn.


"Ingat Zayn, ini peringatan terakhir untukmu. Jika kamu masih mengabaikan cucuku maka aku akan membawa Calvina ke luar negeri. Dan aku pastikan kau tidak akan lagi bisa melihatnya." Zayn hanya mengangguk. Ia buru-buru masuk ke dalam ruangan sang istri saat kedua wanita itu pergi dari rumah sakit.


Zayn meminta maaf pada Calvina dengan mencium beberapa kali keningnya. Wanita yang masih sama seperti empat tahun lalu menutup mata. Kini beberapa bagian pipinya mulai tirus. Zayn merasa belakangan ini keadaan Calvina semakin menurun.


Tak ada yang tahu jika di tengah malam ini hal mengejutkan terjadi begitu saja. Dinginnya malam tak mengurangi niat seorang wanita yang berlari menggendong bayinya. Ia berteriak meminta pertolongan.


Beberapa pria bertubuh besar mengejarnya dengan meminta untuk berhenti. Dia adalah Rista. Entah apa yang masuk ke dalam pikirannya sampai Rista memutuskan untuk pergi dari rumah orangtua Zayn.


Rista mematung di posisi akhir. Ia takut jika sampai terjadi sesuatu pada dirinya maka sudah pasti sang anak akan menderita di tangan sang ayah. Derasnya air mata yang Rista jatuhkan nyatanya tak membuat runtuh kekejaman sang ayah. Rista menggelengg ia menguatkan pelukannya pada Restu.


"Ayah, sudah cukup semua ini. Tolong biarkan aku hidup bersama anakku. Ayah tidak berhak menentukan hidupku dan anakku seperti ini." mohon Rista.


Candra yang terkekeh berdecih kesal. Ia tak akan mau mendengar permohonan sang anak sampai Rista berhasil menikah dengan salah satu targetnya. Yaitu Zayn. Cucu satu-satunya harus bisa menguasai apa yang keluarga Yonathan dapatkan.

__ADS_1


Di sini Rista pun sangat menyesal mengapa dirinya harus melibatkan keluarga baik itu. Seandainya ia menghilang tanpa meminta perlindungan Zayn, semua tidak akan seperti ini.


"Kau harus menikah dengan keturunan keluarga Yonathan, Rista. Maka aku akan melepaskanmu. Sebab mereka akan mengangkat derajat keluarga kita." desak Candra. Sejujurnya bukanlah itu yang ada di dalam pikirannya. Ia tak ingin jujur pada Rista. Yang terpenting pernikahan harus terjadi dulu.


Rista menolaknya. Ia kekeuh ingin pergi dari keluarga Zayn mau pun sang ayah. Sampai semua anggota Candra di kejutkan dengan suara tembakan yang terdengar dari arah lain.


"Bubar! Bubar!" teriak Candra.


Semua mobil anggotanya pun berlaju tanpa aturan meninggalkan Rista. Mereka baru sadar jika ternyata ada yang menentang ancamannya pada sang anak barusan.


"Nona Rista, anda baik-baik saja kan?" tanya salah satu anggota. Anggota yang lain pun telah melaporkan kejadian ini pada sang tuan.


Rista hanya menangis menggeleng. Ia merasa seperti mendapat syok terapi barusan dari ayahnya sendiri. Sakit hati Rista membayangkan tingkah sang ayah yang begitu tega padanya dan Restu. Bayi tak bersalah itu kini ikut menangis akibat suara yang membuatnya terkejut.


"Sayang, tenanglah." ucap Rista membujuk sang anak.


Tanpa menjelaskan apa pun, Rista di bawa pulang kembali oleh mereka. Tak lagi bisa ia menolak sebab niatnya pergi justru hanya menambah masalah saja. Dan kabar tak mengenakkan ini sudah sampai pada telinga Zayn yang baru saja hendak memejamkan mata. Irene mengabari sang anak tentang Rista yang hampir di sakiti oleh ayahnya sendiri.


"Bu, jangan bercanda? Bagaimana mungkin Rista bertemu ayahnya? Dia di rumah kita kan?" sahut Zayn bertanya dengan wajah panik.

__ADS_1


"Zayn, Rista mencoba pergi diam-diam dari rumah. Ibu tidak tahu apa yang membuatnya seperti itu. Yang jelas anak buah Ayah kamu yang berhasil mengamankan Rista dari serangan Ayahnya. Bahkan Restu katanya terus menangis ketakutan." tutur Irene mengadukan lagi-lagi hal yang membuat Zayn lemah.


Di sini Zayn menatap nanar sang istri yang tidak berdaya.


__ADS_2