
Malam yang terasa asing bagi Rista ketika harus menidurkan tubuhnya di kamar mewah yang jauh lebih bagus di bandingkan kamar utamanya di rumah. Matanya terasa sangat lelah kali ini sampai ia tidak sadarkan diri lagi jika telah terlelap. Risa tidur dengan nyaman di kamar baru. Sedangkan seorang gadis di rumah yang berbeda nampak gelisah.
"Shopia, kenapa belum tidur juga? Kamu tumben duduk di sini sudah malam begini?" tanya Gauri.
Melihat anak gadisnya duduk melamun di ruang televisi membuatnya mendekat dan bertanya.
"Bu, rasanya ada yang aneh sama wanita itu. Aku yakin dia pasti punya niat buruk sama Kak Zayn dan Kak Calvina. Bagaimana kalau sampai dia mencelakai Kak Calvina, Bu?"
"Shopia, jangan berpikir buruk seperti itu. Kamu sudah keterlaluan namanya." sahut Gauri marah.
Bagaimana pun asingnya Rista di matanya, berpikir hal buruk tetaplah tidak baik. Disana ada Zayn yang akan menjaga anaknya dengan sepenuh hati.
"Siapa yang bisa sangka apa yang di pikiran wanita itu, Bu? Kak Zayn bukan pria yang tidak laku, Bu. Di luar sana banyak wanita yang mengantri buat Kak Zayn. Ibu sendiri tahu Kak Zayn itu banyak yang suka. Jangan sampai kita lengah jaga Kak Zayn saat Kak Calvina koma begini. Mana tahu niat wanita itu apa datang ke keluarga kita." ketus Shopia berkata.
Lantaran kesal melihat pembelaan sang ibu, Shopia memilih menuju kamar untuk istirahat. Tak ada gunanya ia berdebat di sini. Sebaiknya besok pagi-pagi ia harus datang ke rumah sakit dan mengecek sang kakak.
Ucapan Shopia perlahan menjadi pikiran di benak Gauri. Wanita paruh baya itu berpikir ketakutan yang sama dengan Shopia. Namun, ia berusaha menghilangkan prasangka buruk itu. Zayn sudah ia percaya dalam mengambil segala keputusan.
"Lagi pula jika memang pada akhirnya Zayn bersama wanita itu, aku ikhlas. Calvina sudah terlalu lama koma seperti ini. Zayn juga butuh kehidupan yang cerah. Aku ikhlas Tuhan apa pun yang kau hendaki." ucap Gauri pada dirinya sendiri.
Sudah cukup lama perjuangan Zayn menjaga istrinya tanpa tahu kepastian. Dokter pun hanya sekedar mengawasi Calvina tanpa melakukan tindakan apa pun lagi. Tingkat kesadaran Calvina sangat rendah dan itu berjalan selama bertahun-tahun lamanya. Sebagai seorang Ibu, Gauri tak tega membiarkan anaknya seperti ini terus menerus. Mungkin pergi jauh lebih baik dari pada melihat sang anak tidak menentu seperti ini.
__ADS_1
"Ada apa, Bu?" tanya Matthew melihat sang istri menutup pintu kamar dengan menyandarkan tubuhnya di daun pintu. Terlihat wajah wanita itu sangat sedih.
"Calvina, Ayah...Ibu sudah ikhlas apa pun yang Tuhan kehendaki atas anak kita. Ibu tidak kuat melihatnya sakit seperti ini terus. Ibu tidak kuat." tangisnya pecah di pelukan sang suami.
Malam yang sendu berakhir dengan bergantinya menjadi pagi yang cerah. Seperti biasa di kediaman Yonathan akan sangat repot dengan segala keperluan Zayn yang di siapkan pelayan dan juga Irene. Melihat kesibukan Irene di dapur, membuat Rista penasaran dan mendekat.
"Saya akan ke rumah sakit. Sebaiknya kamu di rumah dan istirahat. Jaga kandunganmu dan jika butuh apa-apa mintalah pada pelayan." ujar Irene tanpa menatap wajah Rista.
Prasangkanya pada wanita hamil itu masih terlalu buruk untuk saat ini. Ia tak akan membiarkan Rista mendekati Zayn terlalu jauh. Dengan membiarkannya tetap di rumah ini tentu adalah keputusan yang tepat.
"Bu, apakah saya boleh ikut? Saya juga ingin membantu Tuan merawat istrinya. Saya akan melakukan apapun..." Belum sempat Rista berkata sampai selesai, ucapannya sudah lebih dulu di hentikan.
"Jangan berpikir untuk masuk ke kehidupan anak saya terlalu jauh. Kamu cukup diam di rumah ini dan tidak merusak nama keluarga kami. Itu sudah cukup tidak usah berniat membantu apa pun." Ucapan telak dari Irene membungkam bibir Rista begitu saja. Ia terdiam sembari mengangguk kecil.
Rista menangis mengusap perutnya. Ia benar-benar seperti wanita yang sangat menjijikkan saat ini. Padahal ia hanya meminta bantuan pada Zayn agar sang ayah tidak lagi mencarinya. Mungkin momen yang terjadi tidak tepat hingga membuat dirinya menjadi tersangka di kelaurga Yonathan. Bahkan Zayn pun sudah berpikir buruk pada wanita itu.
"Tante, baru sampai?" tanya Shopia menyapa Irene yang hendak menuju ruang rawat sang kakak. Meski bertanya pada Irene namun mata gadis itu mencari seseorang di sekitarnya.
"Dia di rumah. Tante saja yang kesini sendiri kok." sahut Irene paham siapa yang di cari oleh Shopia.
Keduanya lantas masuk ke dalam ruangan rawat dimana Zayn dan Prayan masih terlelap. Kedua pria itu bergadang hingga membuatnya sulit untuk bangun pagi ini.
__ADS_1
"Hai Kak...Kakak belum juga mau bangun yah? Kita semua kangen banget loh. Kakak segera bangun yah? Aku tidak yakin bisa menjaga Kak Zayn sendirian." sahut Shopia berbisik di depan wajah sang kakak yang pucat.
"Tante juga jagain kok. Kamu nggak sendirian, Shopia. Kamu tenang saja." ujar Irene mendekat.
Di hatinya hanya ada Calvina yang paling tepat menjadi menantu dan ibu dari cucunya kelak. Meski sebelumnya ia sangat kecewa dengan keputusan teledor Calvina yang melawan pada sang suami. Kecelakaan tetaplah kecelakaan tak ada yang menginginkan hal itu terjadi.
"Ibu, Shopia?" sahut Zayn yang terbangun karena percakapan mereka.
"Ibu bawa sarapan dan pakaian ganti. Kamu harus ke kantor hari ini kan bersama ayahmu?" Zayn mengangguk patuh mendengar ucapan sang ibu.
Siang ini giliran Irene yang berjaga di ruangan. Zayn akan bekerja dan sorenya ia akan kembali lagi ke rumah sakit.
"Bu, bagaimana Rista?" tanya Zayn. Takut jika sang ibu nyatanya membiarkan Rista pergi.
"Di rumah istirahat. Kamu jangan coba-coba ke rumah, Zayn." peringat Irene yang hanya di angguki oleh pria itu.
"Tan, Ibu nanti agak siang ke sini. Soalnya masih ada urusan sama Ayah di luar. Aku juga bentar lagi mau ke kampus." ujar Shopia.
Semuanya nampak sarapan bersama di ruangan itu usai Zayn dan Prayan bersiap. Suasana nampak seperti biasa tenang menunggu kesadaran Calvina.
Tanpa mereka ketahui jika di sini, Rista tengah gelisah. Ia memikirkan hal apa yang bisa ia lakukan untuk membalas kebaikan Zayn. Berdiam diri di rumah membuatnya seperti parasit yang hanya makan tanpa bisa membalas budi.
__ADS_1
"Aku harus melakukan sesuatu untuk Calvina. Aku tidak mungkin menerima bantuan Tuan Zayn dengan cuma-cuma. Aku harus membantu mereka." gumam Rista.