
Samar namun masih jelas terdengar di telinga Calvina bagaimana sang nenek mengatakan dirinya yang tidak lagi sebagai istri Zayn. Sakit tentu saja Calvina merasa tak rela dengan ucapan sang nenek. Di sini wanita itu bersembunyi di dalam lemari pakaian sang nenek. Calvina yang semula menahan gelisah menjadi melamun. Ingin sekali rasanya ia keluar dan mengatakan jika dirinya masih hidup dan masih sangat mencintai Zayn.
"Kak, ayo keluar. Kakak masih bisa memperbaiki semuanya dan belum terlambat. Kak Zayn masih hak Kakak." Shopia yang terpaksa ikut bersembunyi atas perintah sang Nenek terpaksa ikut masuk ke dalam lemari.
Calvina hanya menggeleng pelan. Tidak boleh keputusannya yang sudah bulat berubah saat ini. Zayn hanya butuh kepastian ada atau tidaknya Calvina. Jika tidak ada ia menemukan Calvina, pasti Zayn akan kembali tenang hidupnya bersama Rista lagi.
Diam di tempat itu yang Calvina lakukan. Di luar sang nenek terdengar begitu tega mengatakan penolakannya pada Zayn. Calvina juga mendengar bagaimana Zayn yang bersikeras memohon untuk di beri kesempatan. Sampai akhirnya Calvina tak kuasa menahan dirinya. Shopia tercengang melihat pintu lemari di dorong kasar oleh Calvina dan tubuhnya melangkah cepat keluar dari kamar itu.
"Calvina, ayo keluar. Aku mohon keluarlah aku tidak akan meninggalkan rumah ini sampai kamu mau keluar dan bicara padaku!" Teriak Zayn meneteskan air mata. Bola matanya memutar memperhatikan sekitar mencari dimana ruangan yang belum ia periksa.
Teriakan yang membuat darah Fara si wanita tua itu terasa semakin mendidih. Ia sampai sekuat mungkin mendorong tubuh Zayn yang hanya bergeser sedikit saja.
"Apa yang kamu lakukan, Zayn? Pergi kamu!" hardik Fara melebarkan bola matanya.
Sampai ucapan Zayn yang ingin membantah perintah Fara terhenti kala mendengar teriakan dari arah lain.
"Zayn!" Wanita cantik dengan tubuh ramping berlari secepat mungkin ke arahnya. Dia adalah Calvina. Langkahnya kian cepat hingga semua yang ada di ruangan itu tercengang melihat kemunculan Calvina.
__ADS_1
Bibir bisa saja berkata bohong dengan mengatakan mampu menahan dirinya. Tapi, hati dan pikiran tak bisa Calvina kuasai lagi. Ia sudah berhambur memeluk tubuh sang suami. Sedang Zayn terdiam mematung merasa ia seperti sedang berkhayal.
"Aku merindukanmu, Zayn. Aku sangat merindukanmu." Calvina menangis terisak.
Kedua keluarga sama-sama menjatuhkan air mata mereka melihat pertemuan suami istri yang sudah lama terpisah. Semua terjadi di luar dugaan. Semua mata bisa melihat jelas bagaimana Zayn berdiri kaku dengan tangan yang gemetar saat ingin menggapai bahu sang istri di pelukannya.
"Ca-Calvina..." Suara Zayn bahkan bergetar hebat.
Calvina menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami. "Aku tidak kuat, Zayn menahan ini semua." lirih Calvina berucap. Barulah setelah itu Zayn dengan cepat melepas pelukan sang istri dan memilih menangkup wajah cantik yang sangat ia rindukan kehadirannya.
"Cal. Calvina istriku." ucap Zayn. Mata pria itu tak hentinya menjatuhkan air mata dan mencium bertubi-tubi wajah cantik itu.
"Apa ini, Calvina?!" hardik Fara.
Sayang hardikan wanita tua itu seperti angin yang lewat bagi keduanya. Calvina hanya fokus pada dua bola mata milik sang suami yang menatapnya dengan lekat.
"Istriku." Zayn membawa kembali tubuh sang istri ke dalam pelukan setelah yakin jika wanita yang ia hadapi benar istrinya.
__ADS_1
"Bu, ayo ke kamar. Sebaiknya Ibu istirahat dulu biarkan mereka berbicara." Gauri yang takut terjadi sesuatu dengan sang ibu memilih menghampiri Fara. Calvina pasti bisa memecahkan masalahnya dengan Zayn. Fara yang tak boleh ada di antara mereka saat ini.
Tangan yang hendak menuntun wanita tua itu ke dalam kamar secepat kilat di tepis olehnya. "Jangan berani mencegah Ibu, Gauri! Ibu sudah bersumpah untuk tidak membiarkan mereka bersatu. Pria itu sudah mengabaikan cucuku waktu koma. Aku tidak akan rela dia mengambil cucuku lagi saat sudah sembuh. Calvina pantas mendapatkan yang lebih baik darinya." Betapa kerasnya kepala Fara jika menyangkut cucunya.
Gauri berusaha membujuknya. Sementara Zayn dan Calvina masih larut dalam pelukan penuh kerinduan. Meski tak tahu bagaimana kedepannya keputusan keduanya. Yang jelas saat ini Calvina hanya ingin melampiaskan rindunya yang sudah menggunung.
"Sayang, ayo kita pulang. Kita bicarakan semuanya." Ketika Zayn menggenggam tangan Calvina, barulah wanita itu sadar akan semuanya. Ia sudah lepas kendali dan muncul di hadapan Zayn.
Zayn mengerutkan kening melihat Calvina menahan tangan dan kakinya untuk tidak ikut dengannya. Di lihat wajah wanita itu sedih dan menggelengkan kepalanya.
"Pulang kemana, Zayn? Itu bukan rumahku lagi bukan?" tanya Calvina lembut namun penuh arti yang sangat sakit.
Zayn pun terdiam tanpa bisa menjawab lagi. Ia baru ingat di rumah itu ada istri kedua dan juga anak sambungnya. Tentu kini Zayn sadar betapa sakitnya sang istri jika tahu semuanya. Rumah yang menjadi hadiah pernikahan untuk Calvina sudah ia nodai dengan membawa wanita lain ke rumah itu.
"Untuk apa bicara dengannya lagi, Calvina? Ayo ikut Nenek. Dia bukan lagi Zayn yang dulu. Dia bukan hanya suamimu. Dia sudah memiliki istri lain, Cal! Dengar kata Nenek." Fara dengan sekuat tenaga menarik tangan Calvina dari cengkraman Zayn yang melamun.
"Nenek-" Suara Calvina.
__ADS_1
"Ayo menjauh darinya." pintah Fara lagi.