
Lama bocah yang bersama Zayn itu tampak diam. Calvina takut melihat ekspresi Restu. Jelas ia takkan suka dengan kehadiran Calvina yang membuatnya berpisah dari Zayn, pikirnya. Sampai detik berikutnya Restu bersuara.
"Tante cantik inikan yang Restu pernah lihat, Ayah." tuturnya mengembangkan senyum pada Zayn lalu ke arah Calvina.
Zayn lupa jika Restu adalah orang pertama yang melihat Calvina sebelum dirinya dan Rista. Restu tampak melambaikan tangan lemas. Ia tak kuat lagi berbicara saat ini pusing di kepala semakin terasa jelas.
"Zayn, bawalah Restu istirahat. Aku matikan dulu panggilannya. Kasihan dia." ujar Calvina.
Zayn merasa berat mengakhiri panggilan, ia tak ingin menimbulkan satu pun kecemburuan di hati sang istri sekali pun saat ini Rista sedang tidak ada bersama mereka.
"Baiklah, aku menjaga Restu dulu. Kami hanya berdua di sini." ujar Zayn lagi menjelaskan secara tak langsung jika wanita masa lalunya tidak ada di sana. Calvina mengangguk tersenyum paham.
"Aku percaya." tutur Calvina.
Zayn mengakhiri panggilan. Ia kini fokus pada Restu yang tampak menatapnya sendu. Pandangan tak bertenaga tentu sangat sedih bagi Zayn. Dokter pun juga kembali masuk ke ruangan itu untuk merawat Restu. Zayn terus menemani sang anak.
Tanpa Restu tahu jika di rumah ini Rista mencemaskan dirinya. Ia duduk seorang diri di kursi memikirkan anak semata wayangnya. Kedua tangan miliknya saling menggenggam.
"Apa yang terjadi dengan anakku?" gumamnya dalam hati. Berkali-kali bahkan ia menghubungi sang mantan suami, sayang panggilan itu tak bisa tersambung. Jelas Zayn tengah sibuk bersama Calvina sebelumnya.
"Ayah, dimana Ibu?" Setelah penanganan dokter, Restu kembali bersuara. Sekeliling ia tatap tak juga melihat sosok wanita yang selalu bersamanya.
Zayn mengusap kepala sang anak. "Ibu sedang istirahat di rumah. Sekarang Restu di sini di jaga oleh Ayah. Restu mengerti kan?" patuh bocah itu mengangguk dan memejamkan mata atas perintah sang ayah untuk istirahat.
Obat yang masuk ke dalam tubuh sang anak membuatnya tidur dengan lelap. Barulah setelah itu Zayn beranjak mengurus pekerjaannya di kantor. Beberapa anak buah ia tugaskan untuk menjaga sang anak.
"Setelah selesai semua aku akan segera kembali." Begitu pesan terakhir dari Zayn sebelum ia benar-benar meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Selama perjalan ke kantor hingga bekerja di kantor, ponsel tak juga ia masukkan ke dalam tas. Melainkan panggilan video kembali ia lakukan pada sang istri.
"Zayn, bekerjalah. Aku percaya. Sekarang aku sudah sangat mengantuk." tutur Calvina berkali-kali ia menguap.
Bukannya patuh, pria itu justru menggelengkan kepala. "Sayang, tidurlah. Aku akan menjagamu dari sini. Biarkan ponsel itu menyambung dan letakkan di bantal. Wajahnya jangan di tutup bantal yah." Mendengar perintah sang suami, Calvina tak lagi mau membantah. Ia hanya bisa menghela napas kasar.
Ponsel pun ia tata dengan baik lalu memejamkan mata. Wajah cantik itu perlahan larut dalam istirahatnya. Melihat itu Zayn tersenyum lebar. Sekarang Calvina menjadi wanita yang sangat penurut. Sekali pun ia tak berani membantah keinginan sang suami.
Tak lama kemudian terdengar ketukan pintu di luar ruangan pria itu. Zayn melihat sekertarisnya datang membawa beberapa map di tangannya.
"Letakkan di sini saja." pintah Zayn kemudian.
"Yang ini masih ada yang belum anda tanda tanga-"
"Yah yah keluarlah. Aku akan memeriksa semuanya lagi." pintah Zayn tanpa mendengar ucapan sang sekertarisnya lagi.
"Sudah berapa kali saya periksa. Masih juga ada yang kurang." umpat pria itu dalam hati.
Memikirkan istri yang berpisah jauh darinya di tambah dalam keadaan hamil, tentu membuat Zayn sulit untuk konsentrasi saat bekerja.
"Wah wah ada yang lagi bucinnya kebangetan nih!" seru suara seseorang dari seberang telepon.
Zayn sampai terjingkat kaget mendengarnya. Ia menoleh dan melihat wajah adik ipar sudah tertawa lebar. Beruntung suaranya tak membuat Calvina terganggu.
"Shopia, jangan ganggu kakakmu. Biarkan dia istirahat." pintah Zayn menutupi rasa malu.
Berkas di tangannya pun yang menjadi sasaran saat ini. Zayn tampak membubuhkan tanda tangan di tempat yang tidak ia perhatikan demi mengusir rasa malu pada sang adik ipar.
__ADS_1
"Apa sih, Kak? Justru Kakak itu yang ganggu Kak Calvina istirahat. Aku matikan yah video callnya?" ujar Shopia dengan heboh.
"Shop, jangan. Kamu keluar sana jangan ribut di situ. Kakak begini untuk menjaga Kakakmu." jelas Zayn kembali. Bukannya mengerti dengan alasan sang kakak ipar, Shopia justru memajukan bibir mengejek Zayn.
"Huh menjaga. Di sini kami semua menjaganya, Kakak ipar. Sudah aku matikan saja ah." Detik berikutnya panggilan pun tertutup. Zayn hanya bisa menghela napas kasar. Tak ada lagi wajah sang istri yang ia lihat saat ini.
"Argh!" umpatnya geram.
"Aldi, kemari." pintah Zayn memanggil sang sekertaris melalui telepon.
"Anda memanggil saya, Tuan?" tanya pria itu ketika memasuki ruang kerja Zayn.
"Bawa semua berkas ini dan kerjakan. Kepalaku benar-benar mau pecah rasanya." Zayn menyerah. Ia tak bisa mengerjakan semua kerjaan kantor jika pikirannya saja sedang kacau seperti ini.
Dan benar saja, Aldi membulatkan matanya melihat berkas yang sudah bolak balik di periksa kini harus berantakan di buat oleh sang bos. Tulisan nama Calvina terlihat di mana-mana. Tak bisa memaki, Aldi hanya bisa menggeleng dalam hati.
"Dasar bucin bucin. Tahu begini jadinya mending saya saja yang mengerjakan sejak tadi. Tidak usah menunggu Tuan datang." umpatnya kesal.
Zayn yang acuh hanya menyandarkan kepala di sandaran kursi kerjanya. Semangat yang berkobar mendadak hilang saat ini. Tanpa ia tahu di sini Shopia terkekeh puas dan berkompak ria bersama sang kakak yang ternyata hanya tidur pura-pura.
"Terimakasih yah, Dek." seru Calvina terkekeh.
"Memangnya kenapa sih, Kak? Toh Kak Zayn nggak gangguin Kakak juga kan?" tanya Shopia bingung.
"Kakak kasihan sama Zayn. Pasti dia sangat sibuk. Kalau video call terus pasti akan ganggu kerjaanya." jawab Calvina.
Yang tanpa sadar justru mengacaukan semua pekerjaan sang suami di kantor saat ini.
__ADS_1