
Satu jam baru saja calon ayah tampan itu tiba di rumah kedua orangtuanya. Irene tahu apa yang membuat sang anak melamun saja. Berpisah kembali dengan wanita yang ia cintai tentu menjadi sebuah beban yang begitu berat ia rasa.
“Kamu sudah mengambil keputusan yang tepat, Zayn. Kehamilan Calvina saat ini begitu penting untuk kalian pikirkan. Jangan mengutaman rasa kalian masing-masing dulu.” tutur lembut wanita itu seraya mengusap kepala sang anak.
Zayn menghela napas. Andai saja bisa ia lakukan, membawa semua kantor dan pekerjaannya keluar negeri, tentu Zayn lakukan. Sayang, kekuasaannya masih terbatas sebagai orang kaya. Pekerjaan tetaplah pekerjaan yang tidak bisa ia remehkan.
“Semoga anakku kelak cepat tumbuh dewasa, Bu. Aku ingin menghabiskan waktu bersama Calvina. Biar anak-anakku yang meneruskan kantor itu.” Irene terkekeh tanpa suara.
Baginya harapan Zayn masih terlalu jauh. Anak yang ia sebut saat ini bahkan belum berbentuk di dalam rahim sang istri. Tapi, ayahnya sudah menuntutnya untuk mengurus pekerjaan.
“Yasudah kamu istirahat nanti Ibu panggil untuk makan. Jangan lupa kabari Calvina yah?” pintah Irene dan Zayn pun mengangguk.
Sayang, suasana hati Zayn memburuk melihat panggilan teleponnya tak kunjung di angkat sang istri.
__ADS_1
“Kemana Calvina?” gumam Zayn. Tangannya kembali menghubungi namun pada mertuanya. Panggilannya pun tak kunjung mendapat jawaban.
Sampai detik berikutnya, ponsel itu berdering tanda panggilan. Bukan dari Jerman. Panggilan itu terlihat dari nama Rista. Kening Zayn mengerut dalam.
“Rista? Mau apa dia menghubungiku?” gumam Zayn. Tangannya tak kunjung mengangkat panggilan sampai akhirnya pesan masuk.
“Mas, maaf aku mengganggu. Restu sakit dan sekarang di bawa ke rumah sakit. Dia selalu menyebut nama Mas.” Itu pesan yang Zayn baca.
Mengingat nama Restu, Zayn kembali bimbang. Ia pulang tentu juga untuk menjenguk sang anak.
Pesan Rista pun ia kirim pada Calvina. Sembari membersihkan diri, Zayn menunggu pesan balasan dari Calvina. Beberapa kali Rista mencoba menghubungi Zayn, tak kunjung ada jawaban.
“Dimana Ayah, Bu? Restu kangen.” tanya anak kecil itu dengan lemahnya. Sudut matanya tampak berair karena suhu tubuhnya yang begitu tinggi.
__ADS_1
Rista membungkam tak bisa menjawab pertanyaan sang anak. Hanya tangan yang terus bergerak mengusap kening anaknya.
“Sayang, tutup mata dan istirahatlah. Ayah Zayn sedang tidak memegang ponsel. Kan sangat sibuk. Restu harus jadi anak yang pintar mengerti keadaan Ayah. Kelak Restu akan merasakan menjadi seorang ayah yang memiliki tanggung jawab besar. Ayah harus kerja keras agar kita hidup nyaman.” Panjang lebar Rista memberi pengertian.
Meski sebenarnya ia berat untuk mengganggu waktu Zayn. Terlebih yang ia tahu saat ini Zayn masih bersama istri pertamanya.
Tak tega melihat anaknya yang menunggu perhatian seorang ayah. Hanya Zayn yang bisa Restu harapkan.
“Ayah Zayn akan datang kan, Bu?” tanya Restu kembali.
Rista memaksakan senyum dan mengangguk.
“Maafkan aku, Cal. Aku di posisi yang sulit. Anakku butuh Mas Zayn. Maafkan aku.” gumam Rista dalam hati.
__ADS_1
Kini ia menenangkan Restu agar mau tidur. Beberapa kali ia mengecek ponsel dan melihat jika Zayn sudah membaca pesan darinya. Terlebih saat ini Zayn bahkan masih terlihat online di aplikasi chat itu.
“Apa kamu akan acuh dengan Restu, Mas? Aku tahu ini bukanlah kewajiban kamu. Restu bukan darah daging kamu yang harus kamu perhatikan, Mas.” gumam Rista sedih.