
Gerbang menjulang tinggi mulai bergeser terbuka. Wanita cantik bertubuh tinggi menatap heran. Wajah yang Rista lihat sangat familiar.
“Kakek ada di rumah ini, Ibu?” tanya Restu saat menatap sekitar.
Mobil yang mereka naiki tampak berhenti di halaman rumah milik mertua sang suami. Rista tak menyangka jika alamat yang ia tuju ternyata sangat ia kenal pemiliknya.
“Bukan di sini, kita turun dulu yah? Ibu harus menyapa Bibi Shopia.” ujar Rista lembut.
Restu yang akhirnya Rista gandeng turun dari mobil kini mendekat ke arah Shopia. Raut wajah ramah yang biasa Shopia tunjukkan kini tak ada lagi.
“Mau apa kesini?” Pertanyaan pertama kali terdengar membuat Rista meneguk kasar salivahnya.
“Aku…em kami kesini mau mencari keberadaan Ayah saya. Kakeknya Restu. Saya mendapat alamat kalian dari keluarga Pak Danang. Maafkan Ayah saya, Shopia.” Rista tak tahu harus berkata apa lagi.
Candra sudah membuat kesalahan di luar batas toleransi. Shopia tersenyum kecut mendengar permintaan maaf Rista untuk sang ayah.
“Pergilah! Tidak ada maaf yang pantas untuk kalian. Kalian benar-benar jahat. Kalian sudah merenggut kebahagiaan Kakak ku.” Shopia menunjuk ke arah gerbang rumah miliknya.
Matanya tak lagi menatap Rista. Ia benar-benar marah. Sudah cukup penderitaan mereka saat ini. Shopia merasa salah pernah memihak pada wanita yang ia tahu kini sangatlah jahat.
“Aku tidak tahu ini semua, Shopia. Bahkan aku tidak pernah berniat untuk menikah dengan Mas Zayn. Kalian yang mendukung aku selama ini. Tolong jangan seperti ini, Shopia. Aku mohon tunjukkan dimana Ayahku? Aku mohon…” Rista sampai meneteskan air mata memegang tangan Shopia.
__ADS_1
Sayangnya gadis itu justru menepis kasar tangan Rista. Shopia memutar tubuhnya dan melangkah pergi.
“Shopia, tunggu. Aku mohon.” Rista bahkan sampai berlutut di depan Shopia. Ia hanya ingin tahu dimana sang ayah.
Restu kecil sedih melihat sang ibu menangis saat ini. Ia mendekat dan memeluk tubuh ibunya.
“Tante, jangan buat Ibu sedih.” ujarnya.
“Shopia, siapa?” Gauri melangkah keluar dari rumah.
Wajah ramahnya mendadak dingin melihat siapa yang berlutut di depan Shopia. Sedih ketika melihat bocah kecil yang juga ada di sana. Gauri mengajak mereka masuk dengan menggandeng tangan Restu. Bocah kecil yang tak pantas melihat dan mendengar pembicaraan mereka.
“Bu.” ujar Shopia bertanya.
“Shopia, bawa Restu main yah. Ibu akan bicara pada Rista dulu.” Shopia hanya mengangguk mengerti. Sang Ibu tak mungkin melakukan hal yang berlebihan.
Meski berat rasanya mengijinkan mereka masuk ke dalam rumah, Shopia hanya bisa diam. Mengikuti perintah sang Ibu membawa Restu bermain di ruang tv.
Di sini Rista duduk berhadapan dengan Gauri. Mata wanita paruh baya itu terlihat bergenang air mata. Sedih ketika bayangan cerita sang anak kembali ia ingat.
“Ayahmu kami penjarakan karena terlalu jahat pada keluarga kami. Kami tahu jika itu semua juga termasuk campur tangan kamu, Rista. Kami tidak menyangka kamu terlibat dengan ini semua.” Rista tak bisa berkata apapun selain menggelengkan kepala.
__ADS_1
“Apa salah keluarga kami? Apa salah Calvina padamu, Rista?”
Percakapan yang hanya sepihak itu masih bisa sampai pada telinga Shopia.
“Maafkan Ayah saya, Bu. Maafkan saya.” Rista tak lagi perduli bagaimana pandangan keluarga Calvina padanya. Yang ia perdulikan hanya keberadaan sang ayah.
“Ijinkan saya bertemu Ayah saya, Bu.” ujar Rista lagi.
“Ini alamatnya.” Gauri menyerahkan ponsel dan menyuruh Rista menulis sendiri.
Enggan rasanya ia berbicara banyak. Setelah pertanyaannya tak bisa Rista jawab, Gauri kini paham. Jika orang lain sebaik apa pun kita memperlakukan mereka, tetaplah hubungan itu sebatas orang lain. Tak akan ada kenaikan hubungan menjadi keluarga.
“Maafkan saya dan Ayah saya.” Sebelum benar-benar pergi, Rista memilih berkata demikian lagi.
Barulah Restu berlari mendekati sang Ibu dan memeluknya. Mereka berdua keluar dari rumah orangtua Calvina.
“Ini bukan salahku. Ini salah kalian. Aku hanya mempertahankan apa yang menjadi hak ku. Aku tidak jahat sama sekali,” Dalam hati Rista berusaha menenangkan diri. Alamat yang ia dapat barusan langsung di berikan pada sang supir.
Shopia mendekati sang Ibu setelah tamu tak di undang itu pergi.
“Bu, kenapa di kasih? Kenapa tidak di biarkan saja mereka terpisah? Mereka itu orang jahat, Bu.” tutur Shopia geram.
__ADS_1
Gauri menghela napasnya. “Bagaimana pun juga itu salah, Nak. Mereka berhak bertemu. Sudah cukup Ayahnya mendapat keadilan itu. Ibu sudah puas. Dan semuanya juga tidak bisa mengembalikan keadaan seperti dulu lagi. Calvina dan Zayn akan tetap seperti ini juga.” Gauri nampak pasrah.
Kebahagiaan anak pertamanya bersama Zayn sudah hancur. Entah bagaimana jalan untuk mereka berdua kembali merasakan bahagia seperti dulu lagi. Shopia pun merasakan rindu moment sang kakak yang selalu pulang dengan wajah cerianya.