
Pandangan mata menyipit dengan bibir tersenyum melihat pergerakan seorang wanita di kejauhan menaiki mobil mewah. Ia melaporkan hasil kerjanya saat ini pada sang bos.
"Nona Rista sedang keluar menggunakan mobil di kediaman keluarga Yonathan, Tuan." lapornya pada Candra.
"Ikuti dan awasi terus Rista. Pastikan jika dia akan menjadi bagian keluarga Yonathan." pintah Candra.
Hal yang tak pernah terpikirkan olehnya jika akan menjadi besan dengan keluarga terhormat seperti Yonathan. Tentu rasanya seperti mendapat durian runtuh di waktu yang tidak terduga.
Rista yang fokus pada pikirannya tak sadar jika pergerakannya ternyata di ikuti dari kejauhan. Supir yang mengemudikan mobil pun tidak sadar sebab mereka begitu jauh hanya untuk mengetahui kemana perginya Rista. Peringatan dari sang bos membuat mereka takut untuk mendekat sebab keluarga Yonathan pasti tidak akan melepaskan begitu saja Rista tanpa tahu kegiatannya.
"Terimakasih yah, Pak." sahut Rista tersenyum pada supir.
Kini mobil sudah tiba di rumah sakit dimana semalam terjadi hal yang tak Rista duga. Ia melangkahkan kaki menuju ruangan dimana rasanya ia takut untuk masuk. Tangan yang dingin terangkat dan memutar handle pintu. Bersamaan dengan itu ia mendapat tatapan tajam dari wanita yang baru bertemu dengannya beberapa saat.
"Rista?" sahut Irene kaget melihat Rista datang.
"Bu, maaf saya datang ke sini. Di rumah saya tidak tahu melakukan apa. Setidaknya di sini saya bisa menyumbang tenaga membantu menjaga Nyonya Calvina." ujar Rista terdengar begitu sopan.
Hanya ada Irene di ruangan itu sebab yang lain sudah pergi untuk melanjutkan aktifitas mereka masing-masing. Melihat perut buncit Rista rasanya Irene tak tega jika memintanya kembali pulang apalagi harus berbicara dengan nada ketus.
"Yasudah duduklah di sana. Jangan membuat hal yang bisa membahayakan perutmu. Keluargaku sudah cukup banyak masalah jangan menambahnya lagi." sahut Irene.
Patuh Rista duduk di sofa menemani Irene menjaga Calvina. Keadaan hening selama mereka berdua di ruangan rawat. Sampai akhirnya Irene di kejutkan dengan kabar dari ponselnya.
"Ya, ada apa Zayn?" tanya Irene kala menempelkan benda pipih di telinganya.
__ADS_1
"Hah? Apa Zayn? Ayahmu jatuh pingsan? Dimana kalian sekarang? Ibu segera kesana." Irene sangat panik. Rista yang mendengarnya pun turut terkejut.
"Bu, tetaplah di sana. Calvina tidak ada yang menjaganya. Aku akan membawa Ayah ke rumah sakit." Suara Zayn membuat Irene menatap ke arah Rista. Berat hati ia meninggalkan sang menantu namun suaminya saat ini dalam keadaan sangat menakutkan baginya.
"Tidak, Zayn. Ibu akan kesana. Dimana kamu akan membawa Ayahmu? Calvina sudah ada yang menjaganya." ujar Irene.
Rista nampak meneguk salivah kasar mendengar ucapan Irene. Ia bahkan takut jika harus di tinggal sendirian menjaga Calvina. Bagaimana pun keluarga Yonathan masih meninggalkan tuduhan buruk padanya. Jika sampai terjadi sesuatu pada Calvina tentu Rista yang akan di tuduh.
Setelah panggilan telepon berakhir, Irene mendekati Rista. "Kamu jaga menantu saya. Ingat jaga dan jangan macam-macam. Jika sampai terjadi sesuatu dengan Calvina kamu akan mempertanggung jawabkan semuanya." pintah Irene yang hanya mendapat anggukan patuh dari Rista.
"Saya janji akan menjaga Nyonya Calvina, Bu. Saya akan menjaga dengan baik." Tak lagi mendengarkan ucapan Rista, Irene segera berlari keluar menuju rumah sakit terdekat di kantor sang suami.
Sepanjang jalan Irene terus menangis ketakutan membayangkan hal buruk terjadi pada suaminya.
"Loh Irene?" sahut Gauri menunjuk sang besan.
"Gauri? Kalian di sini juga?" tanya Irene ketika mereka tiba bersamaan di parkiran.
Saling tatap seolah Gauri bertanya siapa yang menjaga Calvina di rumah sakit jika mereka semua ada di sini.
"Bu, siapa yang menjaga Cavina di sana?" tanya Zayn ketika bertemu mereka semua saat menunggu dokter memeriksa sang ayah di dalam sana.
"Rista, dia yang menjaga Calvina. Kamu tidak perlu cemas Ibu sudah menaruh cctv tersembunyi kok di ruangan itu. Apa kamu lupa?" sahut Irene mengingatkan Zayn.
Pria itu mengangguk tenang mendengar ucapan sang ibu. Namun, semua menoleh bersamaan ketika mendengar suara dari seorang gadis cantik yang berjalan ke arah mereka.
__ADS_1
"Cctv hanya bisa memantau saja, Bu. Bukan untuk mencega. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Kak Calvina siapa yang bisa mencegahnya sementara kita di sini semua. Sekarang biarkan aku yang kesana dan mengusir wanita itu." ujar Shopia marah.
Baginya nyawa sang kakak sangat bahaya saat ini. Wanita yang jatuh cinta dan berencana jahat tentu bisa melakukan apa pun di luar nalar orang waras.
"Shopia, sudah jangan membuat masalah." Gauri lagi-lagi menegur sang anak.
Di tengah perdebatan keluarga itu terdengar dokter yang keluar setelah memeriksa keadaan Prayan.
"Dokter, bagaimana suami saya? Dia baik-baik saja kan, Dokter?" sahut Irene bertanya cemas.
"Tuan Prayan saat ini sedang terkena stroke bagian sebelah kanan. Tetapi anda jangan khawatir, Nyonya. Stroke yang di derita Tuan masih stroke ringan. Kita bisa melakukan therapi untuk kesembuhan beliau. Saat ini tekanan darah pasien sudah kembali turun dari sebelumnya. Ini sangat bahaya jika sampai tekanan darahnya naik drastis seperti tadi." Semua terdiam mendengar apa yang terkena pada Prayan.
Keadaan tubuh yang terlihat sehat seketika membuat mereka tak menyangka jika sang ayah akan mendapat penyakit menakutkan seperti itu. Irene terduduk menangis mendengar sang suami menderita stroke. Meski masih bisa di sembuhkan tetapi tetap saja baginya itu penyakit yang menakutkan. Banyak orang di luar sana yang tidak berhasil sembuh dan justru meninggal.
"Tolong Dokter, sembuhkan suami saya. Lakukan apa pun yang bisa membuat suami saya sembuh lagi. Saya mohon..." Irene menangis memegangi jas dokter di depannya.
Zayn yang melihat kerapuhan sang ibu segera mengambil tubuh wanita paruh baya itu dan memeluknya. Gauri pun mendekat dan mengusap punggung sang besan. Ketakutan pun sama ia rasakan saat ini. Bagaimana dengan suaminya kelak.
Shopia yang semula marah perlahan diam tak tega melihat kerapuhan keluarga kakak iparnya. Zayn sudah hampir kehilangan sang kakak. Dan sekarang Tuhan justru memberi cobaan pada mereka lagi dengan membuat ayahnya sakit.
"Sebaiknya aku mengawasi Kakak dari cctv saja. Ini jauh lebih baik." gumam Shopia mengambil ponselnya.
Keningnya mengerut dalam kala melihat seorang pria yang pernah ia lihat kini masuk ke ruang rawat sang kakak. Di sana terlihat Rista pun menyambut pria itu dengan wajah datar tanpa berkata apa pun.
"Pria ini?" gumam Shopia.
__ADS_1