Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Mood Ibu Hamil


__ADS_3

Langkah tertatih-tatih seorang wanita paruh baya mendekati sang anak yang baru membuka pintu rumah dari luar. Wajahnya terlihat datar.


“Reza, bagaimana? Restu sudah membaikkah?” Reza tampak mengangguk pelan pada sang ibu.


“Rista bagaimana?” tanya Ida lagi tak puas dengan jawaban sang anak.


Ia ingin kabar lebih tentang keadaan Rista di kota. Reza heran mengapa ibunya selalu baik pada wanita itu. Padahal Pak Danang sang ayah selalu mendapat perlakuan tidak baik dari Candra sebelumnya.


“Mereka baik-baik saja, Ibu. Jangan terlalu mencemaskan orang lain. Bagaimana Ayah? Apa hari ini tidak ada kambuh lagi?” Reza memilih menghampiri sang ayah yang berada di dalam kamarnya.


Melihat sosok pria tua yang hanya bisa terbaring lemah membuat Reza mengingat lagi Rista. Seandainya keluarga mereka tak mengenal keluarga Rista mungkin semua akan baik-baik saja.


Di arah pintu, Ida memperhatikan anaknya yang mengusap kepala Pak Danang.


“Ayahmu akan senang jika kita tetap baik pada Rista, Za. Dia anak yang baik hanya saja berada di lingkungan yang salah. Itu sebabnya Ayahmu selalu melindunginya.” nasihat Ida. Reza hanya diam.


Pergi ke kota bukanlah pilihan Reza apa lagi untuk menemui mereka. Namun, desakan sang ibu terus saja membuatnya gelisah.

__ADS_1


“Jangan melihat Ayahnya, tapi lihatlah Rista. Sama seperti kamu yang tidak melihat Rista, tapi melihat Restu. Itulah yang Ibu dan Ayah lakukan pada Rista, Za. Dia hanya korban. Dia gadis yang baik dan hidupnya sangat malang.” tambah Ida lagi.


Kata-kata terakhir dari sang ibu membuat pikiran Reza terbuka. Sebenci apa pun ia pada Rista, tetap semua yang terjadi bukan salah wanita itu.


Malam yang semakin larut membuar Reza beranjak menuju kamarnya untuk membersihkan badan. Tubuhnya terasa lelah sekali akibat perjalanan jauh.


Beberapa kali ucapan sang ibu terngiang di kepalanya. Sosok wanita yang menjadi pikiran Reza malam ini ternyata sedang menunggu orang lain. Meski waktu semakin larut, Rista tak juga menyerah menunggu kehadiran Zayn.


Sedangkan Restu sudah terlelap sembari memeluk salah satu mainan pemberian ayahnya. Melihat itu hati Rista semakin teriris. Berbeda halnya dengan Calvina yang di sini tersenyum-senyum membayangkan suaminya datang. Rasanya sungguh tak sabar melihat Zayn datang dengan banyaknya pesanan Calvina.


“Apa sih? Jangan lebay dong. Harga diri seorang perempuan itu harus di pertahankan, Shopia. Kakak malu kalau harus minta Zayn kesini cuman karena kangen. Lagian Kakak juga pengen kok makan semua yang Zayn bawakan.” kilah Calvina. Shopia berdecih.


“Kakak memang pernah koma tapi bukan berarti hilang ingatan yah? Memang sejak kapan Kakak suka makanan sederhana begitu? Kita hidup sejak kecil sama-sama, Kak. Kakak tidak pernah makan itu semua. Apa Kak Zayn lupa yah? Makanya patuh-patuh aja.” tutur Shopia.


Calvina yang semula ceria mendadak berubah. Wajahnya menekuk kala mendengar ucapan sang adik. Ekspresinya berubah sedih.


“Apa iya Zayn lupa tentang itu, Shopia?” tanyanya dengan suara yang pelan.

__ADS_1


“Yah jelas lupa dong, Kak. Buktinya aja nggak ingat. Nggak ingat yah berarti lupa.” jelas Shopia telak.


Mood hamil muda yang membuat Calvina sulit mengontrol diri, sontak membuatnya meninggalkan kamar itu. Shopia heran melihat tingkah sang kakak.


“Ini lagi. Bukan Kakakku kalau tukang ngambek begini. Apa jangan-jangan tingkahnya jadi ketularan sama madunya yah? Eh.” Shopia menutup mulut dengan tangan karena sadar ucapannya tak pantas di keluarkan.


Di ruang televisi Calvina uring-uringan. Menghubungi sang suami beberapa kali namun masih tak bisa. Sudah tahu jika Zayn sedang dalam perjalanan, tetapi pikirannya yang kacau membuatnya memaksakan kehendak untuk bisa segera bicara pada sang suami.


“Zayn, kenapa sih susah betul di hubungi? Apa iya dia benar-benar lupa semua tentang aku?” Air matanya sudah menggenang di kelopak mata. Calvina merasa sesak mengingat kembali hubungan sang suami yang sempat ia lihat bahagia bersama Rista.


Bagaimana pun semuanya saat ini sudah berpisah, tetap saja ia tak bisa melupakan sakitnya melihat suami sendiri hidup bersama wanita lain.


“Apa Zayn yang membuatmu sedih lagi, Cal? Katakan pada Nenek.” Tiba-tiba saja suara menyeramkan itu muncul. Calvina yang menunduk sedih sekejap mata merubah ekspresi menjadi ceria.


“Nenek!” serunya sembari berdiri meraih tangan sang nenek untuk ia bawa duduk.


“Zayn buat ulah apa lagi? Jangan jatuhkan air mata mu satu tetes pun, Cal.” Calvina menggeleng dengan wajah tetap tersenyum. Ia tak ingin memberi celah Neneknya untuk menghakimi sang suami.

__ADS_1


__ADS_2