Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Menantu Kesayanganku


__ADS_3

Damai, tenang setiap hembusan udara pagi ini. Malam yang kalut telah terlewatkan tanpa terasa. Kini mentari pagi perlahan mulai meninggi dan menerangkan sinarnya. Terasa hangat kala sinarnya menyentuh setiap tubuh yang beraktifitas di bawahnya. Namun, kehangatan itu tak di rasakan pada orang-orang yang berada di kediaman Zayn saat ini. Rista merasa udara sangatlah dingin dan canggung.


"Restu, ayo Ayah antar. Sekalian Ayah ke kantor." ujar Zayn memecah keheningan di meja makan.


Tampak bocah kecil itu mengangguk senang mendengar ucapan ayahnya. Dengan semangat ia meneguk habis susu di gelasnya. Rista yang hanya diam sadar jika keberadaanya sangat tidak di inginkan sang suami saat ini.


"Sayang, pagi ini kamu pergi bersama Ayah. Ibu nanti menjemput saat siang yah? Ibu ada urusan." ujar Rista yang paham.


Peran Restu sangatlah berpengaruh saat ini. Namun, jika ia memanfaatkan sang anak tentu itu bukanlah hal yang baik. Dan bisa saja Zayn bahkan tak lagi mau menganggap Restu sebagai anaknya jika Rista membuat kesalahan bersama anaknya.


Patuh anak kecil itu hanya mengangguk tersenyum. Ia senang akhirnya bisa bersama sang ayah lagi. Keduanya pun segera berangkat dengan Rista tetap mencium punggung tangan sang suami. Ia tak boleh menunjukkan jaraknya pada Zayn di depan sang anak.


Kepergian keduanya membuat Rista memiliki waktu untuk berpikir. Ia memikirkan cara apa yang pas untuk mencegah perpisahannya dengan Zayn. Sampai pada akhirnya bibir wanita beranak satu itu menyebut seseorang yang terlintas di pikirannya.

__ADS_1


Singkat cerita, Rista telah memantapkan pilihannya datang ke rumah orang tua Zayn. Besar harapan agar ia mendapat jalan dari sang mertua. Bagaimana pun ia menikah dengan Zayn atas permintaan kedua orangtua Zayn juga. Irene adalah wanita yang sangat bijak dan baik. Dia tak akan tega melihat Rista di acuhkan begitu saja oleh Zayn.


Sebuah mobil terlihat berjalan ke arah luar halaman itu. Rista yang semula tersenyum menduga jika itu sang ayah mertua hanya bisa mengangguk sopan. Ia tak bisa bersapa pada Prayan karena tahu pria itu pasti akan pergi untuk urusan pentingnya.


"Rista," sapa Irene kala melihat sang menantu memasuki halaman rumah. Irene mengerutkan kening melihat setiap langkah kaki sang menantu mendekat padanya.


"Bu, Rista ingin bicara dengan Ibu." ujarnya masih senyum sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


"Yasudah, ayo masuk." Irene mempersilahkan sang menantu masuk ke dalam rumah.


"Tidak. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Ibu pasti sedang ada masalah." batin Rista bermonolog.


Sampai keduanya duduk berhadapan di sofa, tatapan mata Irene benar-benar jelas tidak baik pada sang menantu. Dann hal itu membuat Rista sulit berbicara akrab.

__ADS_1


"Zayn ingin menceraikan aku, Bu. Sampai saat ini hubungan kami masih belum ada kemajuan. Tapi aku sudah berusaha keras untuk menjadi istri yang terbaik, Bu. Semua perintah Zayn aku turuti dan semua aturan yang dia buat sudah aku penuhi. Tolong aku, Bu. Aku ingin tetap bersama Zayn. Aku tidak tahu harus mengadu pada siapa lagi." Rista menangis.


Jujur semua ucapannya adalah keluhan yang ingin ia utarakan. Baginya Irene selama ini begitu baik padanya dan bisa menjadi ibu untuknya juga. Sayang, satu hal yang Rista lupakan. Jika satu kesalahan yang ia buat adalah kesalahan yang sangat sangat fatal. Rista lupa jika Calvina adalah anak yang paling di sayang Irene. Bahkan bisa melebihi Zayn anaknya sendiri.


"Menjadi istri yang baik?" sahut Irene dengan wajah tanpa ekspresi. Sontak Rista menganggukkan kepalanya cepat.


"Iya, Bu. Aku sudah belajar semuanya. Tapi, apa yang Zayn berikan padaku, Bu? Sampai saat ini hatinya masih tertutup untukku, Bu." Rista kembali mengadu.


Irene menarik napas dalam sedetik berikutnya wanita paruh baya itu menghela napas pelan.


"Dulu saya berharap keputusan saya tidaklah salah, Rista. Jika pun saya salah dalam menikahkan anak saya dengan wanita pilihan saya, tetapi saya berharap hasil akhirnya akan menunjukkan yang terbaik. Sekali pun Calvina masih hidup dan bisa membuat saya menyesal atas semuanya. Itu tak apa. Tapi, sayang. Semua yang kamu perbuat benar-benar membuat saya penuh penyesalan. Kamu benar-benar salah menilai kebaikan kami semua." Rista terdiam dari tangisnya kala mendengar ucapan sang ibu mertua.


Matanya melebar merasa kaget dengan respon yang Irene berikan. Sama sekali di wajah wanita paruh baya itu tak terlihat ada raut prihatin pada Rista. Yang ia lakukan hanya duduk tegap memandang ke depan tanpa mau melihat ke arah sang menantu.

__ADS_1


Sampai akhirnya Irene menoleh dengan menatap datar. "Apa yang kamu lakukan pada menantu kesayanganku, Rista?" tanyanya ketus.


Meski singkat namun sukses membuat dada Rista terasa tercabik-cabik. Kini ia sadar datang kemari bukanlah pilihan yang tepat. Hatinya jauh lebih sakit saat mendengar ucapan Irene. Melebihi sakit yang ia rasakan ketika Zayn menyatakan cinta di depannya untuk Calvina.


__ADS_2