Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Satu Minggu Merubah Segalanya


__ADS_3

Terlelap dalam tubuh yang lelah membuat Zayn begitu nyenyak tanpa sadar jika pagi sudah tiba. Tepukan dan suara memanggil namanya samar membuat pria itu mengerutkan dahi.


"Tuan Zayn, bangun. Tuan!" panggil seseorang yang menunduk di depannya.


Zayn kaget ketika membuka mata ia justru di hadapkan oleh wanita yang sudah ia tolong. Wajah cantik dan perut buncitnya menjadi pemandangan pertama yang Zayn lihat pagi ini. Rista tersenyum menegakkan tubuhnya melihat Zayn sudah bangun.


"Kamu?" sahut Zayn.


"Ini saya bawa sarapan untuk anda, Tuan. Dan untuk keluarga yang lain juga kalau nanti kemari." Zayn mematung mendengar ucapan Rista. Pria itu seperti berusaha mengumpulkan kesadarannya saat ini.


Rista yang bergerak menyiapkan makanan membuat Zayn hanya diam memperhatikan. Untuk pertama kalinya ketika ia bangun di pagi hari pandangannya bukan tertuju pada sang istri. Zayn sadar jika di depannya kini ada Calvina yang menunggu sapaan selamat pagi darinya.


"Selamat pagi, Sayang. Kamu belum mau bangun juga yah? Sebentar lagi aku harus ke kantor. Kamu baik-baik yah? Secepatnya aku pulang kok." sahut Zayn mencium kening sang istri yang masih juga belum sadar.


Mendengar ucapan Zayn hati Rista menghangat. Senang mendengar ada pria yang begitu mencintai istrinya. Selama ini ia tak percaya dengan cinta suami yang begitu besar pada istrinya. Seperti sang ayah yang sering kali bertingkah kasar pada sang ibu yang sudah tiada. Lintas ingatan di benak Rista membuat wanita itu larut dalam kesedihannya. Sang ibu yang harus berakhir di tangan sang ayah begitu kejam membuatnya sangat marah. Sesal begitu besar ia rasakan sebab tak bisa melindungi sang ibu yang di siksa.


Di sudut lain ruangan itu Zayn baru saja menerima panggilan. "Kamu ada kuliah, dan Ibu bagaimana? Apa tidak bisa kesini?" sahut Zayn yang sepertinya sedang berbicara dengan Shopia.

__ADS_1


"Iya Kak, Ibu kepalanya pusing karena begadang semalam. Ayah bisa ke sana agak siang katanya." sahut Shopia yang merasa ikut bingung. Meski Calvina belum juga sadar tetapi mereka tak ingin melewatkan kesempatan ketika Calvina sadar nantinya dan membutuhkan mereka.


Zayn sejenak memijat kepalanya. Hari ini ia pun sudah harus meeting bersama klien sebab beberapa kali telah mengundur jadwal pertemuan. Rista yang mendengarnya sadar jika ini adalah kesempatan dirinya berguna di keluarga yang baik itu.


Ia mendekati Zayn dan berkat, "Tuan Zayn, saya bisa menjaga istri anda. Saya pastikan saya menjaga dengan baik. Anda tidak perlu khawatir." ujar Rista tetap menjaga jaraknya berdiri di depan Zayn.


Ponsel pun Zayn turunkan dari telinga. Ia menatap Rista lalu beralih menatap sang istri lagi. "Calvina sudah sangat lama tidak sadarkan diri. Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Saya sangat cemas jika sampai ia sadar tidak ada orang di sini. Saya sangat menunggu waktu itu." Rista mengangguk paham atas ucapan Zayn.


"Saya janji akan memberi kabar anda jika Nyonya Calvina sadar, Tuan. Saya juga akan merawat Nyonya dengan baik. Anggap ini adalah balas budi saya karena anda sudah baik pada saya dan calon anak saya." Hanya helaan napas yang Zayn keluarkan mendengar ucapan Rista. Menolak tentu saja tidak mungkin ia lakukan.


Zayn berharap sang ayah bisa segera sadar dan membaik agar bisa membantunya di perusahaan.


Setelah mengusap kening Calvina, mencium tangan dan wajah sang istri barulah Zayn beranjak meninggalkan ruangan itu. Ia menolak untuk menyentuh sarapan dari Rista. Selera makannya hilang ketika memikirkan sang istri tidak ada yang menjaga. Berharap Rista bisa di andalkan dalam menjaga sang istri.


Benar saja seperginya Zayn dari ruangan itu, suster datang untuk menyeka tubuh Calvina. Siapa sangka hal mengejutkan yang di lakukan oleh Rista.


"Suster bisa saya belajar menyeka tubuh pasien? Saya ingin mengurusnya dengan baik selain hanya menjaganya saja." ujar Rista nampak memohon dengan tulus.

__ADS_1


"Tapi, Bu..."


"Saya di percaya menjaga dan mengurus pasien. Saya ingin melakukan yang terbaik, Sus." sahut Rista lagi memotong ucapan suster. Setelah itu ia pun mendapat ijin dan mulai ikut membantu suster. Sama sekali tak ada raut mencurigakan di wajah Rista. Sebagai wanita hamil tentu ia lebih di kasihani oleh orang yang melihatnya.


"Wajahnya sangat cantik yah, Sus. Padahal sudah lama sakitnya." sahut Rista mengakrabkan diri dengan suster yang tersenyum mengangguk.


"Iya, Bu. Nyonya Calvina memang sangat cantik. Sangat cocok dengan Tuan Zayn. Semoga saja segera sadar, kasihan suaminya begitu berharap selama empat tahun ini, Bu." Keduanya terus berbicara dengan santai tanpa sadar jika ada beberapa pasang mata yang memperhatikan kegiatan di ruang rawat itu.


Zayn yang bekerja sembari memantau di ruang kerjanya nampak mengamati tanpa henti apa yang di lakukan oleh Rista. Merawat sang istri lebih dari apa yang ia perintahkan. Sesekali Rista terlihat mengusap rambut Calvina. Bukan hanya Zayn, Shopia dan juga Gauri nampak memperhatikan cctv di ponsel mereka masing-masing.


"Ternyata dia benar-benar baik. Kak Calvina di urus begitu baik. Bahkan aku saja adiknya belum pernah mengurus Kakak sampai sejauh itu." gumam Shopia yang semula ia kaget ketika Zayn membiarkan wanita itu lagi yang tinggal di rumah sakit.


"Aku sudah salah menilai wanita itu. Dia benar-benar tulus ingin membalas budi." gumam Gauri sedih.


Sejak saat itulah pandangan semua orang berubah pada Rista. Mereka tak lagi memberi tatapan sinis di tambah setiap hari Rista selalu sibuk mengurus mereka yang berjaga di rumah sakit. Rista selalu memasak di rumah dan membawakan makan serta pakaian ganti ke rumah sakit. Irene yang juga sibuk mengurus sang suami di rumah sakit yang sama dengan menantu tampak merasakan perhatian Rista yang tulus.


"Rista, maafkan saya yah? Saya sudah ketus sama kamu ketika pertama kali bertemu. Saya sudah salah menilai kamu." ujar Irene. Rista yang hendak berbalik menuju ruangan Calvina urung ia lakukan.

__ADS_1


Ia menatap Irene dengan wajah tersenyum. "Itu hal wajar, Bu. Saya orang asing yang tiba-tiba datang meminta pertolongan pada kalian. Sudah sepatutnya kalian berhati-hati. Tapi, saya sangat bersyukur bisa membalas kebaikan kalian semua. Jika tidak ada kalian, saya tidak tahu nasib saya bagaimana di tangan Ayah, Bu." sahut Rista.


Sudah satu minggu berlalu kini ia mulai terbiasa mengurus dua keluarga itu dengan memasak dan menjaga Calvina. Memandikan Calvina sudah bukan lagi tugas suster. Hal itu menjadi kebiasaan Rista selama satu minggu ini. Zayn pun merasa sangat terbantu dengan adanya Rista.


__ADS_2