Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Rasa Trauma


__ADS_3

Terlalu asik berbicara, sampai Rista dan Bu Ida terhenti ketika mendengar suara dari Restu yang berteriak.


"Ibu, ada Paman." serunya berlari memasuki rumah.


Orang yang di maksud bocah itu ternyata adalah Reza. Wajahnya tak berubah dari sejak kepergian Rista dari rumah mereka waktu itu sampai saat ini masih tetap dingin. Tanpa ia menyapa Rista, Reza hanya berbicara pada ibunya.


"Bu, sudah terlalu lama. Ayo kita pulang. Ayah pasti mencari kita." ajaknya. Bu Ida mengangguk tersenyum. Ia pun merasa sudah cukup untuk mereka berbicara. Saatnya Rista beristirahat bersama anaknya.


"Rista, kami pulang dulu. Jika ada apa-apa jangan segan berbicara. Reza setiap hari akan lewat di depan rumah ini untuk pergi bekerja. Kamu bisa meminta tolong padanya."


"Aku sibuk, Bu." potong Reza dengan cepatnya.


Sadar jika dirinya tak di inginkan oleh Reza, Rista hanya diam setelah menganggukkan kepala pada Bu Ida. Mereka pun berpisah di depan rumah. Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rista saat ini. Yaitu wajah sang anak.


"Sayang, kamu kenapa?" tanyanya. Sebab Restu menunduk menekuk wajah sedih dengan bibir yang ia majukan.

__ADS_1


"Kenapa Ayah Zayn lama sekali, Bu? Restu kangen bobo bareng lagi." Rista terdiam. Entah bagaimana ia menjelaskan pada anaknya ke depannya. Bahkan jarak mereka saat ini dengan Zayn pun semakin jauh. Tak mungkin rasanya jika Zayn sampai datang ke desa ini demi menjenguk anaknya.


Rista menggendong tubuh sang anak dan mencium kepalanya. Di peluknya begitu erat tubuh yang kian hari kian membesar itu. Hanya Restu yang ia miliki, sebisa mungkin Rista tak menyakiti hati sang anak.


"Semua Ayah pasti seperti itu, Nak. Mereka akan menjadi orang yang paling sibuk untuk mencari uang. Ada Ibu dan kamu yang harus ayah berikan makan makanan enak, rumah, dan sekolah yang bagus. Restu lihatkan beberapa teman di sekolah bahkan mereka hanya beberapa hari bersama ayahnya lalu setahun bahkan lebih merek tidak bertemu ayahnya?" ujar Rista yang membuat Restu mengangguk.


"Nah mereka itu ayah yang super hebat." tambah Rista lagi.


"Berarti kalau ayah teman Restu yang selalu bersama anaknya tidak hebat, Bu?" tanya Restu dengan pintarnya.


Rista bahkan sampai terkekeh mendengar ucapan sang anak. Sepertinya ia harus lebih banyak belajar untuk bisa menyampaikan pemikirannya pada sang anak dengan lebih baik lagi.


"Kalau Ayah hebat, kenapa Ibu sampai menjual mobil? Dan kenapa kami harus ke desa ini? Kalau Ayah hebat pasti Ayah akan belikan kami rumah baru seperti ayahnya Zoya. Apa Ibu sedang menyembunyikan sesuatu dariku tentang Ayah?" gumam Restu bertanya-tanya sembari menatap sang ibu dengan tatapan penasaran.


Sedari kecil hubungannya bersama Zayn begitu sangat dekat. Kejadian ini membuatnya seolah penuh rasa tanda tanya. Sementara tanpa keduanya tahu, jika orang yang tengah mereka bicarakan saat ini kini tengah gelisah.

__ADS_1


Beberapa hari sudah Zayn menghabiskan waktu di Jerman, kini saatnya ia harus kembali ke negaranya. Meninggalkan sang istri yang tengah hamil muda tentu terasa berat bagi Zayn yang pernah kehilangan kedua anaknya.


"Kenapa waktu begitu cepat sekali? Aku masih berat meninggalkanmu, Cal." ujar Zayn ketika sang istri tampak mengemasi barangnya ke dalam koper.


Wajah ayu yang semakin hari seperti semakin bersinar di mata Zayn. Ia menoleh tersenyum dan melangkah mendekati sang suami. "Pulanglah dan selesaikan semuanya. Ingat, ada Restu yang menunggumu di sana. Kasihan dia." Zayn menunduk menghela napas kasar.


Bocah kecil yang ia rindukan harus segera ia temui dan beri waktu untuk bersamanya juga. "Aku akan baik-baik saja di sini menjaga anak kita, Zayn. Aku janji itu."


"Janji tidak akan dekat dengan pria mana pun?" sahut Zayn membuat Calvina menggeleng terkekeh.


"Mana ada ibu hamil bisa dekat sama pria mana pun. Kau ini ada-ada saja." jawab Calvina bingung.


Zayn terdiam. Ia tidak ingin menceritakan mimpi buruknya selama di perjalanan menuju Jerman. Saat ini ia hanya ingin mengenang kisah bahagia sebelum akhirnya mereka berpisah. Pelukan erat Zayn berikan pada tubuh sang istri.


"Aku mohon jaga anak kita, Cal. Jaga diri mu baik-baik. Jangan keluar dari rumah. Tunggu aku kembali jika ada sesuatu yang kau butuhkan." Calvina menganggukkan kepalanya dengan cepat.

__ADS_1


Ia pun tak akan mau membahayakan diri sendiri lagi bersama calon anaknya. Kejadian di masa lalu benar-benar memberikan rasa trauma yang besar bagi Calvina dan Zayn sampai saat ini.


"Iya. Aku akan menunggumu kembali, Zayn."


__ADS_2