
"Nek, beri aku waktu bicara dengan Zayn. Bolehkah?" Suara yang lembut penuh dengan tatapan memohon seketika membuat Fara menghentikan aksinya. Ia memperbaiki penampilan yang berantakan lalu turun dari ranjang. Tak lupa sebelum pergi dari kamar itu, matanya menatap penuh kebencian pada Zayn.
Hal itu tak lagi Zayn pentingkan saat ini. Ia hanya ingin bersama dengan Calvina. Semua anggota keluarga melangkah mengikuti kepergian Fara yang menyimpan emosi. Gauri tentu ketakutan sebab ialah dalang dari ide gila ini pada menantunya.
"Kalian benar-benar keteraluan. Pasti kalian dalang dari ini semua." Fara menatap sang anak yang menunduk bersama suaminya.
Sementara di dalam kamar, Calvina masih menatap sang suami dengan mata yang sendu.
__ADS_1
"Maafkan aku, Cal. Maafkan aku. Aku tidak tahu lagi harus bersabar seperti apa menunggu waktu. Aku benar-benar merindukanmu. Aku bahkan sudah menceraikan Rista. Aku tidak perduli kau menganggap aku sejahat apa. Tapi, yang jelas aku tidak rela jika kau di lecehkan oleh ayahnya. Mereka benar-benar jahat. Pernikahan yang kami lakukan pun bukan berdasarkan cinta. Aku hanya terpaksa mengikuti kata orangtua kita." Panjang lebar Zayn mengungkapkan isi hatinya.
Ia benar-benar lelah jika harus menunggu beberapa tahun lagi untuk memperjuangkan Calvina.
"Jika kau memintaku menjauh lagi. Aku tidak bisa. Aku ingin bersamamu terus. Hubungan kita masih bisa di perbaiki bukan?" Mendengar pertanyaan Zayn, Calvina menundukkan kepala sedih.
"Aku tahu, Zayn. Aku tahu kau lelah. Aku tahu semua perasaan mu masih sama seperti dulu. Tapi, aku tidak bisa mengorbankan Nenek untuk kebahagiaan kita." Calvina menjatuhkan air matanya saat ini.
__ADS_1
Zayn tahu begitu lapang hati Calvina untuk orang-orang di sekitarnya. Jangankan memikirkan sang nenek, Rista saja yang nyatanya orang asing begitu ia pikirkan kehidupannya jika di tinggal oleh Zayn.
"Kita hadapi Nenek bersama-sama. Biarkan aku membuktikan pada Nenek jika semuanya bisa baik-baik saja. Sudah cukup kau memikirkan kesejahteraan orang lain, Cal. Di sini hubungan kita tidak sepantasnya di korbankan. Aku berani bersumpah tidak pernah ada perasaan apapun dengann Rista. Sudah lama kami bersama tapi hubungan itu hanya sebatas pernikahan dan dekat saja. Tidak lebih."
Zayn ingat, jika setiap kali ia ingin menyentuh Rista demi memenuhi tanggung jawabnya, selalu wajah Calvina yang ia lihat di depannya. Rista pun sadar jika kehadirannya belum bisa menghilangkan jejak Calvina di hati dan pikiran Zayn.
Di sini wanita yang menangis di dalam kamar masih terbayang dengan statusnya yang baru. Perceraian sudah di depan mata. Rista tak habis pikir hidupnya begitu menyakitkan. Belum lagi Candra yang tak pernah mau menganggapnya sebagai anak.
__ADS_1
"Kenapa Ayah begitu jahat, Bu? Kenapa?" tangisnya bergetar pilu di dalam kamar.
"Aku tidak akan lagi memohon padamu, Zayn. Aku sadar aku bukan siapa-siapa di keluarga kalian. Aku tahu aku tidak pantas berada di sampingmu apalagi Restu. Kami memang bukan orang yang berharga untuk kalian." gumam Rista pilu.