
"Calvina...Sayang." Zayn hendak mendekati wanita yang tiba-tiba muncul di luar ruangan itu.
Di lihatnya Calvina melangkah mendekati Zayn dan sang ayah. Tatapan matanya jelas terlihat sendu. Ada sakit yang berusaha ia tahan ketika bertatap muka dengan sang suami. Melihat keduanya akan berbicara, perlahan Matthew melangkah pergi menjauh. Ini adalah kesempatan mereka berbicara setelah sekian tahun.
Entah mengapa rasanya malam ini terasa begitu sangat panjang. Banyak kejadian yang terjadi malam ini tanpa Rista ketahui.
"Calvina, aku sangat merindukanmu. Bisa beri aku waktu melepas rinduku dulu?" tanya Zayn meminta izin. Calvina pun sama dengannya rasa rindunya begitu besar pada Zayn.
Satu-satunya orang yang menjadi alasan Calvina bertahan sampai hari ini hanyalah Zayn. Alasan yang ia harapkan bisa melihat Zayn ketika pertama kali membuka mata. Namun, semua terjadi berbanding terbalik.
"Sayang, aku sangat sangat merindukanmu." Akhirnya pria rapuh itu menghambur memeluk tubuh yang kini juga membalas pelukannya. Calvina juga sangat merindukan pria ini.
Cukup lama keduanya berpelukan sampai akhirnya Calvina sadar semua sudah cukup saat ini. Tangannya bergerak melepas pelukan Zayn pada tubuhnya.
"Sudah cukup, Zayn." tutur Calvina menatap pria yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Zayn hanya menggeleng menolak apa yang akan Calvina utarakan padanya saat ini.
"Jangan katakan apa pun, Cal. Aku mohon. Jangan menyakitiku dengan kata-katamu." ujar Zayn bisa menebak jika Calvina hanya menginginkan perpisahan saat ini.
Keduanya tak sadar jika dari arah lain banyak pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Semua pun berharap kebaikan untuk keduanya. Gauri bahkan menangkup kedua tangan di depan dada berdoa untuk anak dan menantunya. Irene yang melihat turut memeluk tubuh sang besan.
"Nyatanya kita memang harus berpisah, Zayn. Tolong, jangan egois. Nenek membutuhkan aku. Dan aku sangat membutuhkan Nenek, Zayn." Semula Calvina menaikkan intonasi suara hingga ia memelankan ucapannya. Takut jika sampai terdengar oleh sang nenek dan membuat wanita tua itu drop lagi.
Zayn tertunduk sedih menggelengkan kepala menolak apa yang Calvina ucapkan. Sampai mati pun Zayn tak akan rela berpisah dari sang istri tercinta.
"Aku mohon, hubungan kita sudah tidak seperti dulu lagi. Kau sudah memiliki istri dan anak. Sekarang biarkan aku mencari kehidupanku, Zayn. Aku memohon padamu restui aku dan lepaskan aku." mohon Calvina setegar mungkin.
__ADS_1
Dadanya bahkan terasa seperti terhimpit batu besar sangat sesak mengatakan hal yang bukan keinginannya.
"Calvina..." Zayn menarik tangan sang istri dan ia letakkan di dada bidangnya. Air mata yang tertahan sejak tadi kini jatuh juga di mata pria itu. Sama halnya dengan Calvina yang juga meneteskan air mata.
"Di sini kau bisa merasakan besarnya cinta yang tidak pernah berkurang sedikit pun dari dulu sampai saat ini. Apa kau tega menghancurkan itu semua? Cinta yang kita bangun sejak lama akan sia-sia karena kita tidak bisa menghadapi semua ini bersama. Sekali pun aku harus mati, aku rela, Cal. Aku rela melakukan apa saja yang penting kita bisa bersama seperti dulu lagi." Calvina membungkam bibirnya yang bergetar ia hanya bisa menggeleng mendengar ucapan sang suami.
"Aku akan tetap pada pilihanku, Zayn. Nenek adalah orang pertama yang pasang badan setiap kali melihatku terluka. Dan itu juga yang akan aku lakukan untuk Nenek." Calvina duduk meninggalkan Zayn yang masih berdiri dengan melepas tangan Zayn di tangannya.
Berikutnya Zayn menyusul dan duduk di samping sang istri. Andai semua tak seperti ini tentu Zayn akan antusias menceritakan semua kegiatannya pada Calvina selama wanita itu koma dan menghilang. Sayang, keadaan memaksa Zayn untuk melupakan momen itu dan menghadapi kerasnya nenek mertua pada mereka.
"Apa rasa itu sudah tak seperti dulu lagi, Cal?" tanya Zayn menatap dalam mata sang istri yang menatap ke arah lain. Calvina susah payah menahan air mata agar tak jatuh lagi.
Di tanya seperti itu tentu saja membuat Calvina semakin sedih. Rasa cintanya pada Zayn tak berkuran sedikit pun, namun keadaan membuatnya harus mengalah dan menyerahkan Zayn pada wanita itu. Meski di awal ia bertekad untuk mengambil kembali suaminya.
"Dia wanita yang baik dan berhati lembut. Aku yakin kelak kau akan sangat mencintainya Zayn. Kalian akan bahagia seperti kita dulu. Aku tidak akan merubah keputusanku sampai kapan pun." Zayn mengangguk mendengar ucapan sang istri.
Mungkin usahanya tak akan berhasil kali ini, tapi Zayn tidak akan mundur begitu saja.
Sementara semua yang mengintip di pintu ruangan sebelumnya kini masuk dan duduk dengan kepala menunduk lemas. Mereka yakin Calvina sedikit banyak menurun dengan sifat sang nenek yang keras kepala.
Satu pun orang tak ada yang tidur dengan lelap kecuali Fara si wanita tua yang terbaring di ranjang pasien. Hingga suara ketukan pintu dari arah luar terdengar dan membuat semuanya bangkit dengan gerakan cepat.
"Selamat pagi, Nyonya Fara." Sapaan ramah dari dokter yang memeriksa wanita tua itu masuk ke dalam.
"Pagi, Dokter." sahut Fara yang juga tersenyum.
Wajah pucat semalam kini sudah tampak segar.
__ADS_1
"Permisi yah, saya akan periksa dulu keadaannya." tambah Dokter lagi. Fara hanya menjawab dengan anggukan kepala. Sedangkan matanya beralih mencari sosok cucu yang tak ada di pandangannya pagi ini.
"Dimana Calvina?" tanya Fara langsung.
"Dia keluar sebentar, Bu. Mau cari sarapan katanya." ujar Gauri berbohong.
Fara hanya diam mendengar itu dan menunggu dokter mengatakan hasil pemeriksaannya. Semua lega mendengar dokter mengatakan jika semua sudah kembali normal.
Siang nanti ia pun sudah di perbolehkan pulang.
"Gauri, kenapa Calvina belum kembali-kembali juga?" tanya Fara penasaran.
"Mungkin sekalian pulang mandi, Bu. Semalaman dia jaga Ibu pasti kelelahan." Mendengar ucapan sang anak, wanita tua itu menghela napas panjang. Beruntung ia tak curiga sama sekali.
Tanpa mereka ketahui jika ternyata orang yang di cemaskan terlelap di atas tempat tidur bersarung putih polos. Sebuah hotel ternama yang sangat dekat jaraknya oleh rumah sakit menjadi tempat untuk Zayn mengikat sang istri kembali.
"Terimakasih, Tuhan atas jalan yang kau berikan padaku. Semoga dengan begini hubungan kami bisa di pertahankan lebih kuat lagi." gumam Zayn berdoa.
Tak pernah ada dalam rencananya membawa sang istri ke kamar hotel seperti subuh tadi. Namun, keadaan Calvina yang terlelap hingga larut dalam buaian mimpi membuat otak cerdas pria tampan itu berkerja dengan cepat. Tentu bukan sendiri. Zayn di bantu oleh sang ayah mertua yang ikut antusias menggotong tubuh Calvina pindah tempat tidur.
"Ayah awas loh ketahuan sama Ibu bisa kumat lagi jantung Ibu. Ini mana mereka belum balik-balik lagi." ancam Gauri pada sang suami berbisik pelan.
"Jangan nakut-nakuti begitu dong, Bu. Inikan persetujuan Ibu juga." balas Matthew juga berbisik.
"Mana ada Ibu setuju." sahut Gauri marah.
"Itu tadi subuh nunjukin jempol maksudnya setuju kan?" tanya Matthew.
__ADS_1
"Itu bukan setuju. Tapi Ibu bilang oke Zayn sama Calvina bisa dekat lagi. Ayah jangan ikut campur." jelas Gauri yang kesal karena ternyata sang suami tak mengerti isyarat yang berikan.
Mendengar ucapan sang istri, ia hanya bisa menggeleng heran. Mana ada isyarat yang artinya bisa sepanjang itu pikirnya.