Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Perpisahan


__ADS_3

"Di luar kendali apa maksudmu? Kau telah menahan istriku dan membiarkan aku menjadi orang bodoh selama ini. Pernikahan yang aku lakukan denganmu tidak berdasarkan cinta, Rista. Bagaimana pun Calvina pergi dariku itu tidak akan merubah perasaanku padamu." tekan Zayn dengan kata-kata yang jelas.


Mendengar ucapan Zayn yang dingin, Rista sangat takut. Ia bergegas menjatuhkan tubuhnya dan berlutut di depan sang suami. Kedua kaki Zayn ia peluk seerat mungkin. Rista hanya memiliki Zayn dan Restu, tidak ada lagi keluarga yang ia punya. Bagaimana mungkin Rista membiarkan Zayn lepas darinya.


"Mas, aku mohon maafkan aku. Aku mengakui kesalahanku. Aku sadar aku salah besar. Tapi, aku hanya mempertahankan pernikahan kita. Istri mana yang rela jika suaminya di ambil kembali, Mas? Aku hanya takut kamu meninggalkan aku dan Restu." Zayn menoleh menatap padanya yang berada di bawah saat ini.


"Sadar Rista. Calvina juga istriku. Dia bukan perebut suamimu. Tapi, kaulah orang asing yang datang dalam pernikahan kami. Seharusnya dari awal kau sadar siapa dirimu dan siapa Calvina. Kalian dua wanita yang sangat berbeda. Dia menjadi istriku atas dasar rasa cintaku yang besar. Maka dari itu mulai saat ini aku menceraikanmu, Rista. Kau bukan lagi istriku. Segera surat perceraian akan aku urus."


Isak tangis Rista terdengar sangat pilu. Ia hanya menggeleng berusaha menghentikan ucapan sang suami. Kedua kaki Zayn begitu rapat dalam pelukannya. Memohon pada pria itu agar menarik semua ucapannya. Sayang, Zayn tak akan pernah melakukan itu. Talak yang ia jatuhkan sudah sangat sah.


"Tolong, aku mohon Mas." Rista menangis melihat Zayn melepas paksa kedua tangannya. Pria itu mendorong kasar tubuh Rista dan bergegas berdiri.

__ADS_1


"Bersiaplah untuk menjemput Restu. Aku menunggu di mobil." Dengan pandangan mengarah ke luar rumah, Zayn melangkah. Ia sama sekali tak mau bertatap mata dengan sang mantan istri.


Zayn takut hatinya tak tega melihat wanita malang itu. Namun, ingatan tentang jahatnya Candra pada Calvina seolah menumbuhkan api amarah lagi di dalam diri Zayn.


Cukup lama Rista di dalam rumah. Ia masih melampiaskan sedihnya seorang diri sampai akhirnya ia mencuci wajah dan berusaha terlihat tegar. Ia masuk ke dalam mobil yang masih setia menunggu. Berpikir Zayn menunggunya sendiri. Ternyata ada supir yang menemani mereka. Dan anehnya lagi ketika melihat Zayn yang duduk di kursi samping kemudi. Pria itu benar-benar menjaga jarak darinya.


Mobil melaju menuju rumah milik kedua orang tua Zayn. Restu tampak senang menyambut kedatangan kedua orangtuanya. Ia memeluk Zayn penuh rasa rindu.


"Ye...malam ini aku tidur sama Ayah dan Ibu yah?" celetuk Restu membuat Rista menatap Zayn. Sementara pria yang ia tatap hanya menatap ke arah lain.


Zayn benar-benar acuh dengan Rista. Ia membiarkan wanita itu berpikir sendiri di depan anaknya.

__ADS_1


"Ayah kan sangat sibuk. Jadi kita pulangnya berdua dulu yah?" tutur Rista kembali.


Wajah bocah itu tampak menekuk sedih. Zayn masih menggendong Restu. Rista berjalan ke arah Irene yang menatapnya dingin. Seluruh keluarga ini terlihat sangat membenci kehadirannya saat ini. Sama seperti awal ia datang ke dalam keluarga mereka.


"Ayah, Ibu, maafkan aku. Aku sangat mengakui kesalahan itu. Tapi, percayalah aku tidak berniat jahat sedikit pun. Terimakasih telah menerima aku dengan baik selama ini. Sekarang aku tidak akan mengganggu kalian lagi." Rista mencium kedua punggung tangan sang mantan mertuanya.


"Restu pulang yah di antar sama supir." pintah Zayn menicum kening bocah itu. Jujur hatinya sangat sedih melihat waktu terakhir ia bersama Restu. Bocah yang baik dan selalu patuh padanya rasanya sangat membuat Zayn nyaman menjadi ayah tirinya.


"Iya, Ayah. Ayah jaga kesehatan yah?" ucap Restu dengan penuh perhatian.


Perpisahan yang tak Restu ketahui pun akhirnya terjadi. Entah kapan lagi ia bisa bertemu Zayn. Yang jelas Zayn sangat tidak menginginkan perpisahannya bersama sang anak.

__ADS_1


__ADS_2