Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Enam Bulan Waktu Berlalu Untuk Rista


__ADS_3

Semua ekspresi wajah nampak sangat syok. Mereka tidak tahu jika saja ini adalah ulah dari ayah Rista sendiri. Shopia berlari mendekati Rista begitu pun dengan yang lainnya. Mereka berusaha menolong Rista yang bersandar di samping mobil.


"Rista, kamu terluka? Bagian mana? Ayo kita periksa yah kandungan kamu." Shopia begitu perhatiannya. Rista yang mengeluhkan sakit di perutnya hanya menggelengkan kepala. Ia mengatakan semuanya baik-baik saja.


Gauri dan yang lain merasa ngilu melihat Rista berusaha bangun. Mereka antusias memapah tubuh Rista. Penolakan Rista berikan saat tubuhnya hendak di bawa ke rumah sakit.


Matanya menatap kecewa pada jalanan yang sudah tidak menampakkan kendaraan roda empat lagi. Rista tak menyangka sang ayah melakukan hal yang membahayakan dirinya dan juga calon bayinya. Meski sempat terselip niat ingin bunuh diri, tapi saat ini ia tidak lagi memikirkan hal itu.


"Ayo kita pulang kalau begitu. Kamu harus istirahat." ujar Gauri lembut.


Mereka naik ke mobil satu persatu menuju rumah. Tampak Fara tak suka dengan perhatian sang anak pada wanita asing itu. Selama di perjalanan Shopia mengusap perut buncit Rista. Berusaha menenangkan Rista yang masih terlihat syok sekali.


"Kita akan proses hal ini. Kamu jangan takut, Rista. Orang itu harus mendapat pelajaran dari sikap teledornya." Matthew berniat ingin memproses hukum pelaku tabrak lari barusan.


Sontak hal itu membuat Rista menggeleng cepat. Ayahnya tidak boleh di penjara. Ia tidak ingin sang ayah di penjara. Sudah cukup Rista kehilangan sang ibu. Jangan ayah lagi ia tidak bisa melihatnya.


"Jangan, Tuan. Jangan. Saya tidak apa-apa. Saya tidak ingin membuat kalian repot hanya karena orang yang iseng seperti itu. Saya tidak apa-apa, Tuan." sahut Rista mencegah dengan cepat. Mobil mengantar Rista pulang ke rumah Irene dan Prayan.


Sampai perjalanan berakhir di kediaman Gauri, semua turun. Mereka malam ini tidak menemani Irene di rumah sakit. Sebab Gauri harus bersama sang ibu dan ayah yang baru tiba di negara mereka. Apa lagi melihat respon Fara sang ibu yang tak enak di lihat.

__ADS_1


"Bu, ayo masuk. Kenapa sih mukanya di tekuk terus?" tanya Gauri menggandeng tangan wanita tua itu.


"Ibu benar-benar tidak suka. Untuk apa sih kita sampai harus mengantar wanita itu ke rumah Irene? Kan kita bukan siapa-siapanya. Kamu mau memangnya posisi Calvina di ambil sama wanita itu? Lihat, belum apa-apa saja dia sudah tinggal di rumah mereka. Kenapa tidak di tinggalkan saja di kontrakan atau kos-kosan?" Fara sangat sulit menerima kehadiran Rista.


Semua tentu ada sebabnya. Ia tak akan bersikap ketus seperti ini jika bukan mendengar ucapan Gauri yang berniat menyerahkan status Calvina pada wanita asing itu.


"Sampai kapan pun Ibu tidak akan biarkan satu orang merebut kedudukan Calvina. Ingat itu, Gauri. Calvina berhak bahagia setelah berjuang dari komanya." Ia melangkah meninggalkan sang anak dengan langkah berusaha cepat. Fara menuju kamar yang sudah lama tidak ia tempati.


Gauri menatap datar pada sang suami. "Sudahlah istirahat. Ibumu memang selalu keras seperti itu." ujar Firdaus sangat tenang. Hidup bersama sekian tahun tentu ia paham bagaimana sifat sang istri.


Malam pun mereka gunakan sebaik mungkin untuk beristirahat. Gauri yang tidur lelap dalam pelukan sang suami terlihat sangat lelah sekali. Berbeda halnya dengan Irene yang menggenggam tangan sang suami. Ia terus menunggu sang suami kembali pulih. Tak perduli waktu yang sudah beranjak hingga pukul satu malam.


Dua orang dengan nasib yang sama tengah menaruh harapan besar pada pasangan mereka masing-masing. Zayn pun mengecup beberapa kali kening sang istri.


Sampai tak sadar samar ia terkejut mendengar suara panggilan yang menyebut namanya.


"Tuan Zayn. Tuan!" Panggilan itu terdengar. Ketika Zayn terbangun membuka matanya satu orang pun tidak ada ia lihat selain Calvina.


Kepala pun terasa berat untuk ia angkat. Zayn menatap kesana kemari mencari suara yang barusan membuatnya terbangun.

__ADS_1


"Siapa yang memanggilku? Kenapa aku mendengar seperti suara Rista? Aku pasti bermimpi saja." tutur Zayn menggelengkan kepalanya.


Kembali ia tidur sampai waktu pagi sudah kembali datang. Suara panggilan yang sama terdengar oleh Zayn. Namun, ia tak kunjung membuka mata sebab berpikir itu hanya halusinasi saja seperti semalam.


Ternyata salah. Rista yang benar-benar datang pagi ini seorang diri bingung membangunkan Zayn yang harus bersiap dan ke kantor.


"Aduh, Tuan belum bangun. Bisa terlambat ke kantor ini." gumam Rista bingung.


Di tangannya ada beberapa barang bawaan termasuk sarapan. Ragu wanita itu menggoyang pundak Zayn untuk bangun. Detik berikutnya Zayn pun terbangun. Ia menatap Rista untuk kedua kalinya.


"Tuan akhirnya bangun juga, ini sudah terlambat." ujar Rista yang membuat Zayn tersadar dari lamunan.


Kini Zayn pun bergegas bangkit dari ranjang dan menuju kamar mandi. Dalam benaknya reflek memikirkan masakan apa yang akan ia makan pagi ini. Perutnya yang perih akibat lapar membuatnya bergegas siap-siap di kamar mandi.


"Saya sudah terlambat. Tidak mungkin sarapan." sahut Zayn yang melihat Rista meletakkan masakan di atas meja.


"Ini untuk Nyonya dan yang lainnya, Tuan. Sebaiknya Tuan bawa yang rantang ini untuk di makan di perusahaan." usul wanita itu dan Zayn pun mengangguk setuju.


Singkat cerita, Zayn duduk di kantor dan baru saja menerima tamu. Jadwal pertemuannya sudah berhasil ia kejar pagi ini. Sarapan pun tak sempat ia lakukan. Tubuh yang terasa lelah ia sandarkan pada sandaran kursi kerjanya. Detik berikutnya Zayn melirik rantang di meja dan bergegas memakannya. Satu suapan, dua suapan, hingga tiga suapan Zayn memejamkan mata menikmati kuah masakan yang ia nikmati hari ini.

__ADS_1


"Masakan ini sangat nikmat sekali." gumam Zayn menyesap satu persatu lauknya. Ada kepuasan tersendiri yang ia dapatkan setiap kali hendak makan dengan masakan Rista. Sikap dinginnya pada Rista pun perhalan mulai mengendur semenjak waktu berjalan kurang lebih enam bulan lamanya. Wanita asing yang datang dengan tangan kosong mampu mencuri semua hati keluarga Zayn termasuk Shopia.


__ADS_2