Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Kedatangan Zayn


__ADS_3

Kesedihan Zayn tentu menjadi kesedihan untuk kedua orangtuanya juga. Mereka duduk di ruang keluarga melihat Zayn pergi masuk kamarnya. Jelas ini semua bukan Zayn yang menginginkannya. Pernikahan dengan Rista terjadi semua atas permohonan mereka semua.


"Ibu salah, Ayah. Ibu pikir dengan berjalannya waktu semua bisa berubah. Bahkan saat ini Zayn kembali gelisah memikirkan Calvina. Benar atau tidaknya seharusnya semua tidak seperti ini. Zayn sudah menjadi suami Rista." ujar Irene pada sang suami. Dimana Prayan pun mengangguk paham.


"Semua yang terjadi di luar kuasa kita, Bu. Kita ingin Zayn pulih dari sedihnya. Tapi, hati yang dia miliki semua atas kendali Tuhan." sahut Prayan.


Malam yang penuh kesedihan pun berlalu dengan cepatnya. Rasanya belum saja mereka menghapus sedih itu dalam semalam, kini sudah di sapa oleh pagi. Embun yang masih terlihat menetes di dedaunan menjadi saksi ketika Zayn bangun di pagi-pagi sekali. Matanya yang sembab dan tubuh yang letih ia paksa pergi mencari sang istri.


"Zayn, mau kemana kamu?" tanya Irene melihat anaknya keluar dari kamar membawa kunci mobil.


Tak ada jawaban dari Zayn. Ia menuju mobil dan melajukan kendaraan roda empat itu. Irene berlari menuju kamar mencari sang suami. Takut jika sampai terjadi apa-apa dengan sang anak. Sudah cukup rasanya ia kehilangan cucu dan menantunya karena kecelakaan.


Bahkan di sini kecemasan seorang istri tak lagi Zayn hiraukan. Rista yang berdiri di dapur bertanya pada pelayan. Dimana ia tak melihat keberadaan sang suami. Zayn entah pergi kemana.


"Jadi, Zayn belum juga pulang? Apa dia mengatakan kemana dia pergi, Bi?" sahut Rista. Pelayan di depannya menggelengkan kepala.


"Ibu, ayo..." seru Restu berlari ke arah Rista dengan peralatan sekolahnya. Bocah kecil itu sejak tadi heboh mencari ayahnya.


"Restu, kita berangkat sekarang yah?" ujar Rista memegang pipi sang anak. Wajahnya berusaha senyum meski sebenarnya pikirannya sedang pusing sekali. Ketakutan akan apa yang ia miliki secepatnya kembali menghilang.


Di depannya, wajah Restu nampak murung menundukkan kepala. Matanya berkaca-kaca setelah merasa lelah mencari seorang pria yang sudah ia rindukan sejak kemarin. Semalam pun ketika pulang, Zayn tak datang ke kamar untuk memeluknya sebentar.


"Ayah jahat!" ucap Restu menunduk. Rista yang mendengar kemarahan sang anak menghela napas.

__ADS_1


"Sayang, jangan manja. Ayah sudah begitu baik sama kita selama ini. Nggak boleh ngelunjak yah?" Restu mengangguk.


Mereka pun berangkat pagi itu tanpa ada Zayn. Suasana hangat yang biasa pagi terlihat di dalam mobil kini lenyap berganti dengan keheningan. Rista sepanjang jalan terus memikirkan dimana suaminya berada. Ketakutan jika sampai semua terbongkar oleh Zayn.


"Tidak. Zayn tidak boleh meninggalkan aku. Bagaimana nasib anakku? Tidak, Zayn. Semua harus baik-baik saja." gumam Rista dalam hatinya.


Keberadaan sang ayah saat ini bahkan tidak ia ketahui. Semua karena keluarga Calvina yang meminta pihak kepolisian bungkam. Mereka menjalankan permintaan Calvina untuk membiarkan Zayn tetap bahagia bersama istrinya.


Pagi yang menjadi harapan Zayn adalah bertemu Calvina di sekolahan sang anak, nyatanya tak membuahkan hasil. Dari kejauhan pria itu hanya menatap hampa keberadaan Restu dan sang istri yang memasuki sekolah. Tak ada niat Zayn mendekati mereka sekedar menyapanya.


"Maafkan Ayah, Restu. Ayah sedang memiliki masalah. Semoga kamu mengerti hari ini." ucap Zayn lirh. Sedih ia melihat wajah Restu yang tidak bersemangat. Bocah itu terus menunduk tanpa melambaikan tangan pada sang ibu ketika di jemput oleh gurunya.


Beberapa mobil yang melintas di area sekolahan menjadi pusat perhatian Zayn. Berharap ada satu mobil yang menjadi kendaraan sang istri pertama. Nyatanya hingga halaman sekolah sepi tak ada tanda-tanda Zayn melihat Calvina. Tanpa ia tahu jika wanita yang tengah ia cari kini bergelung dengan kesedihannya di dalam kamar.


Barulah mata Calvina bergerak melirik sang adik. "Bagaimana keadaan Nenek, Shopia? Apa ada perkembangannya?" tanya Calvina berusaha mengalihkan pikiran.


Shopia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Belum ada, Kak. Nenek masih belum juga sadar sampai sekarang. Bahkan Ibu ingin pulang setelah dengar Kakak seperti ini." ujar Shopia. Calvina menggeleng cepat.


"Tidak, aku tidak apa. Katakan pada Ibu aku baik-baik saja, Shopia."


"Tapi, Kak..." Belum usai Shopia berkata, suara klakson mobil di depan sana sudah terdengar begitu nyaring.


Shopia berlari secepat mungkin keluar dan melihat siapa yang datang barusan ke rumah mereka. Sedangkan Calvina hanya duduk diam menunggu kabar sang adik.

__ADS_1


Betapa kaget Shopia melihat sosok pria tampan yang berdiri keluar dari mobil mewahnya.


"Kak Zayn! Gawat!" pekik Shopia panik.


Detik berikutnya ia menyaksikan bagaimana Zayn memberontak ingin masuk ke dalam rumah sang mertua. Beberapa pelayan dan penjaga tampak menahan tubuh tegap Zayn.


"Lepaskan saya! Hei apa yang kalian lakukan? Aku masih menantu majikan kalian!" teriak Zayn marah.


Untuk pertama kalinya ada orang asing berani menyentuh tubuhnya dengan berani seperti ini.


"Tuan, tolong jangan seperti ini. Kami hanya di tugaskan untuk mengosongkan rumah ini dari siapa pun." tutur penjaga keamanan rumah itu.


Shopia sedih melihat sang kakak ipar di perlakukan seperti itu. "Kasihan kamu Kak Zayn. Kamu orang baik tapi kenapa harus mendapat cobaan seperti ini? Dan bagaimana bisa Kakak tahu di rumah ini ada Kak Calvina? Apa sekuat itukah ikatan hati kalian?" tutur Shopia dalam hatinya.


Shopia menyibak gorden dan masuk kembali ke dalam kamar Calvina. Ia menyampaikan pesan pada sang kakak jika yang datang adalah Zayn. Calvina syok, matanya meneteskan cairan bening mendengar sang suami datang memberontak.


"Apa yang harus Kakak lakukan, Shopia? Kakak tidak ingin bertemu dengannya." Shopia terdiam beberapa saat sampai saatnya suara Zayn terdengar berteriak memasuki rumah itu.


"Calvina! Sayang! Aku di sini. Cal! Calvina!" teriakan Zayn menggema di rumah itu.


Pelayan semua yang menghalangi Zayn tersingkirkan. Wajahnya memerah melihat rumah yang nampak sepi. Ia tak hentinya berteriak memanggil sang istri. Satu persatu kamar ia masuki tak perduli pelayan berusaha memintanya berhenti.


"Calvina!" Zayn berhenti pada kamar dimana sang istri berada. Pintu ia buka lebar.

__ADS_1


Calvina dan Shopia saling pandang. Keringat bercucuran di kening keduanya.


__ADS_2