Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Perbedaan Rista dan Calvina


__ADS_3

Wajah penuh kecemasan perlahan terlihat lelah. Satu persatu rumah yang ia kunjungi tak juga membuahkan hasil. Semua rumah yang ia tahu sebagai tempat tinggal orang-orang kepercayaan sang ayah tak ada satu pun yang di huni. Rumah tertutup dan tidak terawat jelas menunjukkan sudah lama tidak ia tinggali. Waktu yang berjalan terus membuat Rista tak sadar jika ia telah melalaikan satu kewajiban sebagai seorang ibu. Dimana Restu tengah menangis sesenggukan di sekolah.


"Restu, jangan menangis yah? Miss akan antar kamu ke rumah. Mungkin Ibu kamu sedang sibuk. Ayo kita ke ruangan Miss dulu. Miss akan hubungi ayah dulu yah?" Restu mengangguk mengusap air matanya.


Perutnya yang sudah terasa lapar membuatnya menangis takut. Tak biasa orangtuanya lalai tentang dirinya. Mengingat sejak pagi pun Restu sudah merasakan hal yang tak enak. Ia tak di antar oleh sang ayah pergi ke sekolah. Dan siang ini ia juga tak di jemput salah satu orangtuanya.


Di lain tempat Rista berdiam sejenak di dalam mobil. Pikirannya benar-benar kalut. Entah harus kemana lagi dirinya mencari informasi tentang sang ayah. Candra benar-benar hilang bak di telan bumi.


Panggilan di ponsel miliknya bahkan tak ia hiraukan juga. Sampai akhirnya sang guru beralih menghubungi Zayn.


"Halo," sapa Zayn yang melihat panggilan di ponselnya.


Keningnya mengerut seketika mendengar penjelasan guru sang anak. Mengatakan Restu yang menangis sejak tadi tak di jemput dan ingin mereka antarkan ke rumah sekarang juga. Zayn seketika menolak dan mengatakan dirinyalah yang akan menjemput ke sekolah.

__ADS_1


Singkat cerita, Zayn dan Restu berpelukan di sekolah. Pria tampan itu merasa kasihan melihat Restu untuk pertama kalinya menangis seperti ini.


"Maafkan Ayah. Restu mau maafkan Ayah?" tanya Zayn berlutut di hadapan sang anak.


"Ayah dan Ibu sama-sama jahat." Restu kembali menangis. Zayn yang tak tega memeluk anaknya dan menggendong bocah kecil itu pulang. Pikirannya sekarang bertanya-tanya kemana sang istri pergi saat ini sampai lalai dengan anaknya.


Marah tentu saja Zayn begitu marah. Pikirannya sedang kalut dan Rista justru membuatnya bertambah pusing. Tidak seharusnya Rista melupakan Restu yang jelas-jelas darah dagingnya sendiri.


Zayn dengan sabarnya mengurus anak kecil yang selama ini menjadi penghiburnya. Zayn makan siang bersama Restu tanpa ada Rista.


"Rista benar-benar keterlaluan. Hal penting apa yang membuatnya sampai lalai seperti ini?" batin Zayn dalam hati.


Makan siang, ganti baju, dan tidur siang. Semua telah Zayn lakukan dengan baik. Ia memilih keluar kamar menunggu kepulangan sang istri. Duduk di ruang tengah, pikiran Zayn sudah semakin kacau saja. Dan benar, beberapa menit setelahnya, Rista pulang. Wajahnya lemas sebab tak mendapat informasi apa pun tentang sang ayah hari ini.

__ADS_1


"Dari mana saja?" tanya Zayn ketus. Semula Rista berjalan lambat dan lemas sampai akhirnya ia mengangkat wajah dan terkejut melihat kehadiran sang suami.


"Mas Za-Zayn?" ujar Rista terkejut gugup.


Pria itu tak bergerak dari duduknya. Matanya menatap dalam penuh amarah pada wanita yang berjalan pelan penuh takut mendekat Zayn. Keheningan jelas terasa membuat suasana begitu canggung di ruangan itu.


"Dari mana? Apa kau lupa dengan anak yang sudah kau lahirkan, Rista? Apa kau lupa telah memiliki Restu?" sentak Zayn bertanya dengan suara bernada tinggi.


Namun, satu hal yang Zayn lupa. Jika ucapannya itu justru membuat Rista merasa tersinggung. Ucapan Zayn seolah membuat Rista berpikir jika selama ini Zayn tidak menerima anaknya dengan tulus.


"Apa katamu, Mas? Anak yang sudah aku lahirkan? Bagaimana denganmu? Mas lupa Restu juga anak Mas? Apa selama ini memang seperti itu kebenarannya? Mas tidak mengakui Restu adalah anak Mas? Aku tahu dimana posisiku, Mas. Tidak seharusnya Mas berkata seperti itu. Aku sadar sampai kapan pun Restu bukan darah daging Mas Zayn. Aku sadar itu. Aku tidak seharusnya bermimpi untuk menjadi wanita yang bisa membuat Mas bahagia. Hanya karena mendengar nama Calvina, Mas sampai lupa dengan aku dan Restu. Apa selama ini Mas hanya berpura-pura untuk menganggap kami? Apa maksud Mas selama ini? Katakan!"


Zayn hanya diam. Melihat Rista yang justru menangis membuatnya enggan berbicara apa pun. Entah sikap Rista saat ini justru membuka mata Zayn begitu lebar. Tanpa sadar pikirannya kembali mengingat tentang Calvina. Bagaimana sang istri yang selalu bersikap bijak dalam menyelesaikan masalah dengannya. Berbeda dengan sang istri kedua yang cenderung emosional.

__ADS_1


__ADS_2