
Rintihan dengan tubuh sakit bergemetar memohon untuk tidak melanjutkan aksi kasar itu hanya terdengar tanpa di hiraukan. Wanita tua yang merasa penuh bersalah hanya bisa menggelengkan kepala melihat nasib sang cucu di aniaya tanpa belas kasih. Tak perduli bagaimana Calvina yang memohon ampun ketika merasakan tubuhnya sangat sakit. Jambakan dan pukulan terus saja ia dapatkan saat ini.
"Tolong, jangan lakukan itu. Tolong hentikan. Tolong itu cucuku." jerit Fara.
Tiga wanita di dalam ruangan yang kedap suara dan tidak terurus itu hanya bisa menantikan kapan waktu napas mereka di hentikan. Yang jelas hingga saat ini Calvina tak akan menyerah begitu saja. Ia akan tetap keluar dari dalam penjara penuh siksa ini demi mempertahankan rumah tangganya. Zayn adalah miliknya dan tidak akan ia berikan pada siapa pun meski atas izin kedua orangtuanya.
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan kembali pada suamiku dan hidup bahagia. Kalian semua tidak sepantasnya memperlakukan aku seperti ini. Zayn milikku. Zayn suamiku sampai kapan pun itu." gumam Calvina dalam hati. Air mata yang terus berjatuhan seolah menjadi saksi bagaimana tubuhnya berusaha kuat lagi dan lagi menahan sakit yang tidak terkira.
Beberapa tahun ia berusaha kuat melawan sakit di tubuhnya dalam keadaan koma. Dan ini wanita yang pernah menjadi seorang ibu harus merasakan sakit luar biasa kembali dengan siksaan yang entah sampai kapan.
Di sini sang istri berjuang keras menahan sakit di tubuhnya, berbeda halnya dengan keadaan Zayn yang tampak mulai membaik.
"Tuan Zayn, anda sudah bangun?" tanya Rista terkejut dan hendak menyingkirkan piring di tangannya.
Wanita yang berstatus istri kedua dari Zayn Yonathan itu tengah menikmati makan di tengah perutnya yang sangat lapar. Statusnya sebagai istri yang belum di akui oleh perasaan sang suami membuatnya harus sadar akan posisi.
"Lanjutkan makanmu, Rista. Aku sudah tidak apa-apa." ujar Zayn yang tersentuh melihat sikap Rista begitu tulus merawatnya ketika sakit seperti ini.
Rista menggelengkan kepala dengan senyum kecil di wajahnya. "Tidak, Tuan. Saya sudah kenyang. Tuan mau minum? Ini." tutur Rista menyodorkan gelas pada bibir sang suami.
__ADS_1
Zayn menerima dengan baik. Matanya yang melirik pada piring di sampingnya terlihat jelas jika isinya belum berkurang banyak. Pertanda jika Rista belum makan cukup banyak.
"Dia menjagaku bahkan sampai tidak makan di luar. Kasihan Rista. Seharusnya aku sudah bisa menerimanya dengan sepenuh hati. Bukan seperti ini perlakuanku." gumam Zayn.
"Kau menjagaku sepanjang waktu?" tanya Zayn dan Rista pun menganggukkan kepalanya.
Paham arti dari ucapan Zayn, Rista buru-buru menjelaskan tentang siapa yang tengah sang suami khawatirkan saat ini.
"Tuan, jangan mencemaskan anakku. Restu akan baik-baik saja. Ibu dan Bapak sedang asik main dengannya. Tadi aku juga melihatnya sesekali. Yang terpenting Tuan sehat. Sebab anakku sangat sedih tidak bisa bermain dengan anda." ujar Rista begitu jelas membatasi kedekatannya dengan Zayn.
Kata 'anakku' yang Rista ucapkan tentu membuat pikiran Zayn terganggu. Baginya Restu adalah anaknya juga. Tidak sepantasnya Rista berkata demikian. Suasana di dalam kamar nampak hening ketika Zayn berkata demikian.
"Aku minta maaf." lanjut Zayn kembali bersuara.
Semula Rista yang menatap piring di hadapannya kini berubah menjadi menatap Zayn kembali.
"Aku sudah salah bersikap padamu. Alasanmu mengakui Restu hanya anakmu tentu karena ada alasan. Semua tentu karena sikapku yang menjaga jarak." tutur Zayn memahami pikiran sang istri.
Tak ada kata yang Rista suarakan saat ini. Semua ucapan Zayn terasa mengobrak-abrik hatinya. Hanya diam adalah sikap yang paling tepat untuk ia lakukan saat ini. Detik berikutnya keheningan pun terhenti ketika tangan Zayn mendorong pelan piring di tangan Rista. Ia menolak untuk makan dan memilih menepuk kasur di sampingnya.
__ADS_1
"Tuan?" sahut Rista bingung seolah bertanya apa maksud isyarat yang Zayn lakukan. Belum saja ia berucap lagi, Zayn sudah lebih dulu menarik tangan Rista berbaring di sampingnya.
Degup jantung di dada keduanya benar-benar seperti siap meledakkan seisi bumi. Tak ada kata yang terdengar saat ini selain pikiran Zayn dan Rista yang sama-sama berpencar entah kemana.
Sejak saat itu hubungan keduanya tampak menghangat dengan Zayn yang sudah membaik dan sibuk di kantor. Tak perduli bagaimana tubuhnya terasa sangat lelah, obat pengilang lelahn Zayn saat ini hanya sosok sang istri dan anak yang menyambut kepulangannya setiap sore.
"Bagaimana Restu hari ini, Ris?" tanya Zayn menyapa sang istri sepulang kerja. Tangannya bergerak mengambil alih tubuh sang anak. Dan menciumnya berkali-kali.
"Seperti biasa, Mas. Selalu nunjuk pintu berpikir papahnya sudah pulang." ujar Rista tersenyum.
Keduanya masuk ke dalam rumah dengan Rista yang di gandeng oleh Zayn. Keluarga mereka terlihat sangat baik dan bahagia. Rista tak hentinya menatap sang suami penuh haru. Tak menyangka jika Zayn memperlakukan dirinya dengan baik selama ini.
Kebahagiaan Zayn dan Rista berbanding terbalik dengan perjuangan Calvina yang masih berusaha keluar dari tempat penyekapan.
Makan malam di meja makan dengan semua menu yang di masak oleh hasil tangan Rista sendiri tampak menggiurkan. Zayn sejenak terdiam, satu minggu ia berusaha menerima Rista dengan memperlakukan sang istri begitu baik. Sulit tentu saja Zayn rasakan. Dimana bayangan Calvina yang masih sering mengisi pikirannya.
"Semua terasa membaik setelah aku belajar berdamai dengan keadaan dan takdirku. Aku yakin kali ini jalan yang ku pilih tidaklah salah. Rista adalah istriku saat ini dan Restu adalah anakku." gumam Zayn terus memantapkan pikirannya.
Seolah ia berusaha mendoktrin dirinya untuk bisa menerima Rista dalam hidupnya. Sedangkan Rista yang merasa sangat bahagia dengan perlakuan Zayn. Dirinya bukan lagi orang asing saat ini. Ia sudah menjadi Nyonya Zayn Yonathan di rumah ini.
__ADS_1