
"Berpisah apa maksud Ayah?" tanya bocah itu dengan mata yang tiba-tiba bergenang air di dalamnya.
Kepekaan terhadap yang terjadi beberapa waktu ini membuatnya langsung takut. Sama dengan nasib teman sekolahnya yang tidak memiliki ayah dan ibu lagi. Setelah mereka berpisah satu pun dari mereka tak ada yang perduli. Teman Restu hanya hidup dengan perhatian sang kakek yang sudah tua.
Zayn pun sedih juga dengan Calvina yang bisa paham jika semua anak di dunia ini tak akan ada yang terima jika kedua orangtuanya berpisah. Beruntung panggilan sudah terputus. Sudah bisa Zayn bayangkan jika wanita itu pasti akan memilih mundur tanpa memberi pengertian lebih dulu pada sang anak.
"Sayang..." Lembut tangan Zayn mengusap kepala anaknya.
Restu hanya diam menunggu ucapan selanjutnya dari sang ayah.
"Ayah dan Ibu sudah tidak cocok lagi. Kami itu memiliki jalan yang berbeda. Lagi pula jauh sebelum ada Ibu dan Restu, istri Ayah adalah Tante cantik ini. Dulu Kakek Restu sangat menakutkan maka dari itu Ayah menolong Ibu..."
__ADS_1
"Tante cantiknya mana?" tanya Restu memotong ucapan sang ayah.
Bocah itu sangat ingat sejak kecil hingga kini ia merasa kehadiran Calvina tak ada ia lihat.
"Dulu Tante Cantik sakit sangat lama sekali. Dan sekarang Ayah sudah harus kembali ke asal Ayah. Menjadi suami Tante cantik." Air mata Restu sukses menetes begitu saja.
"Tapi jangan khawatir. Tante cantik orangnya sangat baik. Kapan pun Ayah bersama Restu tentu tidak akan masalah.Dan tugas Restu sebagai anak laki-laki harus bisa menjaga Ibu dengan baik. Restu selamanya akan tetap anak Ayah. Nanti Ayah akan bawa Restu sesering mungkin tinggal bersama Ayah dan Tante cantik. Apalagi setelah dedek bayi lahir pasti lebih ramai kalau ada Restu. Bagaimana?" ucap Zayn lagi menambahkan.
Sontak mendengar kata dedek bayi, wajah Restu pun berubah cerah kembali. Tubuhnya yang semula lemas kini mendadak tegang antusias mendengar kata-kata sang ayah.
"Iya Tante cantiknya sedang hamil, Sayang." ujar Zayn tersenyum paham akan pertanyaan dari raut wajah sang anak.
__ADS_1
"Artinya Restu akan punya adik, Ayah?" Zayn kembali mengangguk. Ia senang melihat sambutan sang putra pada calon adiknya.
Keduanya berpelukan dan bercerita panjang lebar. Tak jarang Restu mengatakan takut jika pada akhirnya Zayn akan lebih menyayangi sang adik dari pada dirinya kelak. Namun, Zayn pun berusaha terus meyakinkan sang anak jika semuanya akan adil darinya. Sampai akhirnya mereka pun tertidur pulas malam itu.
Waktu di sini lebih cepat dari pada di Jerman lima jam. Dimana Calvina nampak bercerita bersama sang adik. Shopia tertawa sesekali berhasil mengejek suami sang kakak.
"Kenapa kalian jadi bucin akut begitu sih, Kak? Suami istri itu yang normal-normal aja dong. Jangan terlalu menggebu seperti itu." ledek Shopia.
"Wajarlah, Dek. Kita kan lama terpisahnya. Masa nggak boleh melepas rindu? Lagi pula cuman di telepon aja kan. Bukan di depan umum." ujar Calvina.
Shopia tak lagi berbicara ia hanya senyum-senyum penuh ledekan. Dan itu membuat Calvina memilih menutup mata dan memeluk bantal bersiap untuk tidur.
__ADS_1