Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Duduk menunggu keadaan sang suami membaik. Rista hanya terus memandangi wajah tampan yang merasakan sakit di tubuhnya itu. Tak tahu lagi harus melakukan apa selain membantu penyembuhan sang suami. Kini hari sudah kembali pagi. Dimana posisinya sebagai seorang ibu dan istri harus menjalankan tugasnya lagi.


"Tuan Zayn, ayo bangunlah. Sarapan dulu." ujar Rista memegang lengan sang suami.


"Tuan Zayn." Kembali Rista memanggilnya. Tak ada respon yang pria itu berikan selain terus menggumamkan nama sang istri pertama. Rista menarik kedua sudut bibirnya tersenyum miris.


Rasanya sulit percaya jika beginilah takdir hidup dan pernikahannya. Ingatan akan ancaman sang ayah membuat Rista bingung saat ini. Ingin sekali ia menjauhi keluarga Zayn. Tetapi, satu hal yang bisa saja menjadi korbannya. Yaitu nasib sang anak yang entah akan seperti apa nantinya.


"Maafkan aku, Tuhan. Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ini." Rista beranjak dari duduknya. Memilih keluar kamar menuju kamar sang anak. Restu satu-satunya orang yang mencintainya sebagai seorang anak.


"Sayang, sini sama Mamah." panggilnya pada sang anak. Rista memeluk erat tubuh mungil yang masih polos itu. Sedih hanya bisa di tumpahkan dengan pelukan eratnya. Tak memiliki orang yang dekat dengannya membuat Rista lebih tertutup dengan semua yang ia derita.


Rista berpikir sejenak untuk menemui sang ayah. Ingin sekali ia menyerahkan dirinya demi ketenangan hidup keluarga sang suami. Beberapa kali nampak wanita itu menggelengkan kepala. Menolak usul dari pemikirannya sendiri.


"Tidak. Aku tidak boleh gegabah. Jangan sampai nasibku dan Restu menjadi taruhannya. Ayah tidak akan pernah main-main dalam bertindak. Saat ini aku sudah menjadi seorang ibu. Restu memiliki nasib di tangan mu, Rista." gumamnya dalam hati.


Lama ia terdiam di dalam kamar sang putra, sampai akhirnya Rista melangkah keluar dengan membawa sang anak dalam gendongannya. Ia menemui kembali suaminya. Ternyata Zayn tak lagi sendiri. Ada ibu mertua yang duduk menggenggam tangan pria itu.


"Ibu?" sapa Rista gugup melihat sosok Gauri yang menatap suaminya dengan mata sembab.


Gauri menoleh menatap Rista dalam diamnya. Rista pelan melangkah mendekatinya sembari menggendong sang anak.


"Zayn sedang sakit. Mengapa kamu membawa Restu masuk kemari, Rista?" tanya Gauri sontak Rista tergugup tak bisa menjawab. Entah mengapa pikirannya bahkan tak sampai ke sana.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal demikian, Gauri kembali fokus pada Zayn. "Zayn, bangunlah. Kau tidak boleh sakit sampai seperti ini. Ingat kau sudah menikah dan memiliki tanggung jawab. Jangan abaikan mereka. Biarkan urusan Calvina Ibu saja yang memikirkannya. Sebab hari ini Ibu datang untuk mengatakan jika Calvina pasti masih hidup."


Mata Rista melebar sempurna mendengar penuturan Gauri. Matanya berembun, rasa takut tiba-tiba menyelimuti pikirannya. Calvina masih hidup dan kemungkinan dirinya akan mendapat siksaan dari sang ayah lagi.


"Kamu tenang saja, Rista. Ini semua sudah menjadi keputusan saya. Saya yang memberi izin kalian menikah. Artinya saya akan mempertanggung jawabkan semuanya. Rawatlah Zayn dengan baik. Dia membutuhkan kamu sebagai istrinya." ujar Gauri seolah paham dengan apa yang ada di dalam pikiran Rista barusan.


Tak berani berucap, wanita beranak satu itu hanya bisa mengangguk patuh dengan kepala menunduk. "Maafkan saya, Bu." ujar Rista.


Gauri meninggalkan rumah itu bahkan ia menolak ketika Irene menawarkan untuk duduk sejenak. Ia hanya ingin mencurahkan isi hatinya pada sang menantu. Meski Zayn tak bisa meresponnya, namun Gauri sudah merasa lebih tenang.


Tanpa mereka tahu di tempat penyekapan ini tengah terjadi insiden menakutkan.


"Kak, ayo cepat lari!" teriak Shopia ketika baru saja tangan Calvina terlepas dari ikatan tali. Kakinya bahkan sudah bisa bergerak bebas tanpa ikatan.


Shopia yang mendengar ucapan Calvina menggeleng tak setuju. Waktu mereka tak akan cukup untuk melepaskan semuanya. "Tidak, Kak. Ayo Kakak harus pergi dan cari bantuan untuk kita. Cepat, Kak. Mereka sebentar lagi akan kembali." ujar Shopia lagi.


Calvina tak kunjung mendengar ucapan sang adik. Baginya sang nenek adalah orang yang harus mereka selamatkan saat ini. Keadaan Fara si wanita tua yang sangat menyayangi sang cucu kini sudah sangat memburuk. Calvina tak ingin merasa bersalah kehilangan sang nenek.


Samar suara ribut barang jatuh dari dalam membuat penjaga mulai merasa curiga.


"Hei, ada siapa di dalam?" teriak pria kejam itu.


"Kak, ayo cepat lari. Tolong Kak segera cari bantuan." mohon Shopia lagi.

__ADS_1


Calvina yang patuh akhirnya mengangguk. Ia berlari keluar dari jendela kecil yang entah menuju ke arah mana. Kini ia hanya bisa mengandalkan tenaga yang lemas. Calvina tak ingin menghancurkan harapan sang adik.


"Jaga Nenek, Shopia. Kakak akan segera kembali." ujar Calvina di akhir pertemuannya.


Shopia hanya diam dengan debaran jantung yang tidak karuan kala melihat pintu terbuka dari arah luar. Sosok pria yang bertugas menjaga berdiri memperhatikan ruangan itu. Matanya nampak sangat menakutkan ketika melihat satu kursi yang kosong.


"Kurang ajar!" umpatnya kesal. Tak ada pertanyaan yang ia layangkan pada Shopia selain langkah cepatnya mengikuti jejak jendela yang terbuka. Bak seperti binatang buas yang langsung melompat keluar Shopia bahkan sampai tersentak kaget melihat aksi penjaga itu.


Hanya doa yang bisa ia lakukan di sini untuk sang kakak. Harapan satu-satunya hanya pada Calvina.


"Kak, aku yakin Kakak bisa keluar dan mencari pertolongan demi Nenek. Tuhan, lindungi Kakak ku. Aku mohon bantu kami. Sudah cukup kami berusaha bertahan hidup saat ini." gumam Shopia dalam hati.


Fara yang semakin lemas hanya meneteskan air mata melihat keadaan kedua cucunya. Dirinya yang tua dan lemah justru membuat kedua cucunya sulit melarikan diri dari sini.


"Jika ada kesempatan, pergilah dari sini. Nenek akan baik-baik saja, Shopia. Bantu Kakakmu terbebas dari sini. Masa depan kalian masih panjang. Jangan sia-siakan itu, Shopia. Nenek akan menunggu kalian kembali menyelamatkan Nenek." Shopia menggeleng mendengar ucapan sang nenek.


"Tidak, Nek. Aku akan di sini temani Nenek. Kakak pasti akan keluar dan mencari pertolongan..." Belum sempat keduanya berdebat lagi, suara tangis kesakitan terdengar dari arah luar ruangan.


Jerit kesakitan jelas membuat keduanya tercengang. Jelas itu adalah suara Calvina yang memohon ampun.


"Kakak..." lirih Shopia berkata.


Detik berikutnya terlihat Calvina yang mendapatkan luka memar di wajah serta rambutnya yang di jambak oleh pria kejam itu. Tak perduli bagaimana Calvina menangis memohon di lepaskan jambakan rambut di kepalanya. Pria itu terus menyeretnya masuk.

__ADS_1


__ADS_2