
"Ayah sudah berjanji tidak akan menyentuh sedikit pun Calvina. Mengapa Ayah melakukan hal itu?" Rista berucap lirih. Tangannya yang dingin di genggam oleh Bu Ida.
Sedikit banyak wanita paruh baya itu tahu jika Rista adalah anak yang sangat menderita selama ini. Suaminya sering kali bercerita tentang anak tuannya. Di sini akhirnya mereka bisa bertemu untuk pertama kali. Sedih membayangkan seorang anak perempuan hidup dengan banyak hal sakit yang ia rasakan sampai tumbuh dewasa seperti ini.
"Ayahmu sudah buta segalanya selama ini. Mungkin Tuhan menegurnya dengan cara seperti ini." ujar Bu Ida.
Rista menggeleng sedih mendengarnya. "Tidak, Bu. Bagaimana pun jahatnya Ayah. Aku tidak akan tega melihatnya tersiksa. Apalagi harus di penjara seperti ini. Aku harus segera menemui Ayah. Aku harus tahu keadaannya saat ini." Bu Ida terdiam mendengar ucapan Rista.
Jujur ia pun tidak berani mencampuri masalah orang kaya. Sudah cukup baginya sang suami sakit seperti ini. Ia tak akan mau lagi mengorbankan keluarganya hanya untuk membela Rista yang belum tentu mau mendengarkan ucapannya.
"Mereka tidak akan mengeluarkan Pak Candra begitu saja, Rista. Percaya dengan saya. Mereka tidak akan mudah mengampuni semua perilaku Ayahmu." Bu Ida tak tega jika sampai Rista bertemu sang ayah dan akan mendapat perlakuan buruk dari pria tua itu.
Candra tak pernah sedikit pun melirik ke arah sang anak. Hatinya keras bagai batu.
__ADS_1
"Biarkan saja dia pergi, Bu. Biarkan dia pergi. Mari saya beri tahu tempatnya. Lebih cepat pergi maka lebih baik. Jangan sampai keluarga kita terkena imbasnya lagi, Bu." Reza yang masuk begitu lancang berbicara.
Rasa tak sukanya semakin menjadi saat mendengar Rista ingin menemui sang ayah. Bahkan Rista tak mengerti bagaimana sakitnya keluarga Pak Danang melihat kepala rumah tangga mereka terbaring tak berdaya seperti ini karena ulah ayahnya.
"Reza, jangan seperti itu." tegur Bu Ida pada sang anak.
Tatapan mata Reza jelas membuat Rista sadar jika dirinya sangat mengganggu kedatangannya saat ini. Sampai akhirnya ia pun bergegas mengusap air mata di wajahnya.
"Maafkan Ayah saya, Bu. Maafkan Ayah saya." Ia beralih menatap Reza untuk meminta maaf. Namun, hanya Bu Ida yang mengangguk.
Rista tak bisa pamit pada Pak Danang. Hanya pelukan hangat dari Bu Ida yang melepas kepergianya bersama sang supir dan juga Restu.
Di sini Zayn pun menatap datar pesan yang ia barusan dapat dari sang anak buah.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya Rista sudah dalam perjalanan ke kota saat ini." Itulah yang Zayn baca. Sama sekali tak ada raut senang di wajahnya.
"Berapa lama lagi aku harus menunggu?" gumam Zayn memikirkan pertemuan berikutnya pada sang istri tercinta.
Tanpa ia tahu jika sebenarnya ada yang jauh lebih penting yang harus ia selesaikan saat ini. Kehilangan sang istri beberapa waktu lalu bahkan tak membuat Zayn ingat jika harus memecahkan kepala pria tua itu. Berjauhan dengan Calvina membuatnya tak sadar untuk melakukan apa pun.
Di sini wanita yang tengah Zayn pikirkan pun sama sedihnya. Calvina tak punya semangat hidup.
"Cal, apa yang kamu pikirkan? Zayn lagi?" tanya Fara menghampiri sang cucu.
"Nenek? Tidak ada, Nek. Ayo kita nonton bersama. Di kamar rasanya sangat membosankan." ujar Calvina menghindari pertanyaan sang nenek.
Ia harus terlihat bahagia demi sang nenek tercinta. Melihat bagaimana baiknya Calvina menurut padanya membuat Fara sangat senang. Ia begitu menyayangi para cucunya.
__ADS_1
"Kelak Nenek akan jauh lebih tegas juga pada Shopia. Apalagi perihal jodoh. Nenek tidak ingin membuat cucu Nenek di masa pernikahannya penuh ujian. Padahal Zayn satu-satunya yang Nenek akui menjadi cucu menantu paling sempurna dari yang lain. Tapi, ternyata masih juga membuat kesalahan. Bahkan kesalahan yang sangat fatal lagi." Calvina hanya diam mendengar sang nenek menggerutu.
Pada dasarnya satu pun manusia tak ada yang sempurna di dunia ini. Begitu pun dengan Calvina yang bertahun-tahun tak bisa melayani sang suami sebagai istri yang baik. Namun, berdebat dengan sang nenek jelas saja percuma.