
Kemarahan Zayn terlihat sulit di kendalikan. Satu orang pun tidak ada yang berani bersuara di ruangan itu. Hanya terdengar suara rintihan sang dokter yang terduduk lemas usai mendapat pelajaran keras dari Zayn. Puas memukuli dokter, Zayn keluar dengan sisa air mata kesedihan. Ia mengusap air matanya dan menatap tajam pada semua anak buahnya. Marah sebab mereka tak bisa mencegah tindakan sang nenek mertua.
"Cepat cari informasi tentang istriku sekarang juga!" pintah Zayn pada anak buah.
Sejak saat itu setahun sudah waktu berlalu. Kabar kecelakaan pesawat pun sudah tak lagi terdengar di berita mana pun. Dan hari ini tepatnya di sebuah rumah megah nampak sosok pria menatap hampa pantulan wajahnya di depan cermin. Sebuah jas hitam menempel rapi di tubuh tegapnya.
"Zayn...kamu sudah siap kan? Restu dari tadi mencari kamu di depan. Ayo cepat keluar. Iya kan, Ayah?" Irene masuk ke dalam kamar sang anak prianya.
Zayn yang begitu rapuh hanya bisa patuh apa yang kedua orangtuanya lakukan untuk hidupnya. Pikirannya sudah benar-benar kosong bahkan makannya pun Irene yang mengurusnya belakangan ini. Kehilangan harapan bersama sang istri membuat Zayn menyerah dalam hidupnya.
"Apa benar ini takdir hidupku, Bu?" tanya Zayn. Matanya berkaca-kaca menatap sang ibu.
Irene melihat kesedihan di mata sang anak. Ia yakin Zayn cepat atau lambat akan melupakan semuanya. Berkat bantuan ketulusan dari Rista, Irene dan keluarga Calvina yakin Zayn masih bisa melanjutkan hidupnya bersama wanita yang mereka nilai baik.
"Kamu sudah memilih yang tepat. Calvina pasti akan lebih bahagia jika melihat kamu bahagia, Zayn. Flora dan adiknya akan senang melihat kamu semangat lagi. Ayolah, Zayn. Jangan buat Ibu dan Ayah sedih melihatmu seperti ini." bujuk Irene memeluk anaknya.
Tepat pukul sepuluh menjelang siang akhirnya akad nikah untuk kedua kalinya Zayn lakukan namun tidak dengan orang yang sama. Ketika seruan kata sah dari keluarga terdengar saat itu pula Zayn memejamkan mata berusaha menguatkan diri.
"Maafkan aku, Cal. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku benar kehilangan arah. Maafkan aku jika akhirnya aku mengecewakanmu. Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Calvina. Maafkan aku jika akhirnya aku menikah dengan wanita pilihan Ayah dan Ibu." gumam Zayn berkata dalam hati.
Satu kecupan Rista daratkan pada punggung tangan Zayn pertanda jika mereka telah sah menjadi suami istri. Semua keluarga bahagia termasuk Gauri sebagai mantan ibu mertua Zayn. Ia dan suami ikut bahagia menyaksikan pernikahan yang mereka rencanakan ini.
__ADS_1
"Bu..." Zayn yang tak kuasa menahan sedihnya datang menghadap pada kedua mertuanya. Ia menunduk mencium kedua tangan Gauri dan juga Matthew. Merasa bersalah telah meninggalkan sang istri dan menikah lagi.
Gauri yang sudah ikhlas atas kepergian kedua anaknya hanya mengangguk tersenyum meski air mata tetap jatuh di wajahnya.
"Zayn, kamu melakukan yang tepat. Kamu tidak salah, Nak. Kamu harus bisa melanjutkan hidupmu. Ibu percaya semua akan baik-baik saja. Meski kamu sudah menikah kami tetaplah ibu dan ayahmu." Matthew ikut mengangguk mengiyakan ucapan sang istri.
Kedua orang itu memeluk Zayn dan mengusap punggung pria tampan itu. Rasanya pernikahan ini begitu berat untuk Zayn hadapi.
"Oh! Oh!" Seruan suara bocah kecil mendekati Zayn.
"Iya, Restu? Ada apa memanggil Om?" tanya Zayn menoleh. Panggilan yang lucu dan menggemaskan rasanya di dengar saat ini. Beberapa waktu lalu yang sudah mereka lewatkan sampai pada akhirnya Restu mulai beranjak besar dan bisa berbicara.
"Ndong." ucap Restu melambaikan kedua tangan pada Zayn. Permintaan yang tak pernah bisa Zayn tolak selama ini.
Wanita itu nampak menundukkan kepala tanpa kata. Ia hanya berusaha tersenyum menatap para keluarga.
"Baiklah, saya harus pergi. Kalian ingat jaga baik-baik anak saya." pintah Candra berlalu begitu saja. Di balik punggungnya ia tersenyum puas. Hari yang ia nantikan akhirnya terjadi juga. Bahkan ketika pria tua itu pergi tak ada yang bersuara menyahut ucapannya.
"Ini permulaan, Yonathan. Anakku telah masuk sepenuhnya pada keluarga kalian. Hahaha...." Pria itu melenggang dengan bahagianya. Tanpa memperdulikan jika ada orang yang sangat menderita dengan hal ini.
Satu persatu tamu mulai bubar usai menyaksikan pernikahan Zayn barusan. Kini Rista berjalan menuju dapur untuk memasak usai berganti pakaian. Bingung apa yang harus ia lakukan pada Zayn selain mengurus makanannya dan keperluan lainnya.
__ADS_1
Ponsel miliknya tiba-tiba saja berdering menandakan ada pesan masuk. Kening Rista mengerut dalam bingung siapa yang mengirimnya pesan di hari pernikahaanya. Santai Rista berpikir mungkin keluarganya yang mengucapkan selamat.
"Ingat, Rista. Ayah bisa saja memunculkan seseorang untuk merusak pernikahanmu dengan Zayn. Maka dari itu ikutilah semua perintah Ayah. Kau harus bisa memiliki sebagian milik mereka. Cepat hapus pesan ini!" Itulah pesan yang Candra kirimkan pada sang anak sebagai kado pernikahan Rista.
"Apa? Ayah? Bagaimana mungkin ini?" Rista terdiam mematung. Tubuhnya bingung menerka apa yang di maksud oleh sang ayah barusan.
"Seseorang?" gumamnya lagi.
Tepat di waktu yang sama di tempat yang berbeda. Seorang wanita dengan tubuh kurus dan lemasnya menangis menonton video yang di tunjukkan oleh salah satu pria bertubuh tinggi tegap. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Tidak! Kalian tidak bisa melakukan ini. Tolong hentikan pernikahan itu. Aku mohon!" tangisan pilu dan teriakan membuat pria yang baru saja masuk terkekeh bertepuk tangan.
Ia sangat puas melihat video yang ia kirim telah di sampaikan pada wanita yang ia sekap entah sejak kapan. "Bagus. Kerja bagus. Kalian sangat bagus. Hahaha bagaimana pertunjukan dari saya?" ucapnya terkekeh.
Wanita yang menangis hanya menatap marah pada Candra. "Kamu sangat jahat. Dia suamiku. Kalian tidak berhak melakukan ini padaku. Lepaskan aku!" teriaknya lirih.
"Kak sudahlah. Tidak ada gunanya berbicara dengannya. Kakak harus benar-benar pulih dulu. Kita akan cari jalannya." ujar seorang gadis di sampingnya yang juga sama-sama terikat.
Dua wanita yang tak lain adalah Shopia dan Calvina nampak saling menyandarkan kepala mereka menangis. Setahun sudah berjalan namun penjahat itu tak kunjung melepaskan mereka.
Calvina menangis melihat pria yang sangat ia cintai tiba-tiba menikah dengan wanita lain ketika ia sudah kembali sadar. Hatinya begitu hancur. Perjuangan selama ini yang ia usahakan berakhir sia-sia. Bahkan sakitnya semakin menyiksa kala melihat pernikahan sang suami di saksikan oleh kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Maafkan Nenek, Calvina. Maafkan Nenek. Ini semua adalah salah Nenek." Dari arah ranjang wanita tua yang menangis sejak tadi menyesali perbuatannya hanya bisa meminta maaf pada sang cucu