Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Ngidam Di Mulai


__ADS_3

Terik matahari yang terpancar sejak pagi tiba-tiba berubah menjadi mendung. Suasana di luar nampak mulai turun hujan gerimis. Tak berbelas kasih pada seorang pria yang berlari secepat mungkin turun dari kendaraan umum. Tubuhnya benar-benar berantakan. Kemeja yang ia pakai kini sudah tak masuk lagi di pinggang celananya.


"Huh merepotkan. Seharusnya ladang hari ini sudah beres semua. Gara-gara wanita itu Ibu terus saja mendesak aku kemari." umpatnya sangat kesal.


Pria itu tak lain adalah Reza. Kedatangannya ke kota tentu atas permintaan sang ibu yang mencemaskan Rista dan juga Restu. Di tangan kanan dan kiri terlihat kresek yang berisi buah dan mainan. Bukan buah yang di rangkai seindah mungkin. Reza membawa buah dari hasil panennya kemarin.


Setelah pria muda itu menanyakan keberadaan Rista, ia pun berjalan dengan arah yang di tunjuk oleh petugas rumah sakit. Pintu dengan alamat yang ia lihat segera di ketuk.


"Siapa yah, Bu? Apa itu Ayah?" tanya Restu dengan antusiasnya. Makan di mulut segera ia telan secepat mungkin. Wajahnya berbinar membayangkan sosok yang ia selalu rindukan.


Bukan tak sayang pada sang ibu. Namun, pretumbuhan seorang anak seiring berjalannya waktu tentu akan pandai memilih siapa yang bisa mengimbangi permainannya. Tentu adalah seorang pria yang jelas lebih tahu apa yang ia inginkan. Jika bersama Rista ia terus di perlakukan dengan lemah lembut, berbeda dengan Zayn yang sering kali brutal pada anaknya namun dalam hal bercanda. Dan itu sangat Restu sukai.


"Tidak mungkin itu Ayah, Sayang. Dia sedang kerja." jawab Rista sebab ia pun sadar Zayn tak akan mau bertemu dengannya.


"Sebentar yah." ujar Rista berdiri dari duduknya berjalan membuka pintu.


Dua pasang mata saling berpandangan dalam diamnya. "Siapa Ibu?" tanya Restu tak sabar.


Rista sadar segera mundur dan memberi jalan untuk Reza masuk. "Silahkan masuk." ujarnya.

__ADS_1


Keduanya melangkah masuk ke dalam ruang rawat milik Restu.


"Halo...bagaimana kabarmu? Ini ada Om bawakan buah yang baru di panen sama mainan untuk Restu juga." Wajah sang bocah berbinar bahagia. Ia senang kini koleksi mainannya sangat banyak.


"Terimakasih. Seharusnya tidak perlu repot seperti ini." ujar Rista.


Reza menatapnya dengan pandangan dingin. "Ini atas perintah Ibuku."


Setelah ucapan itu sama sekali Reza tak pernah menoleh lagi pada Rista. Sadar jika dirinya tak di inginkan, Rista menjauh. Ia memilih untuk duduk di sudut ruangan yang terdapat sofa di sana. Hanya bisa tersenyum dalam hati memperhatikan percakapan anaknya bersama pria asing itu.


"Wah ini mainan kesukaan Restu. Terimakasih yah, Om." seru Restu bersemangat.


"Sayang, kenapa harus tempe geprek dari Indonesia? Ibu bisa buatkan di sana kan?" Sementara di sini Zayn tengah berdebat kecil bersama sang istri.


Seharusnya ia hari ini bisa fokus bekerja. Tetapi permintaan penuh rengekan dari Calvina membuatnya tak bisa lagi fokus.


"Zayn, lihat bibirku ingin menjatuhkan air karena terlalu ingin makan tempe geprek itu. Di sini rasanya beda sangat tidak enak. Aku ingin makan itu." Zayn benar-benar di buat pusing sekali.


"Yasudah kalau tidak mau. Aku mau tidur saja." ujar Calvina cemberut. Bibirnya maju dan kepalanya ia hempaskan ke bantal..

__ADS_1


"Sayang, jangan menghempaskan tubuh seperti itu. Kau sedang hamil, Calvina." tegurnya sedikit tegas.


"Aku hanya menghempas kepala, bukan tubuhku, Zayn!" Mood ibu hamil muda itu tiba-tiba memburuk. Mendengar teguran sang suami ia pun menjadi sensi.


Zayn memejamkan mata sejenak dan menghela napas. "Sayang, aku akan kesana membawakan makanan untukmu. Kau mau apa lagi? Sebutkan saja. Semua yang kau mau aku akan bawakan. Oke? Ayo apa-"


Panggilan mendadak terputus. Layar ponsel terlihat kosong saat ini. Zayn tahu Calvina sangat marah padanya.


"Sabar, Tuan. Wanita hamil memang seperti itu moodnya suka berubah-berubah." Aldi sang sekertaris berceloteh di depan Zayn.


"Aku jelas lebih paham hal itu, Aldi dari pada kau. Bahkan aku sudah pernah menghadapi posisi ini dua kali. Sedangkan kau satu kali pun belum ada." cetus Zayn yang terdengar sangat mengesalkan.


Sebagai sekertaris, Aldi pun paham saat ini keadaan Zayn sedang tidak baik. Beruntung Zayn pernah di posisi ini tentu ia sangat paham keadaan istrinya yang sangat membutuhkan dia di sampingnya.


"Aku akan segera berangkat. Kabari semua tentang pekerjaan yang selesai hari ini." ujar Zayn berlari cepat keluar dari ruangannya.


"Tuan, bagaimana dengan..." Ucapan Aldi terhenti saat melihat Prayan memasuki ruangan sang anak.


"Lakukan dengan baik, Aldi. Sisanya serahkan pada saya." pintah pria paruh baya itu yang terlihat masih saja tampan.

__ADS_1


__ADS_2