Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Masakan Untuk Menantu Kesayangan


__ADS_3

"Ibu mau bicara." Begitulah ucapan yang Rista lihat dari isyarat mata sang ibu mertua. Irene melangkah keluar dan di susul oleh Rista pula. Keduanya meninggalkan Zayn bersama Restu dan juga Prayan.


Di sini Rista berdiri menatap penuh tanya dengan panggilan sang mertua. Sampai terlihatlah Irene menghela napas kasar sebelum berkata. Berat namun ia merasa harus tetap mengatakan hal tersebut.


"Ta, Ibu ingin tahu bagaimana pendapat kamu jika ternyata istrinya Zayn masih hidup? Apa kamu menerima kehadirannya sebagai istri pertama suami kamu, Nak?" Lemah lembut wanita paruh baya itu berkata.


Sebisa mungkin ia tak menyakiti perasaan sang menantu. Irene juga seorang perempuan yang bisa merasakan sakit sekali jika hal itu terjadi padanya. Sebagaimana Rista ia tahu hidup sudah cukup banyak kesedihan yang ia dapatkan.


"Ma-maksud Ibu?" tanya Rista seolah meminta penjelasan lebih. Baginya ia tak akan mau mejawab apa pun sebelum jelas apa tujuan sang mertua bertanya demikian.


Irene bahkan bisa melihat wajah sang menantu yang gugup namun ia tak bisa mengartikan ekspresi apa yang Rista tunjukkan padanya saat ini. Tentu, hal itu karena Rista berusaha menembunyikan ketakutannya jika sampai ternyata semua rahasia bersama sang ayah terbongkar.


"Sayang," pelan Irene memegang tangan sang menantu.


"Keberadaan Calvina sampai detik ini belum bisa kita pastikan jika benar-benar telah meninggal. Ibu hanya berpikir bagaimana jika suatu saat itu akan terjadi? Apa kamu akan menerimanya atau bahkan meninggalkan Zayn bersama Restu?" tambah Irene lagi.


Rista seketika menggeleng pelan. Satu kali pun Rista tidak pernah membayangkan jika Calvina kembali menduduki posisi awalnya menjadi istri kesayangan Zayn. Rista tidak pernah membayangkan hal itu dan sampai kapan pun ia tak akan rela jika dirinya menjadi yang kedua.


"Ibu jangan bertanya hal seperti itu. Selama ini aku dan Mas Zayn sudah bahagia. Bahkan sekali pun aku tidak pernah membayangkan hal itu, Bu. Pernikahan kami susah payah kami bangun selama ini. Bagaimana mungkin aku berniat memikirkan hal yang bisa saja merusak kebahagiaan yang baru terjalin, Bu? Lagi pula pernikahan ini bukan keinginan kami. Ibu dan yang lain lah yang memaksa kami menikah. Apa kalian tidak bisa melindungi pernikahan kami? Sekali pun itu adalah Calvina yang datang." Setelah Rista berucap tegas pada sang ibu mertua, wanita itu segera bergerak masuk kembali ke dalam ruangan.

__ADS_1


Irene terdiam melihat sikap Rista. Ada perasaan yang tak enak ia rasakan setelah melihat respon Rista yang jelas menolak kehadiran Calvina kembali.


"Ini tidak boleh terjadi. Ibu tidak boleh berpikir hal seperti itu. Aku harus melakukan sesuatu untuk bisa mempertahankan kedudukanku. Zayn adalah suamiku. Sudah seharusnya aku mempertahankan apa yang menjadi milikku. Calvina tidak boleh muncul dalam keluargaku. Ibu tidak boleh bertemu dengannya." batin Rista.


Tanpa ia ketahui jika Irene ternyata telah bertemu dengan sosok yang paling Rista hindari. Dan alasan itulah yang membuat Irene berani bertanya hal menakutkan pada sang menantu.


Di sini tanpa Zayn tahu jika wanita yang sangat ia rindukan menatap sedih foto dirinya masuk ke salah satu ruang rawat.


"Cal, itu suami kamu sedang ke ruang rawat anaknya. Kamu pasti bingung kan mencari Zayn di mana?" Pesan singkat yang Calvina baca di ponsel.


Salah satu dokter yang sangat akrab dengan Calvina sejak kecelakaan pesawat itu menjadi satu-satunya orang luar yang tahu tentang kehidupan Calvina saat ini.


Shopia yang berbaring di ranjang sang kakak menggeleng kesal mendengar ucapan Calvina. Lagi-lagi wanita itu menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana pun Shopia menjelaskan Calvina tak akan bisa mendengarnya.


Berdiam diri di rumah, itulah yang Calvina lakukan sampai ia bisa memutuskan harus melakukan apa pada pernikahannya dengan sang suami. Matthew bahkan terus memantau sang anak agar tidak muncul ke publik terang-terangan. Jika Calvina terlihat publik maka berita kecelakaan pesawat dan penangkapan Candra akan terdengar di seluruh televisi. Sedangkan mereka berniat untuk menutupi ini semua dahulu sampai Fara benar-benar pulang dan sehat.


"Kak kendalikan diri Kakak. Ingat kata Ayah Kakak harus tenang saat ini sampai Ayah kembali. Jangan gegabah. Kita harus tahu wanita itu seperti apa. Apa Kakak rela jika Kak Zayn jatuh pada wanita yang salah atas kemauan Kakak?" Pertanyaan Shopia membuat Calvina menggeleng lirih.


Dalam pikirannya yang kacau ia hanya memikirkan kebahagiaan Zayn saat ini yang ia lihat dan sakit hatinya. Calvina sampai lupa berpikir jika patut waspada pada sosok Rista yang nyata-nyata adalah anak dari pria jahat itu.

__ADS_1


"Kakak paham kan? Kak Zayn adalah korban jika sampai kita salah melangkah. Dan Kakak tahu hubungan pria jahat itu pada istri kedua Kak Zayn?" Lagi-lagi Calvina mengangguk.


Sejak hari itu Calvina tak lagi keluar rumah sudah dua hari lamanya. Ia hanya menunggu kabar dari sang ayah yang membayar seseorang untuk memfoto segala macam keadaan Zayn di luar sana.


Restu bahkan sudah keluar dari rumah sakit sejak kemarin. Namun, hal itu tak membuat Rista mau bicara dengan sang suami. Bukan karena permasalahan awal mereka. Melainkan Rista tengah bingung dengan sang ayah yang tak kunjung terlihat dan juga ucapan sang ibu mertua beberapa waktu lalu.


Bukan hanya Calvina, Shopia pun sama hanya berdiam diri di rumah menunggu orangtua dan neneknya datang.


Siang hari ketika Zayn ingin pulang ke rumah sang Ibu, wajahnya terkejut kala melihat wanita paruh baya yang tak lain adalah san Ibu sedang berkemas di dapur dengan rantangan yang tersusun tinggi.


"Bu, mau kemana?" tanya Zayn mendadak membuat Irene gugup setengah mati. Wajah yang sejak tadi Zayn perhatikan begitu bahagia mendadak pucat dan tak bisa berkata-kata.


Mata Zayn dan Irene bertemu pada satu susun rantang yang belum di tata dan masih terbuka. Berbagai macam lauk terlihat di sana sedang menunggu di tutup.


"Za-Zaynn...." Irene melangkah maju ingin menyapa sang anak dan menutupi makanan yang ia siapkan barusan.


"Ibu memasak sendiri untuk siapa? Itu makanan kesukaan Calvina." Tanpa menahan diri Zayn langsung bertanya hal demikian. Irene susah payah meneguk salivahnya yang terasa mengganjak seperti bongkahan batu.


Hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala. Irene berpikir di tengah kebingungannya ingin menjawab apa pada sang anak.

__ADS_1


__ADS_2