
Jika di pikir kemarahan Fara hanyalah kekesalan biasa tentu salah besar. Kemarahannya benar-benar tak bisa di redakan lagi ketika Shopia menjelaskan semuanya. Detik itu juga wanita tua itu mengurus segala kepindahan Calvina keluar negeri. Ia mengatakan jika semua keluarga yang di negara ini tidak perduli akan keselamatan sang cucu. Bahkan izin dari Zayn pun tidak ia minta sebagai cucu menantu.
"Nenek, ini berlebihan. Kakak akan sedih mengetahui ini. Nenek tidak seharusnya memindahkan Kakak dengan cara seperti ini." ujar Shopia menahan Fara yang sudah mengurus pada seorang dokter kepercayaannya.
Matanya menatap nyalang pada wajah cucu yang berdebat dengannya. "Kamu mau ikut atau di sini mendukung mereka? Nenek tidak akan memaksa kamu, Shopia." sahut Fara ketus.
Shopia terbungkam tanpa kata. Ia tahu ini semua bukan kesalahan Zayn. Semua keadaan yang membuat jadi begini. Tetapi, keadaan Calvina tentu yang utama baginya.
"Baiklah, aku ikut Nenek demi Kak Calvina." jawab Shopia.
Pagi itu juga dengan cepat pihak rumah sakit memindahkan Calvina ke luar negeri atas kuasa dari Fara. Wanita yang juga memiliki kuasa besar di negara itu hingga saat ini.
"Aku harap keputusan kamu bukan karena emosi sesaat, Far. Nyawa cucumu menjadi taruhannya." ujar dokter berwajah keriput itu. Mereka adalah sahabat yang sudah berpisah sekian lama.
Dengan angkuh Fara melangkah meninggalkan ruangan sang sahabat. Bahkan ia tak membawa serta kedua anak dan menantunya. Fara benar-benar bertindak sendiri saat ini. Suami yang tak ada di sisinya pun ia tak pikirkan lagi. Kasih sayang yang terlalu besar pada Calvina membuatnya buta akan segala resiko.
Di sini tepatnya sebuah perusahaan dimana Zayn terduduk lemas atas berita dari sang ibu mertua. Gauri dengan air mata menetes di depan sang menantu meminta maaf yang sebesar-besarnya.
"Maafkan Ibu, Zayn. Ibu sudah lalai menjaga Nenek hingga seperti ini. Bahkan saat ini bukan hanya kepergian Calvina dan Shopia saja yang Ibu ingin sampaikan..." Zayn mengerutkan kening menerka berita buruk apa lagi yang akan ia dengar hari ini.
Bahkan pagi tadi Zayn tidak sempat menjenguk sang istri setelah semalam ia tidur di rumah untuk menenangkan Restu.
__ADS_1
"Zayn, pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan!" Tangis Gauri pun pecah di dalam pelukan sang suami. Matthew hanya menunduk tanpa kata. Peristiwa menyakitkan lagi-lagi menghampiri mereka. Bahkan kini bukan hanya satu putri saja melainkan dua putri dan satu ibu yang meninggalkan mereka.
Zayn terdiam hanya air matanya yang berjatuhan. Ia menggeleng seolah tak percaya dengan berita yang ia dengar.
"Bu, Ibu boleh marah padaku. Tapi, bukan begini caranya. Aku tidak rela kalian membohongiku apalagi dengan mengatakan istriku kecelakaan pesawat. Kalian tidak bisa seperti ini, Bu. Calvina masih istriku. Aku akan menuntut rumah sakit jika berani mengeluarkan surat ijin pindah rawat istriku!" Zayn marah.
Tangannya ingin meraih ponsel namun Matthew lebih dulu menunjukkan ponsel yang berisi berita kecelakaan pesawat. Zayn menatap benda pipih itu lalu berganti menatap wajah sang mertua.
"Tidak. Ini rencana kalian. Aku tidak akan percaya. Apa yang kalian inginkan dariku, Ayah, Ibu? Calvina satu-satunya wanita yang aku cintai. Perihal semalam aku hanya ketiduran. Aku akui salah. Tapi apa pantas satu malam kalian jadikan alasan untuk menutup semua ketulusanku selama empat tahun ini menunggu istriku? Kalian tidak berhak memisahkan aku dengan Calvina. Tolong jangan membohongiku seperti ini!" Zayn masih kekeuh untuk tidak percaya. Tangannya menepis pelan ponsel sang ayah mertua.
Hingga kabar itu terdengar dari Irene yang juga menghubungi sang anak.
"Halo, Bu..." ucap Zayn menyapa.
"Zayn, apa berita itu benar? Bagaimana bisa nama Calvina ada di daftar pesawat itu? Ibu salah dengar pastikan?" tanya Irene dengan suara menangis.
Zayn tak tahu harus menjawab apa. Sampai akhirnya ia membuka ponsel dan mencari berita terbaru. Dan benar saja jika ia mendengar kabar pesawat kecelakaan setengah jam yang lalu. Kepalanya menggeleng sulit percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tidak. Ini tidak benar." gumamnya menggeleng. Detik berikutnya Zayn berlari meninggalkan ruang kerja melajukan mobil. Teriakan Gauri dan Matthew tak ia perdulikan lagi.
"Zayn!" panggil Matthew hanya di abaikan saja.
__ADS_1
Zayn memilih menuju rumah sakit demi memastikan kabar sakit ini hanyalah kesalahan. Sepanjang jalan air matanya tak bisa lagi berhenti. Meski sulit percaya namun Zayn tahu jika sang istri memiliki Nenek yang tidak pernah berpikir dalam bertindak. Sikap keras Fara sudah di kenal sejak dulu. Namun, semenjak Zayn mengenal Fara ia selalu mendapat kelembutan dari wanita tua itu. Berbeda halnya dengan saat ini. Fara begitu murka ketika merasa ada wanita yang akan menggeser posisi sang cucu.
"Katakan ini tidak benar, Cal. Tolong ku mohon jangan membuatku takut seperti itu lagi. Aku mohon, Cal jangan tinggalkan aku. Aku mohon, Sayang. Sudah cukup penderitaanku selama ini. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Dalam kesendirannya selama perjalanan Zayn begitu terlihat sangat rapuh.
Rasanya semangat hidupnya sudah benar-benar tak bersisa lagi. Cobaan demi cobaan terus menghampirinya tanpa henti. Sakit rasanya membayangkan berita yang mungkin saja benar adanya. Bukan hanya Zayn, semua keluarga pun menangis. Irene yang menghubungi sang anak bahkan tak mendapat jawaban apa pun lagi. Zayn membiarkan begitu saja panggilan itu terus tersambung dalam saku celananya.
"Bagaimana ini, Ayah?" tanya Gauri yang menangis.
Matthew diam mematung. Hatinya seperti tak ada lagi di dalam dirinya kali ini. Seorang ayah dari dua anak perempuan tersayang kini benar-benar hancur. Matthew kehilangan arah ingin bertindak apa saat ini. Ia hanya menggeleng duduk lemas di kursi tanpa menatap sang istri. Matanya kian meneteskan air mata sedih.
"Anak kita dua-duanya pergi, Bu. Apa salah kita dulu? Mengapa Tuhan memberi cobaan kita seperti ini? Apa yang kita perbuat sampai mendapat karma seperti ini, Bu?" tanya Matthew pelan.
Gauri memejamkan mata meneteskan air mata tanpa kata. Ia menggenggam kuat lengan sang suami. Semua keluarga benar-benar terluka bahkan hanya Zayn yang saat ini datang ke rumah sakit.
"Sayang! Calvina!" teriak Zayn ketika membuka pintu ruang rawat sang istri. Matanya melebar melihat ranjang telah kosong dan rapi.
Zayn berlari cepat ke ruangan dokter. Ia membuka pintu dan masuk tanpa permisi.
"Dimana istriku? Dimana istriku?!" Teriakan Zayn menggema di ruang dokter yang selama ini menangani Calvina.
"Tuan Zayn, tenang dulu. Tolong tenang dan dengar..." Ucapan dokter pria itu sontak terhenti ketika tangan Zayn sudah melayang di wajahnya.
__ADS_1
Tangan Zayn bahkan bergetar setelah melayangkan pukulan telak ke wajah dokter. Ia tak lagi bisa mengontrol amarahnya kali ini.
"Dimana istriku? Katakan!" teriak Zayn lagi membanting meja di depannya.