Bukan Duri Dalam Pernikahan

Bukan Duri Dalam Pernikahan
Pilihan


__ADS_3

Melihat anak dan suaminya berpelukan membuat Rista membuang wajah. Ia merasa Zayn tak lagi bisa ia harapkan untuk bisa mencintainya dan juga Restu. Semua kedekatan Zayn bersama Restu cepat atau lambat akan berakhir. Mereka bukan ikatan sedarah yang bisa bersama selamanya tanpa bisa di pisahkan. Sementara di pelukan Zayn, bocah kecil itu memeluk begitu erat hingga berakhir Zayn menggendongnya mencium beberapa kali kepala sang anak.


"Sayang, kamu dari mana saja? Ayah kenapa di tinggal begitu lama? Apa kamu tidak khawatir Ayah kenapa-napa di rumah sendiri?" Restu memanyunkan bibir mendengar pertanyaan Zayn. Tangannya di tarik semakin erat pada leher ayah tampannya.


"Maafkan Estu, Ayah...Ibu kan sendilian makanya di temani. Kan kita juga mau cari Kakek. Tapi..." Restu menggantung ucapannya dan beralih menatap sang ibu.


Rista yang tak memperhatikan sang anak hanya berdiri membuang pandangan. Zayn terdiam menunggu lanjutan cerita anak tirinya. Nampak, Restu ragu mengatakan kejujuran yang ia dapatkan saat bertemu dengan Candra. Matanya memancarkan aura sedih saat ini.


"Ada apa dengan Kakek?" tanya Zayn tak sabar.


"Kakek Candra jahat, Ayah. Tidak seperti Kakek Matthew dan Kakek Prayan. Restu takut." tuturnya memeluk kembali leher Zayn.


Ucapan polos Restu membuat Zayn menatap sang istri. Rista sudah berbuat kesalahan membawa Restu pada Candra. Tidak sepantasnya ia mempertemukan bocah yang tidak tahu apa-apa itu pada ayah yang begitu jahat. Segera Zayn pun meminta sang anak pergi ke kamar bersama sang pelayan. Ia akan berbicara pada Rista saat ini lebih dulu.


"Ris, mau kemana kamu?" Zayn menarik tangan Rista saat melihat wanita itu hendak membalikkan tubuh dari arah sebelumnya.

__ADS_1


"Aku lelah, Mas. Aku mau istirahat." ujar Rista.


Zayn menggeleng mendengar ucapan sang istri. "Kita harus bicara, Ris." sahut Zayn lagi.


"Bicara apa, Mas? Bicara soal apa? Bicara soal Mas masih mencintai istri Mas itu? Mas masih belum melupakan semuanya? Mas mau apakan hubungan kita selama ini? Pernikahan ini bukan keiningan aku, Mas." Panjang lebar Rista berkata. Zayn menatapnya dalam.


Dalam hati Zayn bukan hanya ingin mengatakan semua perasaannya yang selalu ia tahan selama ini. Ada hati yang ingin ia perjuangkan dengan benar-benar saat ini. Ada waktu yang harus Zayn tebus untuk Calvina.


"Bagaimana bisa aku melupakan semuanya, Rista. Sedangkan wanita satu-satunya yang aku cintai kini justru pergi tanpa memberikan aku kesempatan memperbaiki semuanya..." Belum selesai Zayn berkata, Rista menoleh menatap pada pria itu. Ada kebingungan yang sulit ia artikan dari ucapan Zayn.


"Pergi?" lirih Rista berucap. Nampaknya ia tengah salah paham.


"Iya." Zayn mengangguk lagi.


"Calvina pergi tanpa memberikan waktu padaku lebih banyak. Dia memilih mundur untuk hubungan kita berdua. Istriku masih hidup, Rista. Sekarang aku tidak tahu harus bagaimana. Satu yang harus kamu tahu. Sampai kapan pun cinta ini untuknya tidak akan pernah mati dan berubah."

__ADS_1


Bagai di angkat ke langit lalu di hempaskan ke dasar bumi. Dada Rista rasanya sangat sesak saat ini. Bibirnya kaku tanpa bisa berucap apa pun lagi. Rista menggeleng tak percaya jika inilah kata akhir yang harus ia dengar setelah kembali ke rumah. Tanpa tahan air mata pun jatuh di kedua pipi wanita itu. Dadanya sesak mendengar ucapan Zayn yang lama tak ia dengar.


"Lalu apa arti semuanya selama ini, Mas Zayn? Apa arti kebaikan kamu selama ini denganku dan juga Restu? Apa maksud kamu untuk mempermainkan perasaan kami, Mas?" tanya Rista berderai air mata.


Ingin sekali terlihat kuat, nyatanya ia hanyalah wanita rapuh yang kini kembali di hadapkan kenyataan pahit dalam hidupnya. Dalam waktu yang hampir bersamaan semua miliknya di ambil sang pencipta. Sang ayah di penjara, sedangkan sang suami kini kembali menyatakan perasaannya untuk wanita lain. Ingin rasanya Rista teriak sekuat mungkin menolak kenyataan yang ada. Namun, ia berusaha tenang mendengar penjelasan Zayn, meski dengan wajah tertunduk menjatuhkan air mata tanpa henti.


"Pernikahan kita memang tidak ada yang menginginkan." ucap Zayn semakin membuat Rista merasa sangat sakit.


"Maafkan aku, Rista. Aku hanya terus berusaha menjadi yang terbaik untuk kalian. Tapi, semua tidak bisa merubah apa pun. Calvina tetaplah wanita yang paling aku cintai. Segala usaha telah aku coba menerima kalian, tapi semua tetap tak bisa. Bahkan saat ini Calvina merelakan kebahagiaannya demi kita berdua. Demi kamu dan Restu tetap bersamaku." Rista hanya menggeleng. Entah ia harus menjawab apa ucapan sang suami.


Rista tak mampu lagi berdiri tegak saat ini. Ia terduduk lemas menundukkan kepala. Sekedar menatap wajah tampan sang suami pun tak lagi Rista mampu lakukan.Hatinya semakin nyeri membayangkan kebaikan Calvina yang tak bisa ia balas. Bahkan tak seimbang dengan apa yang ia lakukan selama ini pada wanita itu.


Sedih membayangkan hidupnya yang masih mendapat sisi prihatin dari wanita yang sudah ia jahati. Sementara melepaskan Zayn bukan salah satu pilihan yang ada di dalam pikiran Rista.


"Tidak. Aku tidak akan mengalah demi dia. Itu pilihannya. Dan ini adalah pilihanku." gumam Rista menggelengkan kepala berbicara dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2