
..."Ada banyak suka dan duka dalam hidup. Tinggal bagaimana kita menyikapinya."...
...-Aurra Putri Haidan-...
...BSJ 97 : (Epilog) ...
...***...
Empat tahun kemudian.........
"Ayyah, mau-itu..."
"No, itu tidak sehat nak."
"Ayah, mau itu..."
"Tidak abang, ingat. Bunda ngelarang abang makan saus banyak banyak, nanti perutnya sakit."
"Kok, gitu?
"Ayah, Ayah mau telull isi coklat itu...."
"Ayah, abang mau petty kayak di flim spongebob."
"Ayah..."
"Tidak Arra!"
"Ayah, mau itu, itu."
"No, bang."
Kedua bocah berusia empat tahun bersweeter karakter yang asik berjalan kesana-kemari, tanpa mengindahkan perintah ayahnya. Membuat sang ayah sesekali menghembuskan nafasnya lirih.
"Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi."
Panggil sang ayah.
Gadis kecil itu menoleh takut takut. Ia bisa membedakan, mana panggilan yang bermakna kemarahan di dalamnya.
"Mau nata de coco ini ayah...." Ujarnya dengan pelapalan yang masih cadel.
Sedangkan sang kakak masih santuy membolak balik minuman cup dihadapan rak yang menjadi tempatnya berdiri.
"Arrsyad An-nass Senopati Az-zzioi." Bocah tampan itu menoleh refleks.
"Mau ini ayah...." Jawabnya polos.
Pria yang masih berseragam TNI lengkap itu tersenyum tipis, ditengah tengah kepeninganya. Pulang-pulang dari kesatuan, bukanya dapat makan siang enak bersama istri dan anaknya. Eh, malah disuruh belanja bersama kedua buah hatinya.
"Sayang, anak-anak ayah yang pintar dengar dulu ya." Ujarnya sambil berjongkok disamping kedua buah hatinya.
"Ingat pesan bunda, jangan jajan yang mengandung apa nak?" Tanyanya sambil menatap kedua buah hatinya.
"Mmmsss, ms apa itu ayah?" Bingung putrinya, pria itu hanya tersenyum tipis sebagai jawabanya.
"Abang?" Iya beralih kepada sang putra yang masih sibuk dengan minuman ditanganya.
"Hm, MSG, pemanis buatan, pewarna sintestis, Ayah." Jawabnya stay cool, ala bocah ala kadarnya.
"Bukan pewarna sintesis tapi perwarna buatan bang." Ujarnya membenarkan. "Ingat, bunda selalu bilang buat chak apa?"
"Logo Bulat yang ada tulisan alabnya." Ujar sang adik menjawab.
"Pintar, apa lagi nak?"
"Bpom." Jawab si sulung mengejah.
"Pintar, itu artinya kalian tidak boleh jajan sembarangan."
"Tapi kenapa ayah?" Tanya keduanya lucu.
"Karena, nanti perut Arsyad dan Arra sakit kalau jajan sembarangan." Ujarnya sambil tersenyum tipis. "Abang sama Arra mau perutnya sakit?"
"Enggak ayah, cakit pelut itu atittt, Alla gak mau." Ujar sang putri menggeleng tegas.
"Abang?"
"Abang mau susu kotak yang ada gambar sapinya." Jawab sang putra sambil mengembalikan minuman cup di tanganya.
"Good boy." Ujarnya sambil mengusap rambut hitam milik putranya.
"Yasudah, siapa yang mau beli susu kotak yang ada gambar sapinya?"
"Abang?"
"Arrra?!"
"Anak pintar." Ujarnya sambil tersenyum lalu menuntun kedua buah hatinya, menuju rak berisi susu kotak khusus anak anak.
"Huahhh, mieee miee miee dadddyy...." Perhatian pria tersebut teralihkan.
Kepada seorang pria berjas rapi yang tengah menggendong putri kecilnya.
"Tidak boleh little grils, nanti mommy marah hm?" Jawabnya santai.
Walaupun ia akui, sulit untuk menenangkan putri kecilnya yang tengah mengamuk karna ingin membeli mie instant tersebut.
"Mieee, daddy. Ale mau miie daddy..." Rontanya makin menjadi jadi.
"Ssttt, little princes tidak boleh menangis. Nanti little prince tidak akan suka."
"Benelan daddy?" Tangis gadis mungil itu terhenti seketika.
"Of course."
"Why?" Bingung si kecil yang terlihat berkaca kaca kembali.
"Karena little princesnya daddy menangis. Little prince tidak akan suka."
Gadis mungil itu kembali berujar dengan suara cadelnya. "Tapi, Alea tidak cuka kalau pañgelan tidak datang."
"Oleh karena itu, little princess tidak boleh menangis. Tidak boleh makan mie, nanti perutnya sakit. Kepalanya pusing, tenggorokanya sakit seperti waktu itu. Mau?"
Gadis mungil berdress pink semu itu menggeleng mantap dalam pangkuan ayahnya.
"Ale tidak mau cakit..."
"Good grils..." Bangganya, sambil tersenyum tipis kala mencium pipi gembul milik putrinya.
"Bang, sudah belanjanya?" Panggil pria berseragam TNI tersebut.
"Hm, Alea tadi nangis pengen mie. Pasti karena dulu mommy-nya ngidam makan ind*mie goreng di makam pahlawan gak kesampean."
Gerutu pria berjas tersebut.
"Suruh siapa tidak dikabulkan, untung-untung Alea gak ileran."
"Ayah, apa itu ilelan?" Tanya putrinya.
"Hm, nanti Arra juga tahu nak." Ujarnya sambil tersenyum tipis.
"Arkan mana Van?" Tanya pria tersebut.
Si empunya nama menengok ke kanan dan ke kiri. Mencari cari sosok tersebut.
"Tidak lihat bang." Ujarnya.
"Yasudah, kita tunggu di kasir. Nanti Alea keburu pengen mie lagi."
"Mie daddy?" Ujar putrinya tersebut membuka suara.
"Bukan little princess, tadi daddy salah bicara."
Dalihnya.
"Ouwh, Alea mengelti." Ujar gadis kecil itu sambil sibuk dengan sekantung biji kuaci rasa original ditanganya.
"Yuk, kita tunggu di depan sayang."
"Okay ayah." Jawab dua bocah kembar tersebut.
Hari ini, weekend di penghujung bulan dimana seharusnya mereka libur kerja. Tetapi karena terlalu sibuk, mereka bahkan mengorbankan Quality time bersama keluarga kecil mereka. Jadinya, saat pulang disiang hari mereka malah diberi banyak wejangan dari para istri yang tengah berkumpul.
"Mieee lemoniyo papahhh...."
"Yuppiee pahhh..."
"Masmellow piihhh..."
Celoteran tiga bocah kecil tersebut menggema dimana-mana. Membuat pria berkemeja maroon tersebut pusing tujuh keliling dibuatnya.
"Davin, Davian, Davino, jangan lari lari...."
Lirihnya frustasi.
__ADS_1
Tiga bocah lelaki berusia dua tahun tersebut tetap berlarian kesana kemari. Terlihat lucu, apalagi si kembar tiga itu mengenakan kaos minoins berwarna kuning yang sama.
"Hey son, jangan buat papa pusing!" Kesalnya.
Si kembar langsung berhenti dilangkahnya. Menatap sang ayah yang mereka tebak entah kenapa. Tanganya terus memijat pelipisnya, sedangkan bibirnya terus menggerutu tak jelas.
"Davin, Davian, Davino, jangan membuat papa pusing nak. Kalian mau papa ajak ke Disneyland Singapura kan?"
"Iya papah." Jawab ketiganya antusias.
Pria tampan tersebut tersenyum miring, gampang memang membujuk ketiga putranya ini.
"Ok, tapi kalian harus janji dulu sama papah."
"Janji?" Tanya ketiganya dengan pelapan cadelnya.
"Jangan berlarian, ambil snack yang biasa mamah beli ya. Ayo boys!" Ujarnya yang langsung diangguki oleh ketiga buah hatinya.
Tiga bocah lucu yang sudah aktif berlari itu berpencar, membuat si ayah memijit pelipisnya pening. Lima belas menit kemudian, ketiganya ditemukan tengah berebut sebuah snack gandum.
"Hey boys?!"
"Punyaku!"
"Punya abang!"
"Punya adek!"
Arkan-pria tampan itu menghela nafas lemah.Ia benar benar pening jika disuruh mengurus ketiga buah hatinya. Kalau bisa, ia ingin mengajukan bendera putih saja.
"Ssstt, jangan rebutan okay?" Ujarnya melerai.
"Ini, satu bungkus untuk semua. Deal?" Ujarnya ketika ketiga putranya masih menatapnya intens.
"Okay deal." Ujar ketiganya gembira dengan suara cadel khasnya.
"Huft, tujuh puluh lima menit hanya untuk membeli satu bungkus snack gandum." Gumamnya frustasi.
Arkan pun langsung menggiring ketiga putranya untuk menuju kasir. Ia yakin, para ayah muda sepertinya lebih memilih bekerja keras dikantor ketimbang mengurus anak. Ribet sekali, bawaanya bikin emosi.
"Ini saja pak?" Tanya kasir.
Arkan terseyum canggung, ia pun berinisiatif bertanya lagi kepada ketiga buah hatinya.
"Hm, kalian mau beli snack yang lain boys?"
Ketiganya menggeleng mantap.
"Cukup papah, kata mama jangan jajan banyak-banyak. Mumbajil!" Ujar si sulung mewakili dengan suara cadelnya.
Si mbak kasir sampai tersenyum tipis saat melihat jawaban bocah menggemaskan tersebut.
"Good boys!" Ujar Arkan sambil tersenyum bangga.
"Sudah mbak, itu saja." Ujarnya sambil menyodorkan black card miliknya.
Keluar dari area minimarket, Arkan langsung menggiring ketiga buah hatinya menuju tempat rehat yang tersedia di depan minimarket. Disana ia bisa melihat kakaknya tengah beristirahat. Arkan sudah bisa menebak, pasti kakak kakaknya itu sama gusarnya dengan dirinya. Mereka nampak tengah menjaga putra putrinya pula.
"Bang." Lirihnya, saat ikut mendudukkan dirinya disana.
"Sudah belanjanya?" Arkan mengangguk mantap.
Ia membiarkan si kembar bermain dengan saudara saudaranya, di area bermain anak yang ada didekat sana. Sedangkan ia dan para Ayah duduk mengawasi dari sini.
"Capek bang!" Keluhnya.
"Sama, saya juga." Jawab pria berjas formal disampingnya.
"Hu'um, apalagi mereka aktif banget bang.
Bang Anzar sih cuma satu, akuloh triple?!"
Anzar nama terkekeh kecil. Dulu ia yang ngebet sekali kepingin bayi triple. Tapi kenyataanya Allah memberikanya putri cantik untuknya untuk melengkapi hidupnya. Ternyata jika dilihat lihat, perkataan istrinya kala itu benar. Mengurus bayi triple itu ternyata tidak gampang. Contohnya saja adik bungsunya, mereka yang tidak berencana memiliki baby triple ternyata diberi anugrah tersebut.
"Capekkan?"
Arkan menjawab dengan anggukan lemah.
"Iya, mendingan meeting seharian plus lembur kerja dari pada harus ngurusin si kembar."
"Good, aku juga." Jawab Anzar setuju.
"Kalau saya, jawabanya ya lebih memilih ngurus si kembar." Timpal pria tampan berseragam TNI tersebut.
"Maksud bang Van'ar? Ngurus si kembar itu susah loh bang."
Pria tampan itu tersenyum tipis.
"Ranjau darat?" Bingung Anzar.
"Wihh, abdi negara mah beda pengibaratanya!"
Kekeh Arkan kecil.
"Mengurus anak anak itu ibaratnya seperti menjinakan ranjau atau peledak. Harus dengan kesabaran, keuletan dan ketelatenan yang extra. Salah salah, nantinya akan berdampak buruk kepada kita atau dimana depan si anak."
Tuturnya sambil menatap kedua buah hatinya yang tengah bermain.
"Saya lebih memilih mengurus anak anak dan berada di rumah seharian, ketimbang bekerja. Setidaknya dengan itu saya bisa ambil bagian dalam mendidik buah hati kami." Ujarnya lagi.
"Wih, bapak-able mah beda pemikiranya. Luas, kayak samudra." Ujar Arkan sambil tersenyum tipis.
"Iya, kita-" Ujar Anzar terpotong oleh suara getaran dihandphone miliknya.
Derrtt
Derrtt
'My Wife, My Irra💖' nama kontak yang tertera disana. Anzar tersenyum sumringah sambil menggeser ikon hijau diatas layar handphone miliknya.
"Hallo, ***-"
"WAALAIKUM SALAM, MAS SAMA ALEA DIMANA?? KOK BELUM PULANG PULANG JUGA?!"
"Iya, ini kita-"
"PULANG SEKARANG, ATAU GAK ADA JATAH MALAM INI?!"
Glek
"No, tidak boleh seperti itu sayang." Lirih Anzar tak suka.
"Pulang sekarang, masa beli kuaci doang nyampe dua jam!"
"Iya, mas pulang sekarang-"
Tut
Tut
Tut
"Waalaikum salam." Lirihnya saat sambungan terputus tiba tiba.
"Kenapa bang, lesu gitu mukanya?" Tanya Arkan penasaran.
"Itu-"
Derrt
Derrt
'Aisyah tercinta💕' Arkan mengalihkan pandanganya sejenak. Ada panggilan yang lebih penting dari istri tercintanya.
"Bentar dulu bang, bidadariku telpon." Bisiknya sambil menekan tombol hijau di layar handphonenya.
"Assalamualaikum, Ai-"
"Waalaikumsalam mas, kenapa si kembar dibiarin main panas panasan?" Seobot suara disebrang sana.
Arkan menghela nafas sejenak, pasti ada yang melaporkan aktivitasnya kini.
"Ai-"
"Si kembarkan kemarin baru sembuh, demam. Ingat gimana repotnya?!"
"Iya, Ai. Mas ngerti, tapi-"
"Pulang, atau nanti malem tidur diluar."
Deg
Arkan terpaku di tempatnya.
"Assalamulaikum." Ujar suara di sebrang sana memutuskan kontak.
"Ai, Ai, hallo?" Panggilnya, namun nihil. Panggilan sudah terputus dari sebrang.
"Dimarahin Ar?" Arkan mengangguk lemah.
__ADS_1
"Sama, Irra juga marah marah barusan."
Keluh Anzar lirih.
Van'ar hanya tersenyum tipis mendengarnya. Tak lama kemudian, handphone miliknya juga bergetar. Menandakan sebuah panggilan masuk dari kontak bernama 'Bumu❤'.
"Bang, hati-hati. Nanti dimarahin juga!" Intruksi Arkan.
"Loadspeakers, mau tahu gimana Aurra marah Van?" Celetuk Anzar.
"Iya ya, mbak Aurra kan gak pernah marah."
Monolog Arkan.
Van'ar tersenyum tipis sambil menekan tombol hijau diatas layar. Tak lupa, ia juga menekan ikon untuk meloudspeaker suara.
"Hallo, Assalamualaikum mas?" Ujar suara disebrang sana.
"Kok lembut begini?" Bingung Anzar dan Arkan.
Padahal tadi istri mereka menelpon sambil marah marah. Mereka juga tahu, para istri itu tengah berada di mansion Radityan. Lantas, apa yang membuat istri mereka marah sedangkan Aurra biasa biasa saja?
"Waalaikumsalam, iya. Kenapa dek?"
"Si kembar gak rewel mas? Gak jajan sembarangan kan?"
Van'ar tersenyum tipis sebelum menjawab.
"Tidak dek, mereka alhamdulillah anteng."
"Alhamdulillah. Hm, begini mas." Suara di ujung sana sempat ragu.
"Iya kenapa dek?"
"Hm, soal hadiah dari Didi Aurra pikir Aurra mau."
Senyuman tipis Van'ar kembali terbit.
"Kamu yakin dek?"
"Iya mas."
"Yasudah, nanti kita bicarakan lagi di rumah ya dek."
"Iya mas, kalau gitu Aurra tutup dulu telponnya."
"Hm."
"Cepat pulang ya mas, makan siangnya sudah siap."
"Iya dek."
"Assalamualaikum, mas."
"Waalaikum salam, dek." Ujar Van'ar sambil memutuskan sambungan telponýa.
Aurra tidak pernah memutuskan sambungan telponya terlebih dahulu. Van'ar sudah hafal betul kebiasaan itu, jika ditanya jawabanya adalah karena Van'ar adalah imamnya yang perlu dihormati dalam segala hal. Manis bukan, Van'ar saja sampai speechless mendengarnya.
"Woah, mbak Aurra kok gak marah?" Tanya Arkan penasaran.
"Aurra memang punya cara berbeda untuk mengekspreaikan kekesalanya, salah satunya dengan cara memperbanyak istigfar."
"Subhanallah, pantas saja dulu bang Aksara sampe susah move on." Celetuknya sambil terkekeh kecil.
Van'ar menatap tak suka kapada perkataan Arkan barusan. "I-itu memang fakta kok bang."
Cicit Arkan kecil.
"Kalian mau kemana Van?" Tanya Anzar menyela.
"Umrah?" Ulang Anzar dan Arkan bersamaan.
"Iya, hadiah Anniversary ke-5 dari Ayah Dimas. Kami akan umroh berempat."
Ujarnya.
"Woahh, kado yang subhanallah itu." Ungkap Arkan.
"Iya, itu-"
Derrtt
Derrtt
"Astagfirullah, Ayo cepat kita pulang bang. Sebelum perang kembali terulang." Ujar Arkan saat membaca sebuah chat singkat dari sang istri.
"Iya, Ayo." Timpal Anzar menyetujui.
Sementara itu, tiga istri di mansion Radityan tengah mengobrol riang. Ada Airra, Aurra dan Lunar. Di tambah kedatangan satu orang lagi, yaitu By yang baru saja tiba dengan suaminya.
Hari ini, ada reuni kecil kecilan dimansion Radityan. Arkia-adalah sosok yang menggagas acara pertemuan kecil kecilan ini. Setelah kepergian Ibra, Halim juga Salma selama dua tahun kebelakangan secara berturut turut.
Kini, suasana mansion akan kembali berwarna dan ceria.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Apalagi saat para suami membawa buah hati mereka kembali. Arkia tersenyum gembira, saat melihat cucu cucunya kembali memenuhi pandanganya. Gelak tawa nampak menyambut ķedatangan putra dan menantunya. Ada Airra yang datang datang mengocehi suaminya, ada pula Lunar putrinya yang langsung menyambut ketiga putranya. Membuat semua mata yang menatapnya tersenyum tipis. Lain halnya dengan Putra yang kedua, datang datang langsung di sampung saapaan hangat dari istri tercintanya-Aurra.
"Omaaa..." Panggilan para sikecil yang berlarian kepadanya.
Setidaknya, kini semua bisa tersenyum senang dihari bahagia ini. Termasuk Arkia dan Vano saat melihat putra putrinya telah bahagia dengan pasanganya masing masing. Masalah jodoh tidak akan salah, apalagi tertukar. Allah telah menentukan jodoh kita yang telah tertulis dilauh mahpudz-Nya. Jodoh tidak datang terlambat, atau terlalu cepat. Mereka datang di waktu yang tepat, hanya saja terkadang proses terasa begitu menyulitkan.
---THE END---
Keevanzar Radityan Al-faruq ♡ Airra Refatya Sassya
- Alea Ananta Rumi-
(seorang pemimpin yang cerdas dan rendah hati.)
Keevan'ar Radityan Az-zzioi ♡ Aurra Putri Haidan
-Arrsyad An-nass Senopati Az-zzioi
& Arabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi-
(Arasyad Manusia bersih berperan tinggi/berposisi tinggi putra bermarga Az-zzioi.)
Cantik,berpandangan luas,cahaya kemerahan yang tersayang putri bermarga Az-zzioi)
Arkana Hadijaya Prameswari ♡ Lunarsyah Azzahra Az-zzioi
Davin Anrsyed di Prameswari
Davian Arion de Prameswari
Davino Aroon dee Prameswari
Aksarana Hadijaya Prameswari ♡
Queenby Azizah Luthears
-Princella Anna Prameswari
Kaisar Zega Redadgard AlHaidan ♡
Putriyana Ratuliu La-shakira
-Raja Arryan Alhaidan
Q'ueensya Aisyah Luthears ♡ Leonardo Khamr Alex
-Rajast Stefenson Alex
Ezkana Nur'aeni Tasnya Mubaraq ♡ Eirlangga Aga Lhambiru
-Awan Aga Lhambiru
-Langit Agasta Lhambiru
Selamat pagi readers🤗🤗
Maaf baru bisa update, soalnya didunia nyata aku lagi banyak tugas. Maaf jika endingnya tidak sesuai sama kalian😌
Buat Sequel selanjutnya, nanti aku pikirkan lagi. Sekarang, aku lagi banyak tugas di dunia nyata.
Uwahh, tencu buat readers semua yang sudah setia dalam menemani perjalanan Novel BSJ ini💖Tencu buat semua readers, yang masih selalu setia menunggu. Ok, thanks pokoknya untuk semuanya.
Jumpa lagi, novel berikutnya❤
...'Black Brother is Good Papa!'...
__ADS_1
Sukabumi 5 Agustus 2020