
..."Mungkin tuhan punya jalan takdir sendiri. Maka dari itu, kita bertiga dipertemukan dalam keadaan yang amat pelik ini."...
...-Aurra Putri Haidan-...
...BSJ 50: Ditampar Oleh Fakta...
...◇◇◇◇...
Semilir angin pagi menyambut dorongan kursi roda tersebut. Senyumnya mengembang, saat untuk pertama kalinya ia di perbolehkan keluar ruangan inapnya setelah berbulan bulan lamanya ia mendekam di sana. Hilir mudik para manusia yang beraktifitas di sekitar rumah sakit kini menjadi pemandanganya. Di bawah pohon rindang, di taman rumah sakit yang menjadi pertemuanya untuk ketiga kalinya dengan gadis bercadar itu. Dia memilih menghentikan laju kursi rodanya, mengintruksikan kepada sang suster untuk meninggalkanya sendiri untuk sejenak. Orang tuanya tidak tahu ia keluar dari ruanganya, namun dokter pribadinya memperbolehkanya asalkan ditemani suster.
Bayang bayang masalalu selama ia koma selalu menghantuinya. Tentang penghianatan yang berujung percobaan pembunuhan. Mengingat itu hatinya tersayat, dari segala kepunyaanya wanita itulah yang amat di banggakanya. Tetapi nyatanya, dia hanya mendapatkan barang bekas loakan. Mungkin ini karma dari segala kelakuan buruknya, dari banyaknya air mata yang tumpah karenanya.
Mulai detik ini ia bertekad, akan membangun segalanya dari nol. Termasuk asmaranya, mengingat ada satu sosok yang menarik perhatianya akhir akhir ini. Ya, Anzar akan membangun kembali kerajaan bisnisnya dari nol, barulah ia akan membalas apa yang pernah pria bernama Logan Gallion Smith Andderson itu berikan kepadanya. Ia berjanji, mantan ketua mafia itu akan segera mendekam di penjara. Sedangkan Nata-mantan kekasihnya itu akan ia perlihatkan bagaimana rasa tersakiti yang selama ini ia rasakan.
Semilir angin pagi kembali membelai lembut wajah tampannya. Kini tubuhnya tidak profosional lagi seperti dahulu. Rambutnya tak terawat hingga memanjang, bulu bulu tipis tumbuh di sekitaran rahang kokohnya. Tubuhnya kurus kering, tidak ada lagi six pack kebangganya, yang ada hanyalah beberapa goresan jahitan benang pasca operasi. Kakinya belum bisa digerakan secara normal, kruk masih tertahan di sebelah tanganya.
"Hm." Desahan kecil keluar dari bibir kisabble pucatnya. Hidupnya terlalu pelik sejak masih kecil, mungkin sejak dari bayi.
Ia menjadi rindu saat saat di mana dirinya dirindukan kepulanganya. Di sambut dengan hangatnya oleh keluarganya sendiri. Namun kini, semuanya berubah karena kehendak ilahi dan direalisasi oleh diri sendiri.
Tiga bulan jatuh koma, kini terasa ada banyak perubahan yang terjadi. Pria tampan itu menoleh kearah kanan, saat ada sebuah objek menarik perhatianya di bangku taman berjarak beberapa meter darinya. Di sana,ada seorang perempuan berpakaian rumah sakit juga di lapisi blazer putih dengan kerudung longgar dan penutup hijab. Duduk sendiri di bawah rindangnya pepohonan, sambil memegangi tiang infuse.
"Lunar bohong?" Batinya, pasalnya gadis yang menolongnya itu belum keluar dari rumah sakit.
Senyum bahagia terbit di bibirnya, dengan perlahan tapi pasti ia menggerakan kursi rodanya. Mendekat kearah perempuan yang tengah membaca buku bersampul pink tersebut.
"Hm, selamat pagi." Sapanya kikuk.
"Selamat pagi." Jawab wanita berhijab syar'i tersebut.
Anzar tahu, wanita itu terkejut akan kehadiranya.
"Mas-yang di rawat di ruang VVIP lantai empat kan?" Tanyanya lirih.
Suara lembut yang mampu mengetarkan gendang telinga lawan bicaranya.
"Iya. Yang kamu tolong waktu itu." Jawab Anzar sambil mengulum senyumnya.
Ia tak pernah menyangka, bertemu dengan wanita ini lagi akan membuat dirinya amat bahagi. Ah lupa, nama. Dia tidak akan lupa untuk menanyakan namanya kali ini.
"Mas sendirian saja?" Tanyanya lembut sambil menyimpan buku yang dibacanya, di kursi yang kosong di sampingnya.
"Hm, saya bosan terus menerus berada di ruangan saya."
"Iya, saya juga bosan." Jawab wanita cantik itu sambil menatap jalan yang lumayan jauh dari jangkauanya.
"Apa, kamu terluka parah sampai harus badrest?" Tanya Anzar sambil menoleh kearah lawan bicaranya.
"Tidak, alhamdulillah saya cuma luka sedikit. Tapi nyawa lain hampir melayang." Ujarnya lembut.
Anzar tahu wanita di sampingnya itu tersenyum kecil di balik penutup hijabnya. Dari tubuhnya yang mungil, Anzar bisa menebak usianya pasti di kisaran 18 hingga 20 tahun. Dia terlihat sangat muda, jauh dari usianya.
"Nyawa lain, apa ada yang terluka lagi?"
Bingung Anzar, setahunya waktu itu ada tiga orang yang terluka di ruanganya. Dua orang pelaku dan seorang korban, yaitu wanita di sampingnya.
"Disini." Cicitnya kecil sambil mengelus perut datarnya.
"Dia yang belum saya sadari kehadiranya, hampir meninggalkan saya."
Deg
__ADS_1
Manik tajam Anzar membola saking tak percayanya. Wanita di sampingnya tengah mengandung? Berarti kemungkinan besarnya dia sudah menikah bukan?
Anzar beralih menatap jemari mungil yang tengah mengelus permukaan perut datarnya. Ah, hatinya menceleos saat melihat sebuah cincin bertahtakan berlian tersemat di jemari manisnya dengan apik. Bahkan di jemari tangan kananya ada cincin lainya yang tak kalah cantik tersemat di sana. Baru saja Anzar ingin berharap lebih, namun kenyataan menampar dirinya. Hatinya yang sudah siap berjuang, harus kandas di perempatan jalan. Ah, sakitnya perjuangan patah di tengah jalan ini.
"K-amu, hamil?" Tanya Anzar kikuk.
Ia tahu wanita di sampingnya itu tersenyum kecil di balik penutup hijabnya. Selanjutnya sebuah angguka menjadi jawaban dari pertanyaanya.
"Berapa usia kehamilanmu?"
"Baru empat minggu. Hm, dia masih seukuran biji kecambah mungkin." Ujar wanita disampingnya kecil.
Hah, Harusnya Anzar belajar dari petuah sahabatnya dahulu. Jika perempuan baik yang selalu menutup auratnya itu seperti barang antik yang berharga, bukan cuma langka tapi juga bernilai tinggi. Lamban sedikit saja, pastinya sudah sould out. Apakah mantan calon istrinya juga sudah menikah ya? Pikirnya menerawang sejenak.
"Dek." Hingga suara bass berat mampir ke gendang telinganya. Mengejutkan mata dan hatinya.
"Mas." Lagi, keterkejutan itu bertambah saat wanita di sampingnya memanggil pria yang lebih muda lima tahun denganya itu dengan sebutan 'mas'.
"Mas kenapa lama, baby-nya haus dari tadi?"
Deg
Rasanya ada tamparan tak kasap mata yang kembali menamparnya. Mencek*k kuat tepat di ulu jantungnya. Ada hubungan apa antara wanita yang tengah di perjuangkanya, dengan adiknya ini.
"Kenalkan mas, ini suamiku."
Deg
Ahk, Anzar hampir saja terkena serangan jantung dadakan saking terkejutnya. Wanita yang tadinya amat membuatnya berbunga dan berharap adalah istri adiknya, yang notabenenya adik iparnya. Berarti, wanita itu juga tengah hamil calon keponakanya?
"Mas, ini mas mas yang di rawat di ruangan VVIP lantai empat itu." Ujarnya ramah, sambil menoleh kearah sang suami.
"Maaf, ayah membuatmu menunggu nak." Ujarnya lembut.
Ribuan belati terasa menusuk hati pria yang tengah duduk di kursi roda tersebut. Berulang kali ia ditampar oleh kenyataan dan fakta. Fakta tentang wanita yang menarik perhatianya ternyata telah menikah. Kenyataan jika suaminya adalah adiknya sendiri. Fakta jika benih yang tengah dikandung wanita itu adalah calon keponakanya. Hiks, Anzar sungguh bisa terkena serangan jantung mendadak.
Van'ar pria tampan itu tadinya memang menemani sang istri untuk jalan pagi diluar kamar inapnya. Tetapi karena istrinya haus, jadilah ia pergi kekantin terlebih dahulu.
Anzar yang sedari tadi hanya bisa melihat interaksi keduanya, tersenyum kecut.
Kemanakah dirinya selama ini, adiknya menikah saja ia tidak di beritahu. Ah mungkin ia yang tidak tahu, ia juga sempat mendengar berita tentang keluarganya di televisi, namun ia enggan mengetahuinya kala ini.
"Abang sendirian saja disini?" Tanya Van'ar, sambil berdiri di hadapan istrinya.
"Mas kenal sama mas mas ini?" Tanya sang istri bingung.
Van'ar tersenyum kecil, sebelum mengambil posisi duduk di samping sang istri. Mengecup pucuk kepalanya singkat namun penuh kasih sayang. Memperingatkan secara tidak langsung jika wanita ini miliknya, cintanya. she's mine, brother.
"Mas ihh, malu." Cicit sang istri kecil sambil menenggelamkan wajahnya di dada bidang milik suaminya. Van'ar hanya tersenyum kecil melihatnya. Lain halnya dengan ekspresi pria di hadapanya.
"Kebetulan kita bertemu di sini bang, dek ini bang Anzar kakak mas."
Deg
Wanita cantik itu mendongkrak refleks, menatap langsung ke arah manik suaminya. Mencari secuil kebohongan namun nihil. Kini tatapanya beralih kepada pria yang duduk di kursi roda.
"Mas, kamu bohong 'kan?" Tanyanya tak percaya kepada sang suami.
"Tidak dek." Jawab Van'ar lembut sambil mengenggam jemari mungil sang istri.
"Bang, ini Aurra Putri Haidan istriku. Adik iparmu juga."
__ADS_1
Deg
Dari fakta fakta yang berhasil menamparnya, fakta inilah yang paling menohok hatinya. Membuatnya sesak napas seketika, karena jantungnya seakan akan berhentik berdetak. Nama itu tentu tidak familiar lagi di telinganya. Itu nama yang sama dengan nama calon istrinya yang ia tolak waktu itu. Calon istrinya yang ia putuskan khitbahnya secara sepihak.
"Mas, ini-"
"Iya dek, ini abangku Anzar."
Aurra mematung seketika, terlalu banyak drama rasanya. Berulang kali ia menolong sosok yang ternyata telah mematahkan hatinya berulang kali. Takdir Allah memang indah, sehingga ketiganya dipertemukan dalam keadaan pelik ini. Keheningan menyelimuti ke tiganya, tak ada yang angkat bicara. Hingga sebuah cicitan kecil menarik perhatianya.
"Mas, perutku sakit." Van'ar tersentrag, langsung saja ia menatap raut kesakitan di mata cantik sang istri.
"Kita kembali keruanganmu ya dek, ayo."
Dengan cepat pria tampan itu meraih tubuh mungil sang istri. Membawanya ala bridal style, dengan tangan sang istri meraih tiang infuse miliknya. Meninggalkan Anzar yang masih termenung tanpa suara di sana sendirian.
"Hah, takdirmu untukku begitu indah tuhan."
Gumam pria yang masih duduk di sana tanpa beranjak sedikitpun.
Air matanya luruh tanpa di minta. Hatinya terlalu sakit berulang kali ditampar oleh kenyataan. Biarlah ia di bilang cengeng, namun memang benar adanya. Hatinya hancur berulang kali. Ia dikhianati, nyawanya diincar pembunuh bayaran, satu persatu keluarganya meninggalkanya, asmaranya kandas tak tentu arah, hidupnya tak berharga lagi. Sedari kecil ia lahir karena tak terencana, hidup jauh tanpa peranan sang ayah dalam lindungan sang bunda. Namun dewasanya, ia malah menyakiti sosok yang dulunya amat menyayanginya, melindungi dirinya segenap jiwa dan raganya.
Seakan tahu dengan keadaan hati, hujan turun membasahi dumi dengan derasnya. Cuaca yang tadinya cerah tiada tara, kini dipenuhi awan kumolonimbus hitam yang menghujani bumi. Saat orang lain berlari untuk berteduh, ia hanya bisa berdiam diri. Jangankan berlari, berdiri saja ia tidak mampu. Ia dengan segenap hati membiarkan air hujan membasahi tubuhnya.
Menyamarkan air mata yang jatuh setelah berpuluh puluh tahun lamanya tak menetes.
Kenyataan hidup terlalu pahit untuknya. Bagaimana ia bisa hidup seatap dengan adik ipar yang notabenenya adalah mantan calon istrinya. Belum lagi apa kabar dengan hati yang sudah terpikat olehnya. Tuhan mulai menghukumnya kini, mengembalikan wujud nyata mutiara berharga yang dulu ia tolak demi barang bekas. Ia ditampar oleh begitu banyak fakta, sampai sampai rongga dadanya sesak saking tak kuatnya menahan lara.
Tubuhnya mulai menggigil, di saat mandi saja ia belum di izinkan. Kini jutaan rintik hujan yang deras mengenai tubuhnya. Menekan luka menganga di sana sini. Menambah kesan lara di hati yang membekas nan menganga.
"Tuan muda, anda tidak apa apa?"
Sayup sayup ia bisa mendengar suara yang kentara akan kecemasan mendekat kearahnya.
Seorang wanita berpakaian khas perawat datang tergesa gesa dengan payung hitam besar di tanganya. Berjongkok di hadapanya, menepuk pelan pipi dingin Anzar.
"Maafkan saya tuan muda, saya ceroboh."
Ujarnya kalut sambil buru buru mengeluarkan benda mungil berbentuk bulat. Digenggamkanya benda itu kepada tangan Anzar. Hangat, Anzar bisa merasakan esensi hangat dari benda bulat lembut tersebut.
"Maafkan saya tuan muda, sekarang kita kembali keruangan." Ujarnya penuh kecemasan sambil mendorong kursi roda milik Anzar.
Ia tahu perawat itu kesulitan, namun dengan berbagai upaya ia berhasil membawa Anzar hingga ke ruanganya.
Belum sempat ia melihat sosok perawat itu lagi, kontrol dirinya mulai melemah. Sayup sayup ia mendengar suara tamparan mengenai pipi seseorang, diiringi bentakan kepada seseorang pula. Anzar tidak tahu siapa pelaku dan korban tamparan itu, karena hal berikutnya kesadaranya sudah terenggut. Berganti dengan kegelapan yang menjemput.
◇◇◇◇
To Be Continue
Pagi cemuaaa😊😊
Maaf semalam gak jadi up,soalnya jaringanya gak mendukung. Hayooo,gimana sekarang?
Lanjut sakitin Anzar gak nih? tapi kasian juga ya?? So, jangan lupa like🖒komentar yang banyaaak💬 dan boom vote💯
Kutunggu😊😊
Sukabumi 06 juni 2020
07.04
__ADS_1